Demo Pelajar Prancis Memanas, Remaja 15 Tahun Kehilangan Tangan Akibat Ledakan Granat Polisi
Seorang remaja 15 tahun kehilangan satu tangan setelah granat meledak saat aksi protes pelajar di Lens, Prancis. Insiden ini menambah daftar cedera serius di tengah demonstrasi yang telah berlangsung tiga minggu, dengan 190 pelajar terluka, 24 sekolah dibakar, dan sekitar 5.000 orang ditangkap. Amnesty International menyoroti dugaan kekuatan polisi yang tidak proporsional terhadap pelajar.
Aksi protes pelajar yang kembali memanas di Prancis berujung pada insiden tragis. Seorang remaja berusia 15 tahun kehilangan satu tangannya setelah sebuah granat meledak di dekat sebuah sekolah menengah kejuruan di Lens, Prancis, pada Senin (5/10). Korban mengalami luka serius di sekitar Lycee Auguste-Behal dan langsung dilarikan ke rumah sakit di Lille untuk menjalani perawatan intensif.
Prefek Pas-de-Calais, Francois-Xavier Lauch, memastikan bahwa kondisi remaja tersebut tidak mengancam nyawanya. Meski demikian, insiden ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah rangkaian demonstrasi pelajar yang semakin meluas. Menurut laporan AFP yang mengutip sumber kepolisian, remaja itu diduga mengambil granat karet atau granat "penghalau" yang ditembakkan oleh polisi anti huru hara. Ia disebut hendak melempar kembali benda tersebut sebelum akhirnya meledak di tangannya.
Namun, jaksa penuntut umum menyatakan bahwa penyidik belum dapat memastikan apakah remaja itu benar-benar mengambil granat tersebut atau benda itu jatuh dan meledak di dekatnya. Kasus ini kini ditangani oleh bagian urusan internal kepolisian. Otoritas juga tengah melakukan enam penyelidikan terkait cedera serius yang terjadi selama rangkaian protes pelajar.
Menteri Pendidikan Edouard Geffray menyebut cedera yang dialami remaja tersebut sebagai kejadian yang "sangat dramatis secara kemanusiaan". Ia enggan berkomentar lebih jauh sebelum fakta mengenai insiden itu terungkap. Geffray menambahkan bahwa sebanyak 190 pelajar telah terluka sejak aksi protes dimulai.
Demonstrasi pelajar di Prancis kini telah memasuki minggu ketiga. Pemerintah memperkirakan 500 sekolah terdampak akibat aksi tersebut. Kementerian Pendidikan mencatat 589 sekolah mengalami gangguan pada Senin (5/10), turun dari 735 sekolah pada Jumat (2/10). Sebelumnya, diperkirakan sekitar 400 hingga 500 dari 3.700 sekolah menengah atas di Prancis dapat ditutup sebagian atau seluruhnya.
Aksi ini awalnya pecah di sebuah sekolah menengah di pinggiran Paris pada akhir September. Pelajar memprotes kekurangan guru, fasilitas sekolah yang buruk, dan ketimpangan akses pendidikan. Sejumlah siswa mengaku sering tidak mendapatkan guru untuk mata pelajaran tertentu, termasuk matematika dan bahasa Inggris. Demonstrasi kemudian menyebar ke berbagai wilayah Prancis dan memicu bentrokan antara pelajar dan polisi.
Amnesty International Prancis menyoroti penggunaan kekuatan polisi selama demonstrasi. Organisasi itu menilai terdapat dugaan penggunaan kekuatan yang tidak proporsional terhadap pelajar, termasuk anak di bawah umur. Amnesty juga menerima laporan mengenai siswa yang dipukul menggunakan pentungan, terkena gas air mata, hingga tembakan peluru karet yang dikenal sebagai LBD. Mereka mendesak pemerintah memastikan tindakan aparat tetap proporsional dan sesuai dengan kewajiban Prancis dalam melindungi hak asasi manusia.
Juru bicara pemerintah, Maud Bregeon, mengatakan prioritas pemerintah saat ini adalah "memulihkan ketertiban". Kerusuhan terjadi di sejumlah kota pada Senin. Media lokal BFMTV melaporkan bentrokan antara polisi dan pelajar di Lille, penggunaan gas air mata di Toulouse, serta kebakaran ketika sekelompok orang berusaha masuk ke sebuah sekolah di Paris. Kepala Lycee Vauquelin di Paris, Carole Zerbib, mengatakan sekolahnya diserang sekelompok orang yang mengenakan tudung dan masker. Polisi dan petugas pemadam kebakaran berhasil memadamkan api dan mengevakuasi seluruh penghuni sekolah.
Geffray menyatakan 24 sekolah telah dibakar atau dijarah selama rangkaian protes, dan 78 staf pengajar dilaporkan terluka. Al Jazeera melaporkan bahwa sejak 28 September, sekitar 5.000 orang, sebagian besar remaja, telah ditangkap di berbagai wilayah Prancis. Puluhan orang lainnya dilaporkan terluka. Guru dan anggota masyarakat juga menjadi sasaran serangan, dengan kerusakan properti diperkirakan mencapai puluhan juta euro. Di tengah situasi tersebut, organisasi mahasiswa menyerukan demonstrasi nasional kembali digelar pada Selasa (6/10).
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)