Hitung Suara 90,4 Persen: Kursi Blok Netanyahu Melorot, Partai Arab Justru Menguat
Hitung cepat Komite Pemilu Pusat Israel atas 90,4 persen suara menunjukkan kursi blok Benjamin Netanyahu turun menjadi 52, sementara blok Gadi Eisenkot 48 kursi dan partai Arab naik menjadi 20 kursi. Situasi ini dinilai mempersulit pembentukan koalisi, dengan partai Arab berpotensi menjadi penentu arah pemerintahan baru.
Hasil hitung cepat pemilu Israel mulai memperlihatkan pergeseran peta politik. Komite Pemilu Pusat Israel melaporkan telah menghitung 90,4 persen suara per Kamis (29/10), dan perolehan kursi blok Benjamin Netanyahu mengalami penurunan, sementara partai-partai Arab justru mencatat kenaikan.
Berdasarkan data komite, blok Netanyahu meraih 52 kursi, sedangkan kubu lawannya, Gadi Eisenkot, mengantongi 48 kursi. Partai-partai Arab memperoleh 20 kursi, dengan rincian Joint List 12 kursi dan Ra'am 8 kursi.
Rincian perolehan kursi di blok Netanyahu adalah Likud 26, UTJ 7, Shahs 6, Otzma Yehudit 7, dan RZP 6. Sementara itu, koalisi Eisenkot terdiri dari Yashar 21 kursi, The Democrats 8, B Yachad 12, dan Yisrael Beytenu 7.
Angka ini berubah cukup signifikan dibanding hitung cepat sebelumnya. Pada Rabu siang, saat suara terhitung baru 84,5 persen, blok Netanyahu masih memimpin dengan 57 kursi, Eisenkot 49 kursi, dan partai-partai Arab 17 kursi.
Sejumlah pakar menilai pembentukan koalisi akan sangat sulit pada pemilu kali ini karena perbedaan nilai dan isu yang mencuat belakangan. Kondisi itu kian rumit karena partai Arab dinilai dapat menjadi penentu utama, terutama bagi blok Eisenkot untuk mengantar kadernya menjadi perdana menteri.
Analis politik Palestina Ahmed Najar menilai kemitraan dengan partai Arab bukan hanya memungkinkan, tetapi menjadi satu-satunya jalan yang realistis bagi Eisenkot. Namun, sebelum pemilu, Eisenkot menunjukkan keengganan berkolaborasi dengan partai Arab karena perbedaan nilai.
"Eisenkot telah memberlakukan uji loyalitas ke partai-partai Arab dan menolak bergantung ke mereka, padahal perhitungan elektoral membuat dukungan mereka sangat diperlukan," kata Najar kepada Al Jazeera, Rabu (28/10).
Komite Pemilu Pusat Israel akan menyerahkan hasil resmi pemilihan pada awal November. Setelah hasil keluar, presiden akan memanggil perwakilan partai yang lolos ke parlemen meski tidak ada yang meraih suara mayoritas. Presiden kemudian menganalisis dan memilih calon yang dinilai paling potensial membentuk koalisi hingga mencapai 61 kursi, biasanya dengan menunjuk pemimpin partai bersuara terbanyak.
Namun, presiden juga tidak menutup kemungkinan memilih calon dari partai dengan suara yang tidak terlalu besar, seperti yang pernah terjadi saat Naftali Bennet ditunjuk menjadi PM. Kandidat yang ditunjuk mendapat waktu hingga 28 hari untuk membentuk koalisi dan pemerintahan. Jika gagal, presiden akan memilih kandidat lain dengan waktu yang sama. Bila penunjukan itu juga gagal, mandat dikembalikan ke parlemen yang diberi waktu 21 hari untuk mencari calon terkuat dengan 61 dukungan. Jika periode itu gagal lagi, parlemen otomatis dinyatakan bubar dan Israel harus menggelar pemilu ulang dalam waktu 90 hari.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)