BNPB Jelaskan Alasan Pilih Dry Ice untuk Redam Asap Karhutla Sumsel, Jarak Pandang Naik Drastis
BNPB memilih metode penyemaian dry ice dalam operasi modifikasi cuaca untuk mengatasi asap karhutla di Sumsel karena dinilai lebih cocok dengan kondisi lapisan inversi yang membuat asap terperangkap. Penyemaian awal 800 kilogram dry ice berhasil meningkatkan jarak pandang di sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dari 650 meter menjadi 2.800 meter.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan metode penyemaian dry ice untuk mengurangi dampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan. Metode ini dipilih karena dinilai lebih sesuai dengan kondisi atmosfer saat ini dibandingkan cara konvensional.
Menurut BNPB, penyemaian dry ice bertujuan menstabilkan suhu udara di atmosfer agar konsentrasi asap atau polusi karhutla yang semakin pekat dapat berkurang. Asap tersebut terperangkap akibat adanya lapisan inversi di atas langit.
Lapisan inversi adalah kondisi atmosfer ketika suhu udara justru meningkat seiring bertambahnya ketinggian, berkebalikan dengan kondisi normal yang seharusnya semakin dingin. Akibatnya, perputaran udara tidak lancar dan asap sulit bergerak naik.
Dengan penyemaian dry ice, suhu udara di atmosfer diharapkan lebih stabil sehingga asap karhutla yang terperangkap dapat naik dan menyebar, sehingga kepekatannya berkurang. Berbeda dengan material Natrium Klorida (NaCl) yang berbentuk serbuk halus pada OMC biasa, dry ice berbentuk butiran berukuran sekitar tiga milimeter dengan titik dingin mencapai -75 derajat Celsius.
Metode ini dinilai cocok untuk kondisi saat ini karena tidak bergantung pada ketersediaan awan hujan seperti halnya OMC menggunakan NaCl. Pada pelaksanaan awal, BNPB menerbangkan dua unit pesawat dari Bandar Udara Raden Inten II di Lampung dan melakukan penyemaian dry ice seberat 800 kilogram pada ketinggian sekitar 4.500 kaki di atas permukaan.
Penyemaian awal pada Kamis (15/10) difokuskan di sekitar Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II untuk meningkatkan visibilitas dan melancarkan mobilitas penerbangan di Sumatra Selatan. Hasilnya, jarak pandang di wilayah tersebut meningkat signifikan.
"Laporan sementara menunjukkan peningkatan visibility di sekitar wilayah penyemaian, yang semula terpantau di kisaran 650 meter menjadi 2.800 meter," ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangannya, Kamis (15/10).
Uji coba OMC dry ice ini akan berlangsung hingga Minggu (18/10). Setelah itu, BNPB akan melakukan evaluasi dan komunikasi lebih lanjut dengan pihak terkait untuk mempertimbangkan pengembangan atau penerapan metode serupa di wilayah lain yang terdampak karhutla.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)