Demo Prancis Meluas, Slogan 'Bismillah C'est les Tenebres' Jadi Sorotan dan Sindiran

Gelombang demonstrasi di Prancis sejak tiga pekan lalu meluas dari aksi pelajar hingga serikat pekerja. Di tengah tuntutan perbaikan pendidikan dan ekonomi, slogan 'bismillah c'est les tenebres' mencuat. Frasa itu diduga sindiran terhadap polisi yang menyamar di grup Snapchat demonstran, sekaligus mengolok stereotipe terhadap kaum muda keturunan Arab dan Afrika.

Oct 22, 2026 - 04:02
Updated: 11 hours ago
0
Demo Prancis Meluas, Slogan 'Bismillah C'est les Tenebres' Jadi Sorotan dan Sindiran
Demo Prancis Meluas, Slogan 'Bismillah C'est les Tenebres' Jadi Sorotan dan Sindiran

Aksi demonstrasi di Prancis terus menjadi perhatian publik. Selain menuntut perbaikan sistem pendidikan, penyetaraan, dan kondisi ekonomi, unjuk rasa yang berlangsung sejak tiga pekan terakhir ini memunculkan sejumlah slogan yang menarik perhatian, salah satunya 'bismillah c'est les tenebres'.

Frasa berbahasa campuran Arab-Prancis itu secara harfiah berarti 'atas nama Tuhan, ini adalah kegelapan'. Kalimat tersebut muncul di tengah gelombang protes yang awalnya diprakarsai pelajar yang memblokade sekolah mereka, lalu meluas melibatkan mahasiswa hingga serikat pekerja.

Pada pekan lalu, seruan agar seluruh lapisan masyarakat turun ke jalan beredar di media sosial. Dalam seruan itu disebutkan bahwa ribuan peserta akan ikut berdemonstrasi. Slogan 'bismillah c'est les tenebres' pun menjadi seruan tak terduga yang menyatukan berbagai kelompok peserta aksi.

Kata 'bismillah' berasal dari bahasa Arab yang berarti dengan menyebut nama Allah, dan biasa digunakan umat Muslim sebelum beraktivitas. Namun dalam bahasa gaul Prancis, ungkapan itu tidak dimaknai harfiah, melainkan lebih sebagai ajakan 'ayo, kita lakukan'. Sementara 'c'est les tenebres' berarti 'itu adalah kegelapan', merujuk pada situasi suram dan tanpa harapan.

Para pelajar menyebut ungkapan tersebut merupakan ejekan terhadap kepolisian yang diduga mencoba menyusupi obrolan media sosial Snapchat yang dipakai demonstran untuk berkoordinasi. Pada awal Oktober, tangkapan layar percakapan Snapchat yang memuat frasa itu beredar di media sosial.

Dalam tangkapan layar tersebut, seorang pengguna bernama Mamadou meminta untuk ditambahkan ke grup. 'Hai, bismillah, c'est les tenebres. Kapan blokadenya, wallah, bro?' tulis pengguna itu, seperti dikutip Al Jazeera, Rabu (21/10). Pesan itu juga disertai bendera Aljazair.

Para pelajar meyakini pesan tersebut dikirim aparat yang menyamar dan berupaya masuk ke ruang obrolan demonstran dengan campuran bahasa Arab dan slang agar diterima. Namun, diksi yang digunakan justru dinilai sangat mencurigakan. Pilihan kata itu kemudian dimanfaatkan pelajar untuk mengejek pihak berwenang yang dianggap tidak memahami realitas kaum muda, sekaligus menjadi simbol olok-olok terhadap stereotipe dan rasisme.

Profesor madya Sosiologi Arab dan Mediterania di Universitas Paris 8 Vincennes-Saint Denis, Youssef El Chazli, menilai frasa itu memperkuat citra polisi yang tak paham realitas dan penuh stereotipe. 'Stereotipe semacam itu tampaknya secara tak proporsional menargetkan kaum muda keturunan Arab dan Afrika,' kata El Chazli kepada Al Jazeera. 'Ini tampak sebagai satu contoh lagi bagaimana lembaga-lembaga negara tak memahami gerakan saat ini,' imbuhnya.

El Chazli menambahkan, meme satir dan internet juga menjadi alat untuk mengekspresikan keluhan politik selama protes anak muda, yang secara tradisional bersifat inovatif dan kreatif. 'Dengan mobilitas kaum muda, kreativitas protes akan sangat bergantung ke subkultur kelompok muda,' ujarnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User