Harga Minyak Anjlok ke US$93, Investor Wait and See Jelang Sanksi Baru AS ke Iran

Harga minyak mentah dunia turun lebih dari 1 persen pada awal pekan ini di tengah aksi ambil untung investor menjelang pengumuman sanksi baru AS terhadap Iran. Brent melemah ke US$93,17 dan WTI ke US$85,86 per barel. Pasar juga mencermati kebuntuan diplomasi AS-Iran yang berpotensi mengganggu pasokan minyak melalui Selat Hormuz.

Aug 25, 2026 - 12:19
Updated: 2 months ago
0
Harga Minyak Anjlok ke US$93, Investor Wait and See Jelang Sanksi Baru AS ke Iran
Harga Minyak Anjlok ke US$93, Investor Wait and See Jelang Sanksi Baru AS ke Iran

Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan awal pekan ini. Investor terlihat memanfaatkan momentum untuk mengambil untung di tengah ketidakpastian menjelang pengumuman kebijakan baru Amerika Serikat terhadap Iran.

Mengutip data Reuters, harga minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman berjangka tercatat turun US$1,22 atau 1,29 persen, membawanya ke level US$93,17 per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga melemah US$1,20 atau 1,38 persen ke posisi US$85,86 per barel.

Koreksi ini terjadi setelah kedua kontrak minyak tersebut mencatat penguatan mingguan kedua secara berturut-turut. Pada pekan sebelumnya, Brent dan WTI sama-sama berhasil menguat lebih dari 5 persen, didorong oleh eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan tersebut dipicu oleh kebuntuan dalam pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini turut membatasi kelancaran pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Pasar pun mulai mengantisipasi dampak dari kebijakan Washington yang akan diumumkan.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Senin pukul 14.00 waktu setempat atau 18.00 GMT. Sebelumnya, Bessent mengancam akan menjatuhkan sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump juga telah mengeluarkan ancaman serupa, yakni menjatuhkan sanksi terhadap negara-negara yang masih melakukan perdagangan dengan Iran.

Analis komoditas Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, menilai efektivitas kebijakan AS untuk mengisolasi perekonomian Iran masih belum jelas. "Namun jika langkah AS berhasil sesuai tujuan, kemampuan Iran untuk merespons melalui peningkatan kekerasan menjadi risiko yang semakin besar untuk dipertimbangkan pasar energi," tulis Dhar dalam catatannya.

Di sisi lain, Iran telah mengecam rencana AS tersebut. Meski demikian, Presiden Iran Masoud Pezeshkian masih menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Analis IG Markets, Tony Sycamore, menilai terdapat perbedaan pandangan di antara para pemimpin Iran mengenai cara merespons tekanan AS. Kelompok yang lebih pragmatis cenderung menginginkan de-eskalasi, sementara kelompok garis keras kemungkinan memilih untuk terus melawan hingga akhir.

"Saya pikir pada akhir pekan ini kita akan memiliki gambaran yang baik mengenai pihak mana dalam kepemimpinan Iran yang lebih unggul," ujar Sycamore. Pergerakan harga minyak ke depan akan sangat bergantung pada arah kebijakan AS dan respons Iran, yang berpotensi memicu gejolak baru di pasar energi global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User