Super El Nino 2026 Diprediksi Lebih Ekstrem, Ini Penjelasan dan Dampaknya
Fenomena Super El Nino diprediksi terjadi pada 2026 dan berpotensi menjadi yang terkuat dalam sejarah. Suhu permukaan laut di Pasifik diperkirakan naik lebih dari 2 derajat Celsius, memicu kekeringan ekstrem, gagal panen, kebakaran hutan, dan gangguan kesehatan. Para ahli memperingatkan dampaknya lebih parah dari El Nino 2023 karena kondisi Bumi yang semakin panas.
Fenomena iklim El Nino yang diprediksi terjadi pada tahun 2026 diperkirakan akan menjadi salah satu yang terkuat dalam catatan sejarah. Sejumlah pakar menyebut fenomena ini sebagai Super El Nino, yang berpotensi membawa dampak signifikan bagi berbagai wilayah di dunia.
El Nino sendiri merupakan fenomena iklim alami yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali. Fenomena ini biasanya memicu kekeringan di sebagian wilayah dan curah hujan tinggi di wilayah lainnya. Namun, El Nino tahun ini diperkirakan jauh lebih ekstrem dibandingkan periode sebelumnya.
Menurut World Resources Institute (WRI), Super El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat lebih dari 2 derajat Celsius di atas rata-rata. Kenaikan suhu ini dapat mengubah pola atmosfer secara signifikan. Super El Nino umumnya terjadi setiap 10 hingga 15 tahun sekali, tetapi fenomena kali ini diprediksi berbeda karena terjadi di tengah kondisi Bumi yang jauh lebih panas.
Dampak dari Super El Nino kali ini diperkirakan akan lebih parah dibandingkan El Nino 2023. Profesor riset dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menyatakan bahwa intensitas El Nino saat ini sudah mencapai 1,74 derajat Celsius, lebih tinggi dari intensitas maksimum El Nino 2023 yang hanya 1,6 derajat Celsius. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampaknya berpotensi lebih buruk.
Sektor pertanian dan ketersediaan air menjadi yang paling terdampak. BMKG mengingatkan adanya risiko gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga peningkatan potensi puso akibat defisit air. Selain itu, El Nino juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, penurunan kualitas udara, serta gangguan kesehatan masyarakat seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit akibat paparan suhu panas.
WRI juga menyoroti dua kondisi utama yang memperparah dampak Super El Nino, yaitu perubahan iklim global dan tekanan pada sistem pangan dunia. Suhu Bumi yang semakin panas meningkatkan daya serap air oleh atmosfer, sehingga kelembapan tanah dan tanaman terkuras lebih cepat. Hal ini mempercepat kekeringan pada lahan pertanian dan meningkatkan stres panas pada tanaman serta hewan ternak.
Selain itu, hujan yang turun dalam intensitas tinggi dan singkat justru dapat menurunkan daya simpan air daratan. Air hujan lebih banyak mengalir di permukaan atau menguap sebelum sempat meresap ke dalam tanah. Oleh karena itu, wilayah yang menerima hujan lebat belum tentu lebih aman dibanding wilayah yang kering.
Untuk menghadapi ancaman ini, kesiapsiagaan dan langkah antisipatif perlu dilakukan sejak dini. Penyesuaian pola tanam, pengelolaan irigasi yang lebih efisien, serta pemanfaatan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan di sektor pertanian menjadi langkah yang disarankan oleh BMKG.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0