Dituduh Korupsi, Wakil Presiden Afrika Selatan Ini Justru Selamat Berkat Sadapan dan Jadi Presiden
Wakil Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma pernah dipecat Presiden Thabo Mbeki pada 2005 karena skandal korupsi senjata senilai 1,2 juta rand. Namun, transkrip sadapan 'Spy Tapes' yang diperoleh pengacaranya justru menggugurkan ratusan dakwaan, membuka jalan bagi Zuma untuk memenangkan pemilu dan menjadi Presiden Afrika Selatan pada 2009.
Kasus penyadapan dalam pemerintahan bukan hal baru. Di Afrika Selatan, Jacob Zuma pernah menjadi korban penyadapan saat menjabat Wakil Presiden mendampingi Presiden Thabo Mbeki pada periode 1999-2008. Ketika itu, Mbeki memecat Zuma pada 2005 karena terlibat skandal korupsi menerima suap dari perusahaan senjata asal Prancis senilai 1,2 juta rand atau sekitar £97.000. Uang tersebut digunakan untuk membiayai gaya hidup mewah Zuma pada 1999. Zuma pun menghadapi 783 dakwaan korupsi, pemerasan, penipuan, dan pencucian uang terkait kesepakatan pembelian senjata pemerintah.
Dalam pidatonya di parlemen di Cape Town, Mbeki menyatakan bahwa putusan hakim mengharuskannya bertindak. Ia mengatakan, "Saya telah sampai pada kesimpulan bahwa keadaan mengharuskan, demi kepentingan wakil presiden yang terhormat, pemerintah, sistem demokrasi muda kita, dan negara kita, akan lebih baik untuk membebaskan Jacob Zuma yang terhormat dari tanggung jawabnya sebagai wakil presiden republik dan anggota kabinet." Pernyataan itu dikutip dari The Guardian.
Namun, di tengah persidangan pada 2009, para pengacara Zuma mendapatkan transkrip hasil sadapan para penegak hukum yang dikenal dengan sebutan "Spy Tapes". Rekaman tersebut berisi percakapan antara kepala jaksa penuntut umum badan anti-korupsi Afrika Selatan (Scorpions) pada 2007. Isi percakapan menunjukkan adanya manipulasi waktu pengumuman tuntutan korupsi terhadap Zuma demi kepentingan politik menjelang konferensi partai berkuasa, ANC.
Rekaman sadapan itu kemudian digunakan oleh pengacara Zuma untuk menggugurkan ratusan dakwaan korupsi dan suap terhadapnya, tepat sebelum ia terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan. Kasus pembatalan tuntutan berbasis sadapan ini menjadi salah satu skandal hukum paling berlarut-larut di negara tersebut.
Dua minggu sebelum pemilihan umum demokratis keempat Afrika Selatan, Direktur Nasional Penuntut Umum (ANDPP) saat itu, Mokotedi Mpshe, mengumumkan bahwa "tidak mungkin dan tidak diinginkan untuk melanjutkan penuntutan terhadap Tuan Zuma". Keputusan ini sebagian dimotivasi oleh pernyataan yang dibuat Zuma kepada penuntut umum (NPA) atas dasar kerahasiaan tanpa prasangka mengenai mengapa dakwaan harus dibatalkan.
Bagian dari pernyataan tersebut termasuk percakapan yang direkam antara kepala Direktorat Operasi Khusus (DSO, alias Scorpions) saat itu, Leonard McCarthy, dan kepala NPA saat itu, Bulelani Ngcuka. Mpshe mengungkapkan apa yang diyakininya sebagai penyalahgunaan proses, yaitu diskusi yang tidak pantas antara McCarthy dan Ngcuka mengenai waktu kapan dakwaan harus diajukan terhadap Zuma. Mpshe menyatakan bahwa diskusi ini menunjukkan motif politik tersembunyi untuk menuntut Zuma.
Atas bocornya isi sadapan itu, situasi justru menguntungkan kubu Zuma. Ia melenggang ikut pemilu dan terpilih pada 9 Mei 2009 menggantikan Thabo Mbeki yang mundur pada 2008. Kisah ini menjadi contoh bagaimana penyadapan bisa berbalik menjadi senjata politik yang menentukan arah kepemimpinan sebuah negara.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)