Gelombang Besar Migran Maroko ke Ceuta Tewaskan 57 Orang

Sebanyak 57 orang tewas dalam gelombang besar migran Maroko yang mencoba masuk ke Ceuta, Spanyol. Sekitar 50 ribu orang memaksa masuk, memicu peninjauan oleh PM Spanyol dan pengawasan ketat dari Italia dan Prancis. Banyak korban tenggelam saat menerobos perbatasan. Spanyol berencana memulangkan migran ilegal, meski ada putusan Mahkamah Agung yang melarang pengembalian via laut. Disinformasi dan masalah ekonomi disebut sebagai pemicu.

Aug 01, 2026 - 04:32
Updated: 2 months ago
0 0
Gelombang Besar Migran Maroko ke Ceuta Tewaskan 57 Orang
Gelombang Besar Migran Maroko ke Ceuta Tewaskan 57 Orang

Sebanyak 57 orang dilaporkan tewas dalam gelombang besar migran asal Maroko yang berusaha memasuki Ceuta, wilayah otonomi khusus Spanyol di Afrika Utara. Otoritas setempat memperkirakan sedikitnya 50 ribu orang mencoba menerobos masuk ke wilayah tersebut, menyebabkan kewalahan di pos-pos perbatasan.

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, langsung meninjau lokasi kejadian. Gelombang migrasi ini juga memicu Italia untuk sementara memperketat pengawasan perbatasan bagi kedatangan dari Spanyol, sementara Prancis memerintahkan pemeriksaan ekstra di sepanjang perbatasannya dengan Spanyol.

Menurut laporan CNN, banyak korban tewas akibat tenggelam saat kerumunan massa menerobos perbatasan melalui jalur darat dan laut pada Kamis (30/7). Pihak berwenang Spanyol menegaskan akan segera memulangkan mereka yang masuk secara ilegal, meskipun Mahkamah Agung Spanyol baru-baru ini mengeluarkan putusan bahwa migran yang tiba melalui jalur laut tidak boleh dikembalikan ke Maroko.

Pada Jumat (31/7), banyak migran yang memilih kembali ke Maroko atas keinginan sendiri. Ratusan orang terlihat kembali melalui pos perbatasan dan celah pagar. Sementara itu, sebagian lainnya mengaku kesulitan mendapatkan makanan dan tempat bernaung di Ceuta.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol mencatat sekitar 50.000 orang telah melintasi perbatasan sejak Kamis pagi, sementara pemerintah daerah Ceuta memperkirakan jumlahnya mencapai 60.000 orang. Sanchez menegaskan bahwa aksi penyeberangan massal ini merupakan pelanggaran terhadap integritas wilayah Spanyol dan menuding gelombang migran ini dipicu oleh disinformasi yang disebarkan penyelundup manusia pascaputusan Mahkamah Agung.

"Apa yang terjadi kemarin sangat pantas untuk kita kecam dan kutuk sepenuhnya," tegas Sanchez.

Reuters melaporkan bahwa seorang remaja Maroko berusia 16 tahun bernama Ayoub El Abyad mengaku nekat menempuh perjalanan 12 jam menuju Ceuta setelah melihat video migran lain yang menyeberang di Instagram. Video-video tersebut beredar luas di media sosial, membuat banyak pemuda Maroko menganggapnya sebagai kesempatan emas untuk menyeberang.

Masalah ekonomi juga menjadi faktor pendorong utama. Data resmi menunjukkan satu dari empat pemuda Maroko berusia 15-24 tahun tidak sedang menempuh pendidikan, bekerja, atau mengikuti pelatihan. Selain itu, kondisi laut yang tenang pada periode ini memudahkan opsi berenang menuju Ceuta.

Maroko tidak mengakui kedaulatan Spanyol atas Ceuta dan Melilla, dan menganggap kedua wilayah tersebut sebagai wilayah yang "diduduki". Hal ini memicu spekulasi bahwa otoritas Maroko sengaja melakukan pembiaran dan tidak maksimal mencegah penyeberangan tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User