Sinyal Radio Misterius dari Galaksi Purba Terdeteksi, Jaraknya Tembus 10 Miliar Tahun Cahaya

Astronom mendeteksi fast radio burst (FRB) terjauh yang pernah tercatat, sinyal gelombang radio misterius yang menempuh perjalanan lebih dari 10 miliar tahun sebelum mencapai Bumi. Fenomena bernama FRB 20240304B ini berasal dari galaksi muda kecil yang terbentuk saat alam semesta baru berusia sekitar 3 miliar tahun, terdeteksi lewat teleskop MeerKAT dan JWST.

Oct 15, 2026 - 08:02
Updated: 23 hours ago
0 0
Sinyal Radio Misterius dari Galaksi Purba Terdeteksi, Jaraknya Tembus 10 Miliar Tahun Cahaya
Sinyal Radio Misterius dari Galaksi Purba Terdeteksi, Jaraknya Tembus 10 Miliar Tahun Cahaya

Para astronom berhasil menangkap sinyal gelombang radio misterius yang telah melintasi ruang angkasa selama lebih dari 10 miliar tahun sebelum akhirnya sampai ke Bumi. Fenomena yang dikenal sebagai fast radio burst (FRB) ini menjadi semburan radio cepat terjauh yang pernah tercatat dalam sejarah pengamatan astronomi.

FRB sendiri merupakan ledakan gelombang radio berdurasi sangat singkat, hanya dalam hitungan milidetik, namun mampu melepaskan energi setara dengan pancaran Matahari selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Fenomena ini pertama kali terdeteksi pada 2007 dan sejak itu menjadi salah satu misteri terbesar di dunia astrofisika, dengan sebagian pihak bahkan sempat mengaitkannya dengan kemungkinan keberadaan alien.

Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science, para peneliti mendeteksi FRB yang dipancarkan ketika alam semesta masih berusia sekitar 3 miliar tahun. Artinya, sinyal tersebut telah menempuh sekitar 80 persen dari total sejarah kosmik untuk bisa mencapai Bumi. Gelombang yang diberi nama FRB 20240304B ini diyakini dua kali lipat lebih jauh dibandingkan rekor jarak FRB terjauh sebelumnya.

Proses deteksi dilakukan menggunakan teleskop radio MeerKAT yang berlokasi di Afrika Selatan. Setelah itu, para peneliti melacak galaksi induk dari sinyal tersebut dengan bantuan teleskop ruang angkasa James Webb Space Telescope (JWST) milik NASA.

Themiya Nanayakkara, salah satu peneliti utama dari Universitas Sydney, mengungkapkan bahwa ledakan yang menghasilkan semburan gelombang tersebut terjadi jauh sebelum Bumi dan Matahari terbentuk. Data dari JWST menunjukkan bahwa ledakan itu berasal dari galaksi muda berukuran sangat kecil yang membentuk bintang dengan kecepatan tinggi dan hanya memiliki sedikit kandungan logam di sekitarnya.

"Semua mekanisme yang mungkin menyebabkan semburan radio ini telah menunjukkan fakta bahwa semburan ini dapat dihasilkan di galaksi yang sangat muda dengan jumlah logam yang sangat rendah," ujar Nanayakkara. Ia menambahkan bahwa lebih dari 10 ribu FRB telah terdeteksi sejak 2007, dengan sebagian berulang secara terus menerus, sebagian berulang sementara lalu berhenti, dan sebagian lagi hanya muncul sekali tanpa pernah terdeteksi kembali.

Hingga kini, peneliti belum bisa memastikan apakah FRB terjauh tersebut hanya muncul satu kali atau akan menghasilkan sinyal berulang. Meski demikian, Nanayakkara menegaskan bahwa hal paling menarik dari FRB adalah para ilmuwan tidak perlu mengetahui penyebabnya untuk tetap bisa melakukan berbagai penelitian ilmiah terkait fenomena tersebut.

Menurut Nanayakkara, deteksi FRB lebih lanjut akan membuka peluang bagi para ilmuwan untuk memetakan materi tak terlihat di alam semesta yang jaraknya sangat jauh. Sementara itu, Matthew Bailes, profesor dari Swinburne University yang menjadi salah satu astrofisikawan pertama penemu FRB, menilai temuan ini sebagai validasi atas besarnya peran deteksi FRB dalam menyelidiki alam semesta.

"Ini merupakan cara yang sangat mendasar untuk menghitung berapa banyak atom yang ada di alam semesta," kata Bailes. Ia juga menjelaskan bahwa FRB dipengaruhi oleh partikel yang dilewatinya, sehingga memungkinkan para ilmuwan mengukur materi yang tidak dapat dilihat melalui teleskop optik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User