Gempa M7,7 Guncang NTT, Tiga Rumah BRIN Tetap Kokoh Berdiri, Ini Teknologinya

Tiga rumah prototipe buatan BRIN di NTT tidak ambruk saat diguncang gempa M7,7. Teknologi konstruksi tahan gempa dan rubber bearing seismic disebut sebagai kunci ketahanan bangunan. BRIN akan melakukan uji lanjutan dan mendorong adopsi standar ini untuk rehabilitasi pascabencana.

Aug 31, 2026 - 03:26
Updated: 1 month ago
0 0
Gempa M7,7 Guncang NTT, Tiga Rumah BRIN Tetap Kokoh Berdiri, Ini Teknologinya
Gempa M7,7 Guncang NTT, Tiga Rumah BRIN Tetap Kokoh Berdiri, Ini Teknologinya

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) menjadi ujian nyata bagi tiga rumah prototipe buatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil pemantauan menunjukkan ketiga rumah yang berada di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, itu tetap berdiri kokoh tanpa mengalami kerusakan struktural.

BRIN membangun tiga rumah cepat bangun tersebut pada 2021-2022 sebagai bagian dari pengembangan teknologi konstruksi tahan gempa. Perekayasa Ahli Muda BRIN, Vian Marantha Haryanto, menyatakan bahwa hasil ini membuktikan desain dan metode konstruksi yang diterapkan mampu melindungi struktur bangunan sekaligus keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar itu.

Kerusakan yang tercatat hanya bersifat kosmetik, seperti sebagian keramik dinding kamar mandi yang terlepas dari ikatan semen pada panel Sandwich EPS dan pecah akibat guncangan. Tidak ditemukan retak struktural pada dinding, kolom, maupun fondasi bangunan. Dokumentasi kondisi bangunan per 16 Agustus 2026 menunjukkan ketiga prototipe tetap berdiri, sementara bangunan SD Rangko di sekitarnya mengalami kerusakan struktur.

Keberhasilan ini menjadi bagian penting dari evaluasi pengembangan rumah modular tahan gempa yang telah dilakukan BRIN sejak 2019. Sebelumnya, BRIN telah membangun dua unit di Kabupaten Tangerang, prototipe rumah dua lantai di Kabupaten Lebak pada 2021, serta tiga unit di NTT pada akhir 2021. Teknologi konstruksi terus disempurnakan, termasuk pada generasi kedua yang dilengkapi rubber bearing seismic untuk meredam getaran gempa.

Vian menjelaskan bahwa teknologi rubber bearing seismic memanfaatkan karet alam atau polimer elastis sebagai bahan dasar. Cara kerjanya dengan memisahkan struktur bagian bawah dan atas bangunan, sehingga ketika terjadi gaya geser akibat gempa, komponen tersebut membantu menahan gaya geser dan mengurangi dampak guncangan pada struktur bangunan.

Meski hasil pemantauan lapangan menunjukkan kondisi struktur tetap baik, BRIN berencana melakukan pengujian lebih lanjut untuk memperoleh validasi teknis di laboratorium. Pengujian akan menggunakan uji siklik sesuai SNI 3966:2012 di laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur pada tahun 2026.

Hasil evaluasi terhadap tiga rumah di Labuan Bajo ini akan dijadikan masukan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN mendorong pemerintah daerah dan pusat untuk mempercepat pemulihan rumah warga terdampak dengan mengadopsi standar konstruksi tahan gempa. BRIN juga mendorong agar model rumah tahan gempa ini dapat direplikasi secara lebih luas, tidak hanya di NTT, tetapi juga di kawasan rawan gempa lainnya di Indonesia.

Selain teknologi konstruksi, BRIN menegaskan perlunya penguatan mitigasi melalui kebijakan. Salah satu rekomendasinya adalah mengintegrasikan edukasi mitigasi bencana dan standar bangunan tahan gempa ke dalam kebijakan perumahan daerah. Dengan demikian, pembangunan kembali pascabencana tidak hanya mengganti bangunan yang rusak, tetapi sekaligus meningkatkan ketahanannya terhadap potensi bencana berikutnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User