Angka Kematian di Gaza Masih Bertambah, Tembus 74.640 Jiwa Meski Gencatan Senjata Berlaku

Jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza terus bertambah menjadi 74.640 jiwa sejak Oktober 2023, dengan 175.947 orang terluka. Sejak gencatan senjata berlaku 11 Oktober 2026, tercatat 1.610 warga Palestina tewas dan 5.819 terluka. Di tengah kondisi itu, Sekjen PBB António Guterres menegaskan dukungan penuh bagi UNRWA yang menghadapi defisit arus kas US$80 juta.

Nov 07, 2026 - 16:01
Updated: 7 hours ago
0
Angka Kematian di Gaza Masih Bertambah, Tembus 74.640 Jiwa Meski Gencatan Senjata Berlaku
Angka Kematian di Gaza Masih Bertambah, Tembus 74.640 Jiwa Meski Gencatan Senjata Berlaku

Jumlah korban jiwa akibat serangan Israel di Jalur Gaza, Palestina, masih terus bertambah kendati kesepakatan gencatan senjata telah berlaku. Mengutip kantor berita Palestina, Wafa, otoritas medis Palestina mencatat total korban tewas sejak Oktober 2023 kini mencapai 74.640 jiwa, sementara 175.947 orang lainnya mengalami luka-luka.

Dalam laporan terbaru pada Sabtu (7/11), Wafa menyebut rumah sakit di seluruh Jalur Gaza menerima sepuluh jenazah dan 22 korban luka dalam kurun 48 jam terakhir. Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 11 Oktober 2026, tercatat 1.610 warga Palestina tewas akibat serangan udara dan tembakan Israel, sedangkan korban luka bertambah menjadi 5.819 orang. Sebanyak 849 jenazah juga telah dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan.

"Ribuan korban masih terjebak di bawah bangunan yang runtuh dan di jalan-jalan, sementara tim ambulans dan penyelamat masih belum dapat menjangkau mereka," demikian laporan Wafa.

Di tengah situasi tersebut, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menegaskan kembali komitmennya mendukung Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Juru Bicara PBB Stephane Dujarric menyampaikan hal itu kepada wartawan pada Jumat (6/11) malam, seperti dikutip Anadolu.

"Bisa saya katakan kepada Anda sekalian bahwa sekretaris jenderal sepenuhnya berkomitmen untuk membela UNRWA dalam menjalankan peran fundamentalnya dalam mendukung pengungsi Palestina," ujar Dujarric.

Menurut Dujarric, Guterres juga menyerukan agar pekerjaan penting UNRWA tetap didanai secara penuh. Seruan itu muncul menyusul pernyataan resmi UNRWA sehari sebelumnya, Kamis (5/11), yang mengungkap tekanan anggaran lembaga tersebut belum pernah terjadi sebelumnya.

UNRWA menyatakan kondisi operasional yang semakin ketat mengancam kemampuannya mempertahankan layanan-layanan penting. Badan itu saat ini menghadapi defisit arus kas sebesar US$80 juta atau sekitar Rp1,4 triliun, sementara kewajiban yang terakumulasi dan kewajiban keuangan berulang menimbulkan tantangan jangka panjang bagi keberlanjutannya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Israel disebut telah menimbulkan sejumlah tantangan hukum, administratif, dan praktis bagi UNRWA untuk melanjutkan pekerjaannya di wilayah Palestina yang diduduki. UNRWA pun menuntut agar lembaga itu tetap dapat memainkan peran pentingnya dalam mendukung pengungsi Palestina.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User