Prancis Murka, Seruan Menteri Israel agar Warga Gaza Dibunuh Tiap Malam Picu Sanksi

Menteri Luar Negeri Prancis Jean Noel Barrot mengecam keras pernyataan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir yang menyerukan pembunuhan massal warga Gaza setiap malam. Prancis telah melarang Ben Gvir masuk, dan menegaskan opsi sanksi tambahan masih terbuka.

Sep 15, 2026 - 03:20
Updated: 2 months ago
0
Prancis Murka, Seruan Menteri Israel agar Warga Gaza Dibunuh Tiap Malam Picu Sanksi
Prancis Murka, Seruan Menteri Israel agar Warga Gaza Dibunuh Tiap Malam Picu Sanksi

Pemerintah Prancis menyatakan kecaman tajam terhadap pernyataan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir yang menyerukan pembunuhan massal warga Jalur Gaza, Palestina, setiap malam. Sikap itu disampaikan Menteri Luar Negeri Prancis Jean Noel Barrot dalam wawancaranya dengan media Prancis, La Montagne, Rabu (19/8), sebagaimana dikutip Middle East Monitor.

Barrot menilai seruan Ben Gvir tidak dapat diterima dan tidak manusiawi. Menurutnya, pernyataan tersebut menjadi salah satu alasan Prancis menjatuhkan sanksi kepada menteri sayap kanan Israel itu. "Itu lah kenapa kami memberi sanksi Menteri Ben Gvir yang baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang tak bisa diterima dan tak manusiawi," ujar Barrot.

Dalam pernyataannya, Ben Gvir secara terbuka menyerukan pembunuhan terarah terhadap warga sipil Gaza setiap malam. "Saya pikir pembunuhan terarah harus dilakukan setiap malam di Gaza. Bunuh 30 atau 40 dari mereka," kata Ben Gvir. Ia menambahkan bahwa mereka yang disebutnya membahayakan Israel "adalah orang-orang yang seharusnya tidak hidup."

Dalam wawancara yang sama, Ben Gvir juga menganjurkan pengusiran massal warga Palestina dari Gaza dan pembangunan kembali permukiman ilegal Israel di wilayah tersebut. "Saya menganggap seluruh Jalur Gaza sebagai milik kita," ucapnya.

Barrot turut menyoroti situasi di Tepi Barat, khususnya pengepungan total Desa Qusra oleh pemukim ilegal Israel. Menurutnya, pemukim memblokade desa, memaksa warga mengumpat, dan memutus aliran listrik. "Apa yang terjadi di Tepi Barat adalah hal memalukan dan seharusnya membuat kita muak," tegas Barrot.

Prancis sebelumnya telah melarang Ben Gvir memasuki wilayahnya. Langkah serupa juga diterapkan lebih dari 10 negara, termasuk Belgia, Spanyol, Inggris, Kanada, dan Australia, dengan alasan tindakan provokatif atau seruan yang dinilai tidak manusiawi. Pemerintahan yang berbasis di Paris juga melarang Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich masuk Prancis sejak 9 Juni. Keduanya dituduh aktif mempromosikan aneksasi Tepi Barat dan secara terbuka menyerukan pemukiman kembali Gaza.

Barrot tidak menutup kemungkinan adanya sanksi lanjutan terhadap entitas Israel atas tindakan mereka di Tepi Barat. Ia mengingatkan bahwa pada 28 Mei, untuk ketiga kalinya, Prancis memberlakukan sanksi Eropa terhadap para pemukim. "Sanksi lebih lanjut dapat diberlakukan dan semua opsi masih terbuka," ungkapnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User