Dari Miskin ke Taipan Properti, Hui Ka Yan Berakhir Bui Seumur Hidup

Hui Ka Yan, pendiri Evergrande Group, divonis penjara seumur hidup atas delapan dakwaan termasuk penipuan dan penyuapan. Dari latar miskin, ia membangun kerajaan properti hingga menjadi orang terkaya Asia, namun kolaps akibat utang besar dan regulasi ketat pemerintah China.

Sep 06, 2026 - 11:48
Updated: 2 months ago
0
Dari Miskin ke Taipan Properti, Hui Ka Yan Berakhir Bui Seumur Hidup
Dari Miskin ke Taipan Properti, Hui Ka Yan Berakhir Bui Seumur Hidup

Hui Ka Yan, konglomerat pendiri raksasa properti China Evergrande Group, harus menerima kenyataan pahit. Pengadilan China menjatuhkan vonis penjara seumur hidup padanya pada Kamis (20/8) setelah ia mengaku bersalah atas delapan dakwaan berat, termasuk penipuan dan penyuapan. Vonis ini menjadi akhir dari perjalanan bisnis yang pernah membawanya menjadi salah satu orang terkaya di Asia.

Lahir di Henan, China, Hui tumbuh dalam kemiskinan. Ayahnya adalah pensiunan tentara yang pernah bertempur dalam Perang China-Jepang II, sementara ibunya meninggal saat ia berusia delapan bulan. Dibesarkan oleh neneknya, Hui sempat bekerja di pabrik semen setelah lulus SMA dan berhasil menjadi pemimpin tim produksi.

Perubahan besar terjadi pada 1996 ketika ia mendirikan Evergrande di Guangzhou. Dengan modal utang besar, Hui mengembangkan bisnisnya secara agresif ke berbagai wilayah China hingga membawa perusahaannya ke bursa efek. Di bawah kepemimpinannya, Evergrande tumbuh menjadi pengembang properti terbesar dengan nilai perusahaan pernah melampaui US$50 miliar atau sekitar Rp884 triliun.

Ekspansi Evergrande tidak hanya di properti, tetapi juga merambah ke otomotif dan sepak bola. Pada 2010, Hui mengakuisisi klub Guangzhou dan menamainya Guangzhou Evergrande. Meski minim pengetahuan sepak bola, investasinya pada pemain dan pelatih internasional membawa tim itu meraih tiga gelar liga. Kesuksesan ini mengantarnya menjadi orang terkaya di Asia versi Forbes pada 2017 dengan kekayaan US$45,3 miliar.

Namun, model bisnis yang bergantung pada utang mulai runtuh ketika pemerintah China menerapkan kebijakan 'Three Red Lines' pada 2020. Regulasi ini membatasi rasio utang pengembang properti untuk menekan spekulasi dan mencegah krisis keuangan. Evergrande kesulitan memenuhi aturan tersebut, mulai menjual properti dengan diskon besar, hingga akhirnya gagal bayar pada 2021.

Kejatuhan Evergrande memicu penyelidikan resmi. Hui ditahan pada September 2023 atas dugaan tindak pidana. Pada Maret 2024, regulator sekuritas China mendenda Hui 47 juta yuan dan melarangnya dari pasar sekuritas seumur hidup. Pengadilan menemukan Evergrande membesar-besarkan pendapatan hingga ratusan miliar yuan pada 2019 dan 2020.

Pada April 2026, Hui mengaku bersalah dan menyatakan penyesalan atas delapan dakwaan, termasuk menerima deposit publik ilegal, penipuan penggalangan dana, dan penyuapan. Pengadilan Shenzhen menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup, menyita seluruh aset pribadinya, dan mencabut hak politiknya. Evergrande sendiri didenda 8,82 miliar yuan, sementara anak usahanya Hengda Real Estate didenda 7 miliar yuan.

Vonis ini menjadi contoh nyata dampak krisis properti China yang meluas hingga sektor shadow banking. Kisah Hui Ka Yan menjadi pelajaran berharga tentang bahaya ekspansi berbasis utang tanpa kendali, yang berujung pada kehancuran kerajaan bisnis dan hukuman berat bagi pendirinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User