Eisenkot Bergerak di Balik Layar, Lobi Bekas Sekutu Netanyahu demi Gulingkan PM Israel

Kubu oposisi Israel pimpinan Gadi Eisenkot melobi bekas sekutu Benjamin Netanyahu dan kelompok Yahudi ultra-Ortodoks untuk membentuk pemerintahan pengganti. Eisenkot mengklaim ada terobosan di balik layar, sementara Yair Golan menyebut upaya koalisi semakin serius meski Avigdor Liberman tetap menolak bekerja sama dengan partai Arab-Israel.

Nov 07, 2026 - 12:02
Updated: 11 hours ago
0
Eisenkot Bergerak di Balik Layar, Lobi Bekas Sekutu Netanyahu demi Gulingkan PM Israel
Eisenkot Bergerak di Balik Layar, Lobi Bekas Sekutu Netanyahu demi Gulingkan PM Israel

Upaya menggulingkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu semakin intensif. Kubu oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot dikabarkan mulai melobi sejumlah pihak, termasuk bekas sekutu Netanyahu, untuk membangun kekuatan baru di parlemen.

Sejak masa kampanye, Eisenkot disebut berusaha merangkul kalangan sekuler dan liberal di Israel. Langkah itu diambil agar bisa membentuk pemerintahan bersama kelompok Arab-Israel yang perolehan kursinya melonjak pada pemilu Israel kemarin.

Pada Jumat (6/11), Eisenkot mengklaim telah membuat kemajuan dalam upaya membentuk pemerintahan pengganti Netanyahu. Ia berharap segera menerima mandat dari Presiden Isaac Herzog.

"Kami telah membuat kemajuan yang signifikan dan mencapai terobosan secara diam-diam dan bersahaja, dengan banyak hal yang masih berlangsung di balik layar," tulis Eisenkot di X.

Pemimpin utama kelompok kiri Israel yang tergabung dalam blok oposisi, Yair Golan, menyatakan upaya serius tengah dilakukan untuk membentuk koalisi. Ia mengaku lebih optimistis dibandingkan setelah hasil pemilu diumumkan.

"Saya lebih optimis dibandingkan setelah hasil pemilu keluar. Ada kemajuan. Ada keinginan," kata Yair Golan.

Salah satu lobi yang dijalankan kubu oposisi menyasar kelompok Yahudi ultra-Ortodoks. Kelompok ini mulai melunakkan sikap mereka soal wajib militer, sehingga membuka jalan bagi aliansi yang sebelumnya dianggap mustahil.

Pengecualian wajib militer bagi Yahudi ultra-Ortodoks selama ini memicu kemarahan luas di kalangan warga Israel lainnya. Sebab, banyak tentara cadangan harus berkali-kali ditugaskan dalam berbagai perang yang dihadapi Israel sejak 7 Oktober 2023.

Netanyahu sendiri telah lama mengandalkan kelompok ultra-Ortodoks. Ia membiarkan komunitas yang mencakup sekitar 14 persen populasi itu mengirim anak-anak mereka ke sekolah agama, alih-alih mengikuti wajib militer.

Meski begitu, gagasan berkoalisi dengan kelompok Arab-Israel ditentang keras oleh mitra oposisi, Avigdor Liberman. Ia tetap pada pendiriannya untuk tidak bekerja sama dengan kelompok Arab-Israel, tetapi menyerukan dialog dengan kelompok Yahudi ultra-Ortodoks.

Liberman menegaskan tujuan terpenting saat ini adalah menyingkirkan Netanyahu. Menurutnya, sudah saatnya berkompromi dan menyadari bahwa keinginan mendapatkan segalanya justru berisiko membuat tidak mendapatkan apa pun.

"Ini termasuk isu undang-undang wajib militer," ujarnya dalam pernyataan di media sosial.

"Hal ini menyakitkan bagi saya, dan saya tahu banyak orang lain juga merasakan hal yang sama. Namun, mengingat berbagai tantangan yang kita hadapi saat ini, kepentingan nasional Negara Israel dan bangsa Yahudi harus diutamakan di atas pertimbangan lainnya," kata Liberman, dikutip France24.

Sejumlah partai ultra-Ortodoks secara total memiliki 13 kursi. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk membantu Eisenkot berkuasa dan membentuk pemerintahan baru Israel.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User