Rupiah Perkasa ke Rp17.694 per Dolar AS, Ditopang Pelemahan Indeks Greenback

Nilai tukar rupiah menguat 54 poin atau 0,30 persen ke level Rp17.694 per dolar AS pada perdagangan Jumat (21/8) sore. Penguatan ditopang pelemahan indeks dolar AS ke level terendah dalam beberapa bulan, meski tertahan oleh data defisit transaksi berjalan kuartal II 2026 yang mencapai rekor tertinggi.

Sep 12, 2026 - 06:22
Updated: 2 months ago
0
Rupiah Perkasa ke Rp17.694 per Dolar AS, Ditopang Pelemahan Indeks Greenback
Rupiah Perkasa ke Rp17.694 per Dolar AS, Ditopang Pelemahan Indeks Greenback

Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan Jumat (21/8) sore di level Rp17.694 per dolar AS. Mata uang Garuda menguat 54 poin atau setara 0,30 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.

Penguatan rupiah ini terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi terhadap dolar AS. Sejumlah mata uang kawasan tercatat menguat, seperti yuan China yang naik 0,06 persen, dolar Singapura menguat 0,20 persen, yen Jepang terapresiasi 0,16 persen, won Korea Selatan naik 0,73 persen, dan dolar Hong Kong menguat 0,04 persen.

Namun, tidak semua mata uang Asia bernasib sama. Peso Filipina justru melemah 0,09 persen, sementara ringgit Malaysia bergerak stabil terhadap dolar AS.

Di sisi lain, mata uang utama negara maju kompak menguat terhadap dolar AS. Euro Eropa naik 0,11 persen, poundsterling Inggris menguat 0,07 persen, dan dolar Australia terapresiasi 0,51 persen. Dolar Kanada juga menguat 0,22 persen, sedangkan franc Swiss naik tipis 0,01 persen.

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah ditopang oleh pelemahan indeks dolar AS yang berada di level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, penurunan indeks dolar AS tersebut terjadi seiring rencana pembelian kembali obligasi oleh Departemen Keuangan AS.

"Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS, didukung oleh penurunan indeks dolar AS yang berada di level terendah dalam beberapa bulan seiring rencana pembelian kembali obligasi oleh Departemen Keuangan AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa penguatan rupiah masih tertahan oleh data terbaru yang menunjukkan defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai rekor tertinggi. Hal ini menjadi catatan penting di tengah momentum penguatan nilai tukar.

"Namun, penguatan rupiah tertahan setelah data terbaru menunjukkan defisit transaksi berjalan kuartal II mencapai rekor tertinggi," ujar Lukman menambahkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User