Studi Terbaru Ungkap Bumi Makin Bulat, Pencairan Es di Kutub Jadi Pemicunya
Studi di jurnal JGR Solid Earth mengungkap krisis iklim membuat bentuk Bumi semakin bulat. Pencairan es di kutub mengurangi tekanan pada kerak sehingga permukaan naik, sementara penggembungan di ekuator berkurang sekitar 1 milimeter per tahun pada 2011-2015. Peneliti Christofros Kotsakis menganalisis data GNSS untuk memantau perubahan ini.
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa krisis iklim tidak hanya berdampak pada cuaca dan permukaan laut, tetapi juga perlahan mengubah bentuk Bumi. Temuan yang diterbitkan di jurnal JGR Solid Earth pada 9 September 2026 itu menunjukkan bahwa planet ini semakin bulat dengan laju yang makin cepat.
Bumi memang tidak pernah berbentuk bola sempurna. Akibat rotasinya, planet ini sedikit pipih di bagian kutub dan menggembung di sekitar ekuator. Namun, penelitian anyar menyebut bahwa bentuk tersebut kini mengalami pergeseran, terutama dipicu oleh mencairnya lapisan es di kutub.
Penelitian ini menegaskan bahwa aktivitas manusia yang memicu perubahan iklim turut berperan terhadap perubahan bentuk Bumi. Temuan tersebut hanya berlaku pada bagian padat Bumi, sementara lautan tetap mengalami penggembungan ke arah luar di sekitar garis khatulistiwa.
Untuk melacak perubahan itu, peneliti menggunakan pengukuran langsung dari Global Navigation Satellite System (GNSS). Meski demikian, metode ini memiliki keterbatasan karena minimnya stasiun GNSS di dekat Kutub Utara dan Kutub Selatan, serta terbatasnya perangkat di lautan terpencil yang harus dipasang pada pelampung.
Christofros Kotsakis, profesor geodesi di Aristotle University of Thessaloniki, Yunani, kemudian mengembangkan metode baru untuk menganalisis data GNSS agar perubahan permukaan Bumi dapat terpantau lebih baik. Hasilnya, wilayah kutub mengalami kenaikan permukaan, sedangkan penggembungan di sekitar khatulistiwa semakin berkurang, masing-masing sekitar 1 milimeter per tahun pada periode 2011 hingga 2015.
Angka itu memang terbilang kecil jika dibandingkan diameter Bumi di ekuator yang mencapai sekitar 12.756 kilometer. Namun, laju perubahan tersebut lebih besar dibandingkan periode 1997 hingga 2000 yang hanya sekitar 0,5 milimeter per tahun. Artinya, setiap dekade, laju pembulatan Bumi bertambah sekitar 0,4 milimeter per tahun.
Kotsakis menjelaskan bahwa mencairnya es di kutub mengurangi tekanan pada kerak Bumi sehingga permukaannya perlahan naik. Fenomena ini ia analogikan seperti adonan roti yang mengembang kembali setelah ditekan jari. Sementara itu, peningkatan massa di wilayah khatulistiwa menekan kerak Bumi dan mengurangi penggembungan di sana.
Namun, ketika bagian padat Bumi dan lautan dihitung bersamaan, hasilnya justru berbeda. Bumi tercatat semakin pipih dengan laju sekitar 0,8 milimeter per tahun karena lautan terus menggembung di sekitar khatulistiwa akibat perpindahan massa air dari kutub. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa perubahan-perubahan ini turut memperlambat rotasi Bumi.
Kotsakis menemukan bahwa pengukuran melalui GNSS dan medan gravitasi tidak sepenuhnya selaras. Karena itu, kedua metode dinilai perlu digunakan bersama untuk memantau dampak utama perubahan iklim, khususnya mencairnya lapisan es di Greenland dan Antarktika serta perubahan pergerakan air laut.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)