Bahlil Singgung Ketegangan Asia Tenggara: Bisa Berdampak Sistemik dan Masif
Menko Hilirisasi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyoroti ketegangan di kawasan Asia Tenggara yang disebut bisa berdampak sistemik dan masif. Ia menegaskan pernyataannya bukan ancaman, melainkan ajakan berkolaborasi dan bergerak cepat. Bahlil juga memastikan pemangkasan ekspor gas ke Singapura sebesar 31 BBTUD tidak melanggar kontrak dan demi kebutuhan domestik.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga menjabat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyoroti munculnya ketegangan di kawasan Asia Tenggara dalam beberapa hari terakhir. Hal itu ia sampaikan saat memberi sambutan pada acara FOREK Hulu Migas 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (28/10).
Bahlil awalnya membahas tren kenaikan harga minyak dunia yang membuat komoditas tersebut kini menjadi buruan utama, bahkan menggeser daya tarik emas. Menurutnya, kondisi itu perlu diwaspadai karena berpotensi memicu ketegangan di berbagai wilayah.
"Hati-hati, gara-gara minyak, ini bisa terjadi ketegangan di mana-mana. Terakhir beberapa hari ini juga terjadi ketegangan di kawasan Asia Tenggara. Ini bisa bahaya, berdampak sistemik, masif, dan terstruktur," ujar Bahlil sambil tertawa.
Meski disampaikan dengan nada bercanda, Bahlil menegaskan bahwa pernyataannya sama sekali tidak dimaksudkan sebagai ancaman. Ia menyebut ucapannya murni sebagai anjuran agar semua pihak dapat berkolaborasi dengan baik dalam mengeksekusi suatu kebijakan.
"Ini kita betul-betul harus melakukan kolaborasi yang baik. Saya tidak bermaksud untuk mengancam-ancam. Saya orang Papua tidak pernah mengancam-ancam, enggak, saya menganjurkan saja, tapi cepat membuat eksekusi," kata Bahlil.
Dalam kesempatan itu, Bahlil juga membandingkan gaya komunikasi masyarakat Indonesia timur dengan orang Jawa yang dinilainya terlalu lembut dan banyak menyampaikan permintaan maaf. Menurutnya, orang timur cenderung berbicara langsung dan tidak bertele-tele.
Pernyataan tersebut muncul di tengah memanasnya hubungan Indonesia dengan Singapura imbas polemik kabut asap serta pemotongan kuota ekspor gas ke negara tersebut. Terkait isu energi itu, Bahlil memastikan pemangkasan ekspor gas ke Singapura tidak melanggar kontrak yang telah disepakati.
Ia menjelaskan pemangkasan dilakukan karena kebutuhan domestik yang mendesak untuk mengantisipasi dinamika geopolitik global serta memastikan ketersediaan bahan baku bagi industri dalam negeri. Selain itu, pemotongan juga dipengaruhi kegiatan pemeliharaan atau shutdown pada fasilitas produksi gas, serta upaya pemerintah menjaga ketahanan energi nasional di tengah potensi krisis energi global.
Bahlil merinci total ekspor gas pipa Indonesia ke Singapura mencapai 409,55 BBTUD yang bersumber dari dua wilayah utama, yakni Laut Natuna dan Sumatera. Dari total alokasi tersebut, pemerintah hanya memangkas ekspor sebesar 31 BBTUD atau sekitar 8 persen, yang masih berada dalam batas aman ketentuan kontrak.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)