Demokrat Kuasai Kongres, Laju Perkembangan AI Amerika Diprediksi Melambat

Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS dan penguasaan kedua kamar Kongres diprediksi memperlambat perkembangan AI di Amerika. Analis menilai pengawasan ketat terhadap pusat data akan menaikkan biaya komputasi dan membuka peluang bagi China. Survei menunjukkan 56 persen pemilih menjadikan isu AI dan pusat data sebagai faktor penting dalam menentukan suara mereka.

Nov 07, 2026 - 04:02
Updated: 1 day ago
0
Demokrat Kuasai Kongres, Laju Perkembangan AI Amerika Diprediksi Melambat
Demokrat Kuasai Kongres, Laju Perkembangan AI Amerika Diprediksi Melambat

Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat dinilai akan berdampak signifikan terhadap laju perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI di negara tersebut. Para analis memperkirakan penguasaan kedua kamar Kongres oleh Demokrat dapat memperlambat pengembangan AI, sekaligus memengaruhi perdagangan AI global dan persaingan teknologi antara AS dan China.

Ekonom dari Natixis Corporate and Investment Bank, Gary Ng Cheuk-yan, menilai perlambatan laju AI di AS justru menjadi keuntungan bagi China. Menurutnya, hasil pemilu tidak akan menghentikan total pembangunan pusat data di AS, tetapi lajunya dipastikan melambat. "Perlambatan di AS bisa menjadi kemenangan bagi China. Hasil pemilu tidak akan membuat pembangunan pusat data di AS terhenti total, tetapi lajunya pasti akan melambat," kata Ng, dikutip dari South China Morning Post, Rabu (4/11).

Ng menambahkan, kontrol Demokrat di Kongres akan menimbulkan kendala baru pada kapasitas komputasi AS karena partai tersebut lebih mendukung pengawasan ketat terhadap pusat data. Kondisi ini dinilai akan menjaga harga token AI AS tetap tinggi dan memberi China kesempatan mengekspor layanan inferensi yang hemat biaya dengan dukungan pasokan listrik melimpah.

Penilaian tersebut muncul di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap AI dan pusat data yang menjadi salah satu pemicu penolakan terhadap Partai Republik dan Presiden AS Donald Trump, yang dikenal vokal mendukung pengembangan teknologi tersebut. Survei exit poll nasional NBC News menunjukkan 56 persen pemilih menganggap AI dan pusat data sebagai faktor sangat penting atau utama dalam menentukan suara mereka di Kongres, dengan sekitar 64 persen di antaranya merupakan pendukung Demokrat. Jajak pendapat Reuters/Ipsos sebelum pemilu juga mencatat pembatasan pembangunan pusat data AI sebagai isu yang sangat penting bagi sebagian pemilih.

Kongres yang didominasi Demokrat diperkirakan akan mengejar peraturan yang dapat secara langsung memperlambat penelitian dan pengembangan AI terdepan. Dari sisi persaingan AS-China, hasil pemilu sela dapat mendorong perusahaan komputasi awan AS seperti Amazon Web Services dan Google membangun pusat data baru di luar negeri, sehingga berpotensi mengintensifkan persaingan di pasar negara ketiga, termasuk Asia.

Hingga Rabu (4/11) dini hari waktu AS, para pemilih telah menyetujui hampir setiap langkah pemungutan suara tingkat lokal terkait pusat data di 13 negara bagian, termasuk proposal untuk membatasi pembangunan dan menghentikan politik yang pro-pusat data. Pendiri firma riset Tech Buzz China, Rui Ma, menilai penundaan pembangunan pusat data sudah banyak diprediksi karena masyarakat tidak sungkan menyuarakan penolakan dan investor telah menyadari risikonya.

Kepala investasi global di Bank Swiss Lombard Odier, Michael Strobaek, menyebut Trump masih memiliki hak veto untuk menggagalkan upaya agresif Demokrat, termasuk menolak pembuatan larangan pusat data nasional di luar regulasi lokal yang telah disetujui pemilih. Menurutnya, jalur paling mungkin terjadi terkait AI adalah regulasi yang diawasi secara mandiri oleh industri.

Mantan wakil jaksa agung AS, Rod Rosenstein, menekankan Trump masih memegang kekuasaan eksekutif yang besar, termasuk melalui penerbitan keputusan presiden. Kongres kemungkinan menggunakan pengaruhnya melalui sidang pengawasan dan pembuatan undang-undang, tetapi hal itu dinilai tidak akan mengubah pendirian Trump dalam perlombaan AI dengan China. Trump sebelumnya menyebut ketakutan terhadap keamanan AI sebagai hoaks dan menekankan pentingnya memenangkan persaingan AI melawan China.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User