Suara Warga Arab Melonjak, 18 Kursi Bisa Tentukan Siapa Perdana Menteri Israel

Partai-partai Arab diproyeksikan meraih 18 kursi di Knesset, rekor tertinggi sepanjang sejarah pemilu Israel. Dengan blok Netanyahu dan oposisi sama-sama mengantongi 51 kursi, suara partai Arab berpotensi menjadi penentu siapa yang bisa membentuk pemerintahan mayoritas.

Oct 29, 2026 - 00:02
Updated: 1 day ago
0
Suara Warga Arab Melonjak, 18 Kursi Bisa Tentukan Siapa Perdana Menteri Israel
Suara Warga Arab Melonjak, 18 Kursi Bisa Tentukan Siapa Perdana Menteri Israel

Partai-partai Arab di Israel berpeluang besar menjadi penentu arah pembentukan pemerintahan baru setelah pemilihan umum. Proyeksi perolehan kursi mereka mencapai rekor tertinggi, sehingga posisi politik mereka kini menjadi sorotan dalam persaingan antara kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan pihak oposisi.

Berdasarkan penghitungan sementara Komite Pemilu Pusat Israel pada Rabu (28/10), setelah 50,1 persen suara masuk, blok Netanyahu dan blok oposisi sama-sama diproyeksikan meraih 51 dari total 120 kursi di Knesset. Sementara itu, partai-partai Arab diperkirakan mengamankan 18 kursi. Hasil ini masih bisa berubah seiring berlanjutnya penghitungan suara.

Meski demikian, angka sementara itu menunjukkan belum ada satu blok pun yang mencapai 61 kursi, ambang minimum untuk membentuk pemerintahan mayoritas di parlemen Israel. Dalam sistem parlementer Israel, partai atau koalisi wajib mengantongi dukungan sedikitnya 61 dari 120 anggota Knesset. Kondisi inilah yang membuat partai-partai Arab berpotensi memegang peran kunci dalam menentukan pihak yang mampu mengamankan dukungan mayoritas.

Kegembiraan terlihat di markas Joint List di Nazareth, tempat para pendukung partai-partai Arab merayakan hasil sementara. Pemimpin Joint List, Yousef Jabareen, memuji tingginya partisipasi pemilih Arab dan menyebutnya sebagai pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Belum pernah terjadi sebelumnya dan bersejarah dalam masyarakat Arab kita," kata Jabareen.

Warga Arab mencakup sekitar 20 persen dari total pemilih Israel. Namun, secara tradisional tingkat partisipasi mereka dalam pemilihan umum lebih rendah dibandingkan warga Israel keturunan Yahudi. Peningkatan partisipasi kali ini disebut didorong oleh keinginan mengakhiri pemerintahan koalisi sayap kanan yang dipimpin Netanyahu, yang mencakup sejumlah tokoh garis keras seperti Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich.

Penolakan terhadap pemerintahan Netanyahu juga tampak di markas Joint List. Para pendukung meneriakkan, "Ben-Gvir, pulanglah," sebagai bentuk penentangan terhadap menteri tersebut. Jabareen menilai hasil sementara pemilihan menunjukkan partai-partai yang dipimpin tokoh Arab dapat "membuat perbedaan". Ia juga berjanji partainya akan memperjuangkan perlindungan masyarakat Arab dari berbagai persoalan, termasuk kejahatan, rasisme, serta penghancuran rumah dan desa.

Berdasarkan proyeksi yang beredar, Joint List dan Raam diperkirakan memperoleh total 17 hingga 19 kursi di Knesset. Jika terwujud, perolehan itu akan menjadi pencapaian tertinggi partai-partai Arab sepanjang sejarah pemilihan umum Israel. Sementara itu, partai Yashar yang dipimpin Gadi Eisenkot diproyeksikan meraih 21 hingga 23 kursi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User