Investasi AI di AS Diprediksi Capai Rp184.740 Triliun, Picu Kekhawatiran Inflasi

Ledakan investasi kecerdasan buatan di Amerika Serikat berisiko memicu inflasi karena permintaan terhadap chip, listrik, dan tenaga kerja melonjak sementara pasokan terbatas. Ekonom memperkirakan belanja infrastruktur AI mencapai US$10,3 triliun hingga 2032. The Fed pun mencermati potensi overheating ekonomi yang dapat memaksa kenaikan suku bunga.

Oct 06, 2026 - 08:02
Updated: 22 hours ago
0 0
Investasi AI di AS Diprediksi Capai Rp184.740 Triliun, Picu Kekhawatiran Inflasi
Investasi AI di AS Diprediksi Capai Rp184.740 Triliun, Picu Kekhawatiran Inflasi

Investasi besar-besaran dalam infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat (AS) berpotensi menimbulkan masalah baru bagi perekonomian negara tersebut. Belanja untuk membangun pusat data, chip, server, dan fasilitas pendukung lainnya dikhawatirkan mendorong inflasi lebih tinggi. Kekhawatiran ini muncul di tengah kondisi ekonomi AS yang masih kuat, dengan tingkat pengangguran 4,1 persen, aktivitas manufaktur pada Agustus tertinggi sejak Juli 2021, dan penjualan ritel melonjak 1,2 persen.

Perusahaan teknologi terus menggelontorkan dana besar untuk membangun infrastruktur AI. Menurut JPMorgan, belanja infrastruktur AI diperkirakan mencapai sekitar US$1 triliun atau setara Rp27.936 triliun pada 2026. Ekonom Columbia University Stijn Van Nieuwerburgh bahkan memproyeksikan total belanja infrastruktur AI mencapai US$10,3 triliun atau Rp184.740 triliun hingga 2032, setara dengan 3,6 persen dari produk domestik bruto (PDB) AS setiap tahun sepanjang 2025-2032.

Lonjakan investasi ini membuat permintaan terhadap chip memori, penyimpanan, material konstruksi, listrik, serta tenaga kerja seperti pekerja konstruksi, tukang ledeng, dan teknisi listrik meningkat tajam. Namun, pasokan barang dan tenaga kerja tidak mampu mengimbangi permintaan. "Guncangan permintaan menciptakan inflasi," ujar Daniel Yue, pengajar dampak ekonomi AI di Georgia Tech, seperti dikutip CNN.

Sejumlah kendala seperti keterbatasan pasokan, aturan, pengetatan imigrasi, dan proses perizinan memperlambat penyesuaian antara permintaan dan pasokan. Dampaknya mulai terasa pada kenaikan harga barang dan jasa tertentu serta kekurangan tenaga kerja. Kenaikan biaya pembangunan pusat data juga berpotensi merembet ke sektor ekonomi lainnya.

Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee mengatakan pihaknya mencermati apakah pembangunan pusat data AI mulai menciptakan aktivitas ekonomi yang melebihi kemampuan AS untuk menyerapnya. Jika permintaan ekonomi overheating, The Fed perlu merespons dengan menaikkan suku bunga acuan untuk menekan inflasi. Namun, suku bunga belum tentu cukup untuk menghentikan investasi AI.

Ekonom Nationwide Oren Klachkin menambahkan kenaikan biaya pinjaman dapat membuat perusahaan mempertimbangkan kembali rencana investasi. Meski demikian, investasi AI dinilai relatif tidak sensitif terhadap perubahan suku bunga dan kemungkinan belum melambat dalam waktu dekat.

Di sisi lain, investasi AI tidak otomatis buruk bagi perekonomian. Jika teknologi ini mampu meningkatkan produktivitas sesuai ekspektasi, peningkatan kapasitas produksi dapat membantu menahan tekanan inflasi dalam jangka panjang. Namun, manfaat produktivitas tersebut belum sepenuhnya terealisasi sementara kebutuhan membangun infrastruktur AI sudah meningkat pesat.

"Semua ini akan menghasilkan transformasi struktural ekonomi AS menjadi ekonomi yang berpusat pada kecerdasan buatan," ujar Kepala Ekonom RSM US Joe Brusuelas. Dengan demikian, AI menghadirkan tantangan baru bagi AS: investasi yang seharusnya mendorong pertumbuhan ekonomi juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi karena permintaan tumbuh lebih cepat dibandingkan pasokan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User