Sosok Gadi Eisenkot, Mantan Panglima Militer yang Kini Jadi Penantang Terkuat Netanyahu
Gadi Eisenkot, mantan panglima militer Israel yang memimpin Partai Yashar, muncul sebagai penantang terkuat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam pemilihan parlemen Israel. Elektabilitasnya melambung di berbagai jajak pendapat, dengan exit poll sempat menunjukkan blok Eisenkot unggul tipis. Berbeda latar belakang dengan Netanyahu, Eisenkot menjanjikan akuntabilitas dan komisi penyelidikan atas kegagalan peristiwa 7 Oktober.
Mantan panglima militer Israel Gadi Eisenkot kini menjadi penantang paling serius bagi Perdana Menteri petahana Benjamin Netanyahu dalam pemilihan parlemen Israel yang digelar Selasa (27/10). Elektabilitasnya terus melambung di berbagai jajak pendapat, membuatnya diyakini sebagai calon potensial pengganti Netanyahu.
Sejumlah exit poll yang dilakukan saluran televisi Israel sempat merekam suara blok Eisenkot unggul tipis atas blok Netanyahu. Pemilihan parlemen ini akan menentukan pemerintahan baru Israel selanjutnya. Di bawah sistem parlementer proporsional, warga tidak memilih calon perdana menteri secara langsung, melainkan memilih partai politik. Koalisi partai yang unggul dapat membentuk pemerintahan jika meraih mayoritas 61 kursi, dan sepanjang sejarah belum ada satu partai pun yang mampu meraih 61 kursi sendirian.
Eisenkot merupakan mantan panglima militer Israel yang kini memimpin Partai Yashar. Menurut komentator Israel Anshel Pfeffer, Eisenkot adalah antitesis Netanyahu yang memiliki citra rapi dengan rambut klimis dan wajah terias. Eisenkot tampil sebaliknya, terlihat kurang berkelas. Meski begitu, ia dipahami sebagai simbol kejujuran di era politik Israel yang penuh pengkhianatan, trik kotor, dan fitnah.
Dilansir dari CNN, Eisenkot adalah anak imigran Maroko yang dibesarkan di Tiberias dan Eilat. Latar belakangnya yang bukan berasal dari kalangan elite sangat kontras dengan Netanyahu yang merupakan keturunan elite Yerusalem dan lama berada di lingkaran kekuasaan.
Eisenkot menghabiskan sebagian besar hidupnya di Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Ia bergabung dengan Brigade Golani pada 1978 dan menjabat sebagai kepala staf mulai 2015 hingga 2019 di bawah kepemimpinan Netanyahu. Ia mulai terjun ke dunia politik pada 2022 bersama mantan kepala staf lainnya, Benny Gantz. Pasca serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, keduanya bergabung dengan kabinet perang Netanyahu, namun keluar pada Juni 2024 karena menilai tidak ada strategi pascaperang yang jelas.
Di tengah periode itu, perang Timur Tengah telah menelan korban jiwa dari keluarga Eisenkot. Putra bungsunya tewas di Gaza pada Desember 2023 dan dua keponakannya juga tewas dalam pertempuran. "Di atas makam Gal, saya bersumpah bahwa harga yang telah ia bayar, dirinya dan teman-temannya, mereka yang ia kenal dan mereka yang tidak ia kenal, tidak akan sia-sia," tulis Eisenkot di surat kabar Yedioth Ahronoth pada April 2026. Eisenkot mengaku janji tersebut menjadi inti dari misi politiknya sekarang.
Sebagai mantan perencana militer, Eisenkot berbeda dengan Netanyahu dalam karakter, gaya, dan temperamen. Partainya menggambarkannya sebagai seorang pejuang, seorang pemimpin, dan seorang pemersatu. Janji kampanye Eisenkot berfokus pada urusan dalam negeri dan akuntabilitas. Ia berjanji membentuk komisi penyelidikan atas kegagalan peristiwa 7 Oktober, yang selama ini ditentang Netanyahu sejak perang dimulai. Eisenkot juga menjanjikan wajib militer bagi semua warga Israel, langkah yang berbeda dengan pemerintahan Netanyahu yang mengecualikan kaum Yahudi ultra-Ortodoks.
Meski banyak perbedaan, Netanyahu dan Eisenkot memiliki sejumlah kesamaan, terutama dalam hal keamanan. Eisenkot mendukung operasi militer Israel di Gaza, Lebanon, dan Iran, serta menolak kemerdekaan Palestina.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)