Dunia Soroti Terobosan Indonesia, Dry Ice Dipakai Redam Kabut Asap Karhutla
Media internasional menyoroti langkah Indonesia menggunakan dry ice untuk mengatasi kabut asap karhutla. The Guardian menyebutnya pendekatan tidak biasa, sementara CNA, ABC Net, dan NST mencatat uji coba 1,5 ton dry ice di Sumatra Selatan yang meningkatkan jarak pandang dari 650 meter menjadi 2.800 meter. Meski begitu, pakar UNSW menilai metode ini hanya memberikan peredaan sementara.
Upaya Indonesia mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan teknologi dry ice mendapat perhatian sejumlah media internasional. The Guardian dari Inggris menyebut langkah ini sebagai pendekatan baru yang tidak biasa. Menurut laporan tersebut, pemerintah Indonesia menguji metode penyemaian es kering untuk mengurangi kabut asap yang selama ini memicu kemarahan negara-negara tetangga.
Dry ice merupakan bentuk padat dari karbon dioksida. Teknik ini pertama kali digunakan pada 1940-an untuk merangsang pembentukan es di awan. Namun, Profesor peneliti kebakaran hutan dari Universitas New South Wales (UNSW), Rick McRae, menilai penggunaan dry ice hanya memberikan bantuan terbatas. Ia menjelaskan bahwa sistem cuaca terus bergerak dari timur ke barat, sehingga ketika asap di satu wilayah hilang, asap dari wilayah lain akan datang. "Ini adalah kondisi yang terus-menerus terjadi... Situasinya tidak sederhana dan sama sekali bukan solusi permanen," ujar McRae.
Media Singapura Channel News Asia (CNA) juga menyoroti penggunaan 1,5 ton dry ice untuk mengurai kabut asap. CNA memahami operasi ini bertujuan meningkatkan kualitas udara dan jarak pandang dengan cara menyebarkan asap yang terperangkap di lapisan atmosfer bawah agar naik ke atas. Berbeda dengan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang mendatangkan hujan untuk memadamkan kebakaran, uji coba dry ice ini dimaksudkan untuk mengurangi konsentrasi kabut asap. CNA mencatat metode ini akan dilakukan bersamaan dengan OMC, dengan uji coba pertama di Sumatra Selatan, dan akan dievaluasi untuk menentukan efektivitasnya.
Media Australia ABC Net memberitakan bahwa 1,5 ton es kering disiapkan untuk didistribusikan menggunakan pesawat Cessna di wilayah Palembang. Langkah ini diambil setelah kabut asap parah membekap Indonesia dan sejumlah negara di Asia Tenggara.
Sementara itu, New Straits Times (NST) dari Malaysia menyoroti laporan awal yang menunjukkan peningkatan jarak pandang di sekitar area penyemaian, dari sekitar 650 meter menjadi 2.800 meter. NST memahami pemerintah Indonesia akan menguji coba teknik ini pertama-tama di Sumatra Selatan, salah satu dari enam provinsi prioritas pemadaman karhutla bersama Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Uji coba dijadwalkan berlanjut hingga 18 Oktober, setelah itu hasilnya akan dievaluasi dan didiskusikan dengan pihak terkait mengenai kemungkinan perluasan ke daerah lain.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) berupa penyemaian dry ice untuk mengurangi asap karhutla di Provinsi Sumatra Selatan. Penerbangan pertama penyemaian dry ice dilakukan pada Kamis (15/10). Metode ini ditujukan untuk membantu melabilkan atmosfer sehingga asap karhutla yang terperangkap akibat lapisan inversi dapat bergerak naik dan menyebar, sehingga konsentrasinya berkurang dan jarak pandang meningkat.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)