Novel Satir Orwell Cetak Ulang di Era Trump, Kenapa 1984 dan Animal Farm Kembali Diburu?

Novel satir George Orwell, 1984 dan Animal Farm, kembali populer di Amerika Serikat sejak Donald Trump menjabat presiden. Penerbit di AS dan Inggris merilis edisi cetak ulang eksklusif, termasuk Vintage Collector's Classics Animal Farm pada 29 Januari 2026. Relevansi 1984 dengan isu fakta alternatif dan kontrol sejarah membuat novel ini banyak dibahas, bahkan dikutip dalam putusan pengadilan.

Oct 11, 2026 - 04:02
Updated: 2 days ago
0 0
Novel Satir Orwell Cetak Ulang di Era Trump, Kenapa 1984 dan Animal Farm Kembali Diburu?
Novel Satir Orwell Cetak Ulang di Era Trump, Kenapa 1984 dan Animal Farm Kembali Diburu?

Novel-novel satir karya sastrawan Inggris George Orwell kembali menarik perhatian pembaca di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan popularitas itu terjadi terutama sejak Donald Trump menjabat sebagai Presiden AS pada 2017. Penerbit di AS dan Inggris pun merespons dengan menerbitkan edisi cetak ulang eksklusif sejak awal 2026.

Salah satu edisi yang dirilis adalah Vintage Collector's Classics dari Animal Farm yang diterbitkan ulang pada 29 Januari 2026. Novel yang pertama kali terbit pada 1954 itu juga telah diangkat ke layar lebar dengan sutradara Andy Serkis pada April lalu. Sementara itu, karya Orwell lainnya, 1984, telah dicetak ulang sejak 2017 dan mendapatkan edisi khusus 75 tahun pada 2023.

Novel 1984 yang pertama kali dicetak pada 1949 dinilai tetap relevan dengan kondisi dunia saat ini, khususnya di AS. Buku itu memuat konsep Kementerian Kebenaran, tempat penguasa mengontrol seluruh aktivitas warganya. Situs abebooks.com menyebut 1984 sebagai visi dunia yang mengejutkan dan menghantui, dengan pengaruh kuat pada imajinasi berbagai generasi pembaca.

Momentum cetak ulang kedua novel itu muncul bersamaan dengan berbagai peristiwa politik di era Trump. Misalnya, ketika penasihat Gedung Putih Kellyanne Conway menyatakan bahwa juru bicara Donald Trump, Sean Spicer, memberikan fakta alternatif saat menjelaskan pelantikan 2017 sebagai yang terbesar dalam sejarah. Pernyataan itu dianggap memiliki kemiripan dengan narasi dalam novel 1984.

Direktur penghargaan Orwell, Jean Seaton, sampai membaca ulang 1984 dan mengaku pengalamannya kali ini berbeda dari saat pertama kali membaca di awal hidupnya. Menurut Seaton, novel itu kini terasa tidak lagi jauh karena menggambarkan masyarakat yang fakta-faktanya diputarbalikkan dan ditekan dalam kabut bahasa baru.

Relevansi 1984 juga tampak dalam putusan Hakim Distrik AS Cynthia Rufe. Ia memutuskan semua materi edukasi di rumah bekas presiden pertama AS, George Washington, harus dikembalikan ke kondisi aslinya. Keputusan itu muncul setelah pemerintah Trump ingin mengubah materi tersebut sesuai narasi pemerintah pada Juli 2026. Cynthia melarang pejabat Trump memasang panel pengganti yang menjelaskan sejarah secara berbeda.

Dalam perintah tertulisnya, Cynthia memulai dengan kutipan dari novel distopia Orwell, 1984. Ia membandingkan pemerintahan Trump dengan rezim totaliter dalam buku tersebut, terutama Kementerian Kebenaran yang merevisi catatan sejarah agar sesuai dengan narasi mereka sendiri.

Cynthia menulis bahwa seolah-olah Kementerian Kebenaran dalam novel 1984 kini benar-benar ada, dengan moto Ketidaktahuan adalah Kekuatan. Pengadilan, katanya, diminta menentukan apakah pemerintah federal memiliki kekuasaan yang diklaimnya untuk menyembunyikan dan membongkar kebenaran sejarah ketika pemerintah mengendalikan fakta-fakta sejarah. Ia menegaskan pemerintah tidak memiliki kekuasaan itu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User