Super El Nino 2026 Diprediksi Picu Krisis Kemanusiaan dan Gangguan Pangan Global

Copernicus Climate Change Service memprediksi El Nino 2026 akan menjadi salah satu yang terkuat, bahkan berstatus Super El Nino. Laporan Joint Research Centre (JRC) Komisi Eropa memetakan dampaknya: krisis kemanusiaan di Afrika Tengah dan Amerika Latin, ancaman ketahanan pangan global dengan fluktuasi harga komoditas, serta potensi pengungsian akibat kekeringan. Puncak dampak diperkirakan terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027.

Aug 7, 2026 - 03:57
Aug 7, 2026 - 03:57
 0
Super El Nino 2026 Diprediksi Picu Krisis Kemanusiaan dan Gangguan Pangan Global
Super El Nino 2026 Diprediksi Picu Krisis Kemanusiaan dan Gangguan Pangan Global

Copernicus Climate Change Service, lembaga pemantau iklim Uni Eropa, memprakirakan fenomena El Nino pada 2026 hampir dipastikan terjadi dan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Kondisi ini bahkan dijuluki Super El Nino, yaitu saat suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat lebih dari 2 derajat Celsius di atas rata-rata, yang akan mengubah pola atmosfer secara signifikan.

Laporan terbaru dari Joint Research Centre (JRC) Komisi Eropa memetakan berbagai skenario perkembangan El Nino beserta dampaknya terhadap iklim global, harga pangan, populasi terdampak, risiko pengungsian, hingga krisis kemanusiaan. Mengutip laman resmi Komisi Eropa pada Kamis (30/7), laporan ini menyoroti bahwa dampak El Nino akan terasa sepanjang 2026 hingga 2027 di banyak wilayah.

Dalam semua skenario, gelombang panas ekstrem akan mulai meningkat di wilayah tropis dan subtropis mulai September. Puncaknya terjadi antara Desember 2026 dan Februari 2027, dan berlanjut hingga musim semi 2027. Udara hangat yang tidak biasa akan meluas ke berbagai belahan dunia, dengan wilayah terdampak meliputi Amerika Utara, Amerika Selatan, Amerika Tengah, Afrika, benua Euro-Asia, hingga Australia.

Dampak kemanusiaan menjadi sorotan utama. JRC menggunakan instrumen INFORM Warning untuk menilai potensi krisis kemanusiaan baru, yang menggabungkan perkiraan bahaya iklim dengan data konflik, ketahanan pangan, angka pengungsian, dan kondisi ekonomi. Hasilnya menunjukkan indikasi krisis tingkat tinggi dalam enam bulan ke depan di banyak negara Afrika Tengah. Sudan, Somalia, Sudan Selatan, dan Chad masuk status peringatan tertinggi secara global karena sebelumnya sudah bergelut dengan konflik aktif, pengungsian massal, dan kekeringan parah. Sementara itu, Ekuador, Venezuela, dan Haiti diprediksi mengalami kekeringan parah yang diperparah krisis internal.

Ancaman ketahanan pangan juga mengemuka. El Nino akan mengubah peta pertanian global, dengan penurunan produktivitas tanaman di Afrika Sub-Sahara, India, China, Australia, dan Brasil. Harga gandum durum diperkirakan melonjak tajam, jagung berpotensi naik, sementara kedelai dan gandum merah cenderung turun. Beras menunjukkan pola dinamis, sedikit turun di awal lalu merangkak naik.

Potensi pengungsian akibat kekeringan menjadi perhatian. JRC mengakui memprediksi gelombang pengungsi masih sulit karena dampak setiap peristiwa historis bergantung pada bahaya utama di masing-masing negara. Data pengungsian akibat kekeringan masih terbatas, termasuk informasi warga yang terisolasi. Laporan menegaskan El Nino tahun ini akan memperberat beban pengungsian, konflik, dan krisis pangan yang ada, meningkatkan risiko pengungsian susulan bagi kelompok rentan, terutama di Afrika Timur, Afrika Tengah, Amerika Tengah, serta sebagian Asia Selatan dan Asia Tenggara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0