ESDM Rilis Atlas Gempa Terbaru, Peta Tanah Kini 10 Kali Lebih Detail

Kementerian ESDM melalui Badan Geologi meluncurkan Atlas Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi dan Atlas Peta Tapak Lokal Edisi Kedua. Atlas tapak lokal edisi baru memiliki resolusi 10 kali lebih rinci, dari grid 300 meter menjadi 30 meter, sehingga karakteristik tanah yang memengaruhi guncangan gempa tergambar lebih detail. Kedua atlas dapat diakses gratis dan menjadi acuan mitigasi serta perencanaan pembangunan.

Oct 24, 2026 - 16:02
Updated: 9 hours ago
0
ESDM Rilis Atlas Gempa Terbaru, Peta Tanah Kini 10 Kali Lebih Detail
ESDM Rilis Atlas Gempa Terbaru, Peta Tanah Kini 10 Kali Lebih Detail

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Geologi resmi meluncurkan dua atlas kebencanaan geologi yang mencakup seluruh wilayah Indonesia. Kedua atlas tersebut adalah Atlas Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi (KRBG) dan Atlas Peta Tapak Lokal Edisi Kedua. Peluncuran berlangsung di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dan diumumkan melalui keterangan tertulis pada Jumat (23/10).

Salah satu yang menjadi sorotan dari peluncuran ini adalah peningkatan resolusi Atlas Peta Tapak Lokal Edisi Kedua. Peta tersebut kini memiliki resolusi 10 kali lebih rinci dibandingkan edisi sebelumnya, yakni dari grid 300 meter menjadi 30 meter. Peningkatan ini memungkinkan variasi kondisi tanah tergambar jauh lebih detail, terutama dalam kaitannya dengan kuat-lemahnya guncangan gempa di suatu wilayah.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot, menekankan pentingnya pemanfaatan peta yang terintegrasi agar seluruh pihak memiliki acuan yang sama dalam mengambil keputusan terkait mitigasi risiko bencana. Menurutnya, integrasi sistem menjadi kunci agar kementerian dan lembaga yang mengambil tindakan mitigasi dapat menggunakan peta yang sama.

"Jadi harapan kami melihat kondisi ini kita bisa petakan di dalam sistem yang terintegrasi. Sehingga siapa pun itu kementerian/lembaga yang mengambil keputusan, mengambil tindakan dalam rangka mitigasi risiko, itu bisa kita menggunakan peta yang sama," ujar Yuliot dalam keterangan tertulis tersebut.

Atlas KRBG sendiri memuat informasi tingkat kerawanan suatu wilayah terhadap bahaya gempa bumi. Penyusunannya mempertimbangkan sejumlah faktor, seperti sumber gempa, katalog kejadian gempa, karakteristik geologi, dan kondisi tanah setempat. Informasi ini dapat menjadi dasar dalam perencanaan tata ruang, pengembangan permukiman, pembangunan infrastruktur, hingga penyusunan langkah mitigasi.

Sementara itu, Atlas Peta Tapak Lokal Edisi Kedua memetakan karakteristik tanah yang memengaruhi respons suatu wilayah terhadap guncangan gempa. Salah satu parameter yang digunakan adalah kecepatan gelombang geser rata-rata hingga kedalaman 30 meter atau average shear-wave velocity (Vs30).

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyatakan bahwa peningkatan resolusi peta dapat mendukung kajian bahaya gempa bumi dan perencanaan pembangunan yang mempertimbangkan kondisi geologi setempat. "Kami berharap atlas ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, akademisi, dan para perencana dalam mendukung pembangunan yang lebih tangguh terhadap gempa bumi," tuturnya.

Kedua atlas tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai referensi awal dalam perencanaan infrastruktur energi, seperti pembangkit listrik, jaringan transmisi, serta fasilitas minyak dan gas bumi. Potensi bahaya geologi perlu diperhitungkan sejak tahap awal agar aspek keselamatan dan mitigasi tetap diperhatikan.

Kementerian ESDM menyediakan akses gratis terhadap kedua atlas melalui Portal Mitigasi Bencana Geologi. Informasi tersebut diharapkan menjadi acuan pengambilan keputusan, mulai dari perencanaan pemerintah daerah hingga pembangunan rumah oleh masyarakat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User