Wamen ESDM Sebut Transformasi Energi RI Sudah di Jalur Benar, Ini Deretan Capaiannya
Wakil Menteri ESDM Yuliot menegaskan transformasi energi Indonesia berada di jalur yang benar menuju kedaulatan energi nasional. Ia memaparkan sejumlah capaian, mulai dari lifting minyak yang melampaui target APBN 2025, program biodiesel B50, rasio elektrifikasi 99,85 persen, hingga 18 proyek hilirisasi senilai Rp618 triliun.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menyatakan bahwa transformasi energi Indonesia saat ini sudah berada di jalur yang tepat. Pernyataan itu disampaikannya dalam Malam Penganugerahan Penghargaan Energi Subroto Tahun 2026 yang berlangsung di Jakarta, Jumat (23/10) malam.
Menurut Yuliot, proses transformasi energi nasional berjalan sesuai arah untuk mewujudkan kedaulatan energi, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, membuka lapangan kerja, serta mendorong kesejahteraan masyarakat. "Transformasi energi Indonesia berjalan di jalur yang benar untuk menuju kedaulatan energi nasional, nilai tambah dalam negeri, penciptaan lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Di sektor minyak dan gas bumi, Kementerian ESDM mencatat capaian positif. Realisasi lifting minyak Indonesia berhasil melampaui target yang ditetapkan dalam APBN 2025, yakni 605 ribu barel per hari. Indonesia mampu merealisasikan lifting minyak sebesar 605,3 ribu barel per hari. Yuliot menyebut capaian ini sebagai hasil yang cukup signifikan selama sembilan tahun terakhir.
Meski demikian, pemerintah tahun ini menargetkan produksi minyak meningkat menjadi 610 ribu barel per hari. Yuliot mengakui masih terdapat sejumlah kendala yang membuat target tersebut belum tercapai. Ia menegaskan pemerintah akan berupaya bersama agar target minimal yang telah ditetapkan dapat diraih.
Di sisi lain, Indonesia telah menjalankan program utama berupa mandatori bahan bakar nabati (BBN) biodiesel B50 pada Juli 2026. Implementasi B50 ini disebut memberikan diversifikasi penggunaan minyak bumi sekitar 310 ribu barel per hari. Saat ini, tingkat konsumsi minyak Indonesia mencapai 1,6 juta barel. Kekurangan pasokan tersebut dipenuhi melalui pengadaan bahan bakar minyak impor, baik crude maupun produk, yang dilakukan berbagai badan usaha.
Untuk bidang ketenagalistrikan, Yuliot menyampaikan rasio elektrifikasi nasional telah mencapai 99,85 persen. Hal terpenting dari elektrifikasi nasional, menurutnya, adalah kemampuan pemerintah memperluas jaringan listrik hingga seluruh desa dapat teraliri listrik. "Sehingga masyarakat tidak ada yang tidak merasakan bagaimana kemandirian energi, dan juga secara hak masyarakat itu bisa terpenuhi, ini merupakan bagian tanggung jawab negara untuk menyediakan energi bagi masyarakat," kata Yuliot.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti upaya pemerintah mendorong 18 proyek prioritas hilirisasi dan ketahanan energi dengan nilai investasi sekitar Rp618 triliun. Sebagian besar lokasi proyek tersebut berada di luar Pulau Jawa.
Yuliot menegaskan pekerjaan besar masih menanti. Pemerintah akan terus berjuang meningkatkan ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan pada impor energi, memperbaiki iklim investasi, serta menjawab tantangan pemerataan dan keandalan pasokan energi secara nasional.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)