43 Paus Pilot Terdampar di Pantai Ngawi Selandia Baru, Tak Ada yang Selamat

Sebanyak 43 paus pilot ditemukan terdampar massal di Pantai Ngawi, dekat Cape Palliser, Selandia Baru. Meski upaya penyelamatan dilakukan, seluruh paus akhirnya mati. Departemen Konservasi Selandia Baru masih menyelidiki penyebab peristiwa ini, sementara ahli menduga faktor sosial dan kondisi pantai berperan.

Nov 07, 2026 - 16:02
Updated: 7 hours ago
0
43 Paus Pilot Terdampar di Pantai Ngawi Selandia Baru, Tak Ada yang Selamat
43 Paus Pilot Terdampar di Pantai Ngawi Selandia Baru, Tak Ada yang Selamat

Sebanyak 43 paus pilot ditemukan tewas setelah terdampar massal di Pantai Ngawi, dekat Cape Palliser, ujung selatan North Island, Selandia Baru, pekan ini. Peristiwa itu bermula ketika sekelompok paus pilot terlihat di pantai pada Kamis (5/11) pagi waktu setempat. Departemen Konservasi Selandia Baru (DOC) melaporkan paus-paus tersebut pertama kali ditemukan sekitar pukul 08.00 pagi.

Organisasi lingkungan Project Jonah, yang aktif di Selandia Baru, awalnya menerima laporan adanya sekitar 20 paus yang terdampar, dengan empat di antaranya masih hidup. Project Jonah bersama DOC dan kelompok suku Maori setempat (iwi) segera melakukan pemeriksaan kesehatan serta bersiap mengembalikan paus yang masih hidup ke laut saat air pasang.

Namun, dalam pembaruan pada Jumat sore waktu setempat, DOC mengonfirmasi bahwa total 43 paus yang tersebar di Pantai Ngawi hingga Mangatoetoe akhirnya mati semua. "Sayangnya tidak ada satu pun yang diyakini selamat," demikian pernyataan DOC dalam rilis di akun Facebook resminya, dikutip Sabtu (7/11).

DOC menyatakan tengah bekerja sama dengan penduduk lokal dan iwi untuk mempersiapkan proses penanganan bangkai paus, yang oleh masyarakat setempat dianggap sebagai taonga atau harta warisan yang sangat berharga. Project Jonah menyebut peristiwa ini sebagai kejadian yang sulit dan menyedihkan bagi semua pihak yang terlibat dalam upaya penanggulangan.

Seorang nelayan setempat, Andrew Sim, mengaku telah menghabiskan lebih dari empat dekade di pantai tersebut dan pernah menyaksikan paus terdampar sebelumnya, tetapi belum pernah melihat paus pilot terdampar. "Sangat aneh mereka datang ke sini, jujur saja, tidak ada alasan untuk itu. Hanya nasib buruk, saya tidak tahu," kata Sim kepada RNZ, media lokal yang terafiliasi dengan CNN.

Sementara itu, DOC masih menyelidiki penyebab pasti terdamparnya puluhan paus pilot tersebut. Lembaga itu mengakui bahwa paus pilot memang spesies yang paling sering terdampar, namun penyebab terdampar massal belum dipahami sepenuhnya. Profesor biologi dari Universitas St Andrews, Skotlandia, Ian L Boyd, dalam pernyataan yang dikirim ke CNN melalui Science Media Centre, menduga kecenderungan insting sosial hewan laut itulah yang memicu terdampar massal.

"Hal ini terjadi pada spesies yang cenderung sangat sosial dan kemungkinan besar seluruh atau sebagian dari kelompok sosial tersebut terdampar pada waktu yang bersamaan," ujar Boyd. Ia menambahkan bahwa terdampar massal cenderung terjadi di lokasi tertentu, seringkali di daerah dengan garis pantai yang dangkal dan landai, serta tidak menutup kemungkinan kelompok sosial itu bingung dan terjebak saat laut surut.

Sebagai catatan, terdampar massal paus terbesar di kawasan Oseania terjadi pada 2022 silam, ketika sekitar 500 paus pilot mati di perairan yang dipenuhi hiu di pulau-pulau terpencil Selandia Baru. Kemudian pada Februari tahun lalu, lebih dari 150 paus terdampar di lepas pantai Tasmania, Australia, dan semuanya mati atau disuntik mati dalam peristiwa terdampar massal pertama di Tasmania dalam 50 tahun terakhir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User