BI Pangkas Penerbitan SRBI Bertahap, Rp150 Triliun Likuiditas Mulai Dilepas ke Pasar

Bank Indonesia akan mengurangi penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) secara bertahap dan terukur untuk melonggarkan likuiditas di pasar uang. Posisi SRBI telah turun dari sekitar Rp1.070 triliun ke kisaran Rp900 triliun, sehingga sekitar Rp150 triliun likuiditas dilepas. BI menegaskan SRBI tetap dipertahankan sebagai instrumen moneter yang menarik bagi investor asing.

Oct 25, 2026 - 04:02
Updated: 9 hours ago
0
BI Pangkas Penerbitan SRBI Bertahap, Rp150 Triliun Likuiditas Mulai Dilepas ke Pasar
BI Pangkas Penerbitan SRBI Bertahap, Rp150 Triliun Likuiditas Mulai Dilepas ke Pasar

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mengurangi penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) atau surat utang jangka pendek secara bertahap. Langkah ini ditempuh untuk melonggarkan likuiditas di pasar uang agar dana yang sebelumnya terserap pada instrumen tenor panjang bisa lebih tersedia dalam jangka pendek dan menengah.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyatakan BI telah melakukan kalibrasi terhadap SRBI, baik dari sisi imbal hasil maupun volume likuiditas yang diserap. Menurutnya, posisi SRBI pernah mencapai level tertinggi sekitar Rp1.070 triliun, namun kini telah turun ke kisaran Rp900 triliun.

Dengan penurunan tersebut, BI memperkirakan telah melepaskan likuiditas sekitar Rp150 triliun dari posisi tertinggi SRBI. "Highest ever posisi SRBI itu pernah 1.070 dan kemarin posisi terakhir sudah turun 900-an, jadi kita sudah rilis sebenarnya likuiditas itu dari SRBI itu lebih kurang dari posisi tertingginya sekitar 150," kata Erwin dalam taklimat media BI, Jumat (23/10).

Erwin menegaskan pengurangan SRBI tidak dilakukan secara tiba-tiba, melainkan bertahap dan terukur dengan mempertimbangkan dinamika likuiditas di pasar. "SRBI itu secara perlahan kita akan kurangi terus secara terukur dengan melihat dinamika yang ada," ujarnya.

Menurut Erwin, SRBI memiliki tenor 6, 9, dan 12 bulan. Sebagian likuiditas sebelumnya banyak terserap pada tenor panjang tersebut. Dengan mengurangi volume SRBI secara bertahap, BI ingin memastikan dana di pasar uang cukup untuk memenuhi kebutuhan likuiditas harian.

"Sehingga likuiditasnya itu bisa balance antara likuiditas yang kita kunci di jangka panjang dengan likuiditas yang di jangka pendek dan menengah," jelas Erwin. Kecukupan likuiditas harian dinilai penting agar pergerakan suku bunga pasar uang tetap berada dalam koridor yang diharapkan BI dan memperkuat transmisi kebijakan moneter dari BI Rate ke pasar uang hingga sektor perbankan.

Meski penerbitan SRBI dikurangi, BI tetap mempertahankan instrumen tersebut sebagai aset rupiah yang menarik, terutama terkait masuknya modal asing. Erwin menjelaskan imbal hasil SRBI tidak ditentukan sembarangan karena mempertimbangkan BI Rate, ekspektasi inflasi, dan risk premium. "SRBI ini kan bisa dibeli asing," katanya.

Di sisi lain, BI tetap membuka akses likuiditas bagi perbankan melalui instrumen operasi moneter lain. Fasilitas repo tersedia mulai tenor satu minggu hingga 12 bulan dengan menggunakan surat berharga yang dimiliki bank, termasuk SBN dan SRBI. BI juga menyediakan fasilitas swap reguler dengan tenor satu, tiga, enam, hingga 12 bulan untuk membantu bank mengelola perbedaan jatuh tempo antara dana yang dihimpun dan kredit yang disalurkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User