Iran Peringatkan Negara Teluk: Jangan Ikut Perang Ekonomi AS, atau Kepentingan Anda Jadi Sasaran
Iran mengancam akan menyerang kepentingan negara-negara Teluk dan menghentikan ekspor minyak jika mereka ikut serta dalam perang ekonomi yang dilancarkan AS. Peringatan ini disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaee, yang juga membantah klaim AS bahwa Selat Hormuz telah aman. Iran menegaskan akan membalas dengan kekuatan setara jika Washington bertindak.
Jakarta, CNN Indonesia -- Iran kembali mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara tetangganya di kawasan Teluk. Teheran menegaskan akan menganggap mereka sebagai musuh dan menyerang kepentingan mereka jika nekat bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam apa yang disebut sebagai 'perang ekonomi'.
Pernyataan tegas ini disampaikan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaee, dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah IRIB yang dikutip Anadolu, Sabtu (22/8). Rezaee menyerukan agar seluruh negara tetangga tidak berpartisipasi dalam perang ekonomi bersama AS.
"Kami menyerukan kepada seluruh negara tetangga untuk tidak berpartisipasi dalam perang ekonomi bersama AS; jika tidak, kami akan menganggap mereka sebagai musuh," ujar Rezaee. Ia menambahkan bahwa Iran tidak berupaya memperluas cakupan perang, tetapi jika negara-negara di sekitar Iran bergabung dengan Amerika, maka kepentingan mereka akan menjadi sasaran.
Rezaee juga memperingatkan bahwa jika negara-negara tetangga bekerja sama dengan agenda Washington, "tidak akan ada satu tetes minyak pun yang dapat keluar dari Teluk Persia atau Selat Hormuz." Ia bahkan mengancam akan membidik rute-rute ekspor minyak lainnya dari kawasan Teluk. "Jika Trump ingin mengambil tindakan, kami akan membalas dengan kekuatan yang setara, bagaikan guncangan gempa bumi," cetusnya.
Lebih lanjut, Rezaee membantah klaim AS yang menyebut Selat Hormuz telah aman dilalui. Ia menegaskan bahwa jalur pelayaran vital tersebut hingga saat ini masih ditutup dan tidak akan dibuka kembali sampai Washington "memperbaiki perilakunya." Menurutnya, kali ini Amerika Serikat yang harus terlebih dahulu memenuhi komitmennya.
Rezaee menekankan bahwa Iran menguasai lebih dari 50 persen garis pantai di kawasan Teluk, sehingga memiliki hak penuh untuk mengelola lalu lintas di Selat Hormuz. Meski demikian, ia mengklaim Iran tetap menginginkan penghentian konflik di Asia Barat dan berdiri menentang para pemicu perang di seluruh dunia.
Pernyataan keras ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana meluncurkan "operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap suatu negara." Trump menggambarkan kampanye tekanan maksimalnya terhadap Teheran sebagai "Perang Ekonomi dan Isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya."
Sebelumnya, Iran dan AS sempat menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Juni lalu melalui mediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut sempat menghentikan perselisihan yang berkecamuk sejak Februari lalu demi membuka jalan menuju negosiasi akhir. Namun, proses negosiasi kini membeku akibat perselisihan terkait implementasi MoU serta pengaturan tata cara pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan rute terpenting bagi pasokan ekspor minyak dan gas global.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)