Asal-usul Sound Horeg

Sound Horeg, parade sound system teknologi tinggi di Jawa. Simak asal‑usul, perkembangan, serta pro-kontra dampaknya di masyarakat.

Aug 03, 2025 - 13:58
0 1
Asal-usul Sound Horeg
Seperangkat sound horeg terpasang di bak truk

Solo – Istilah sound horeg saat ini ramai dibicarakan di berbagai wilayah Pulau Jawa, menjadi topik hangat di kalangan masyarakat, terutama menjelang acara-acara pesta rakyat. Bagi banyak orang awam, istilah ini masih misterius sementara yang lain menganggapnya sebagai tren baru hiburan publik. Jadi, apa itu sebenarnya sound horeg?

Apa itu Sound Horeg?

Secara etimologi, “sound” berarti suara dalam Bahasa Inggris, sedangkan “horeg” adalah istilah bahasa Jawa yang mengandung arti bergetar atau berguncang. Dengan demikian, sound horeg bisa diartikan sebagai sistem suara yang tidak hanya menggelegar, tetapi juga menimbulkan getaran fisik di sekitarnya.

Menurut Kamus Bahasa Jawa--Indonesia (KBJI), horeg dipahami sebagai bergerak atau bergetar. Dalam jurnal kebudayaan dari Harly Yoga Pradana, horeg bersinonim dengan gempa atau goyangan menggambarkan intensitas dan resonansi hebat suara yang dihasilkan 

Definisi formal dari kajian hukum di Jawa Timur menjelaskan bahwa sound horeg merujuk pada fenomena penggunaan perangkat audio bervolume ekstrem yang semakin marak dalam berbagai event komunitas dan pawai jalanan.

Asal Usul dan Sejarah Sound Horeg

Fenomena ini mulai populer sejak era 2000-an saat warga mulai menggunakan pengeras suara sederhana untuk hajatan atau pengumuman desa. Seiring waktu, terutama pada pertengahan 2010-an—sekitar 2014—kegiatan adu sound mulai muncul di daerah seperti Malang, Banyuwangi, dan Surabaya. Truk berlengkapi banyak speaker dan generator menjadi panggung bergerak dalam karnaval suara itu.

Komunitas sound hobi modifikasi perangkat audio kelas berat. Mereka saling bersaing dalam adu bass dan kejernihan suara. Kompetisi informal ini mendorong perkembangan tren hingga menjadi hiburan jalanan yang masif di beberapa kota Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Beberapa nama komunitas sekaligus tokoh lokal seperti Brewog Audio (Mas Bre) di Blitar, Mahardhika Pro Audio, dan Faskho Sengox disebut-sebut sebagai pelopor dalam fenomena sound horeg, meski tidak ada pencipta tunggal yang resmi menciptakannya.

Ciri-ciri Sound Horeg

Secara visual dan teknis, sound horeg memiliki ciri khas:

  1. Menggunakan speaker dan subwoofer besar yang dipasang di atas kendaraan seperti truk atau pikap, dengan daya total sering mencapai ratusan ribu watt. Suara bassnya bisa terasa hingga radius jauh, bahkan mampu memecahkan kaca rumah warga.

  2. Sensasi visual yang mencolok: lampu strobo, efek visual RGB, DJ atau musik remix koplo, EDM hingga lagu trend TikTok dipadu dengan penari latar menyertai parade suara itu.

  3. Intensitas suara bisa mencapai lebih dari 130 desibel—setara bunyi mesin pesawat jet lepas landas. Suara ini bisa mengguncang bangunan dan menyebabkan gangguan pendengaran serta stres bagi warga sekitar.

Pro dan Kontra Fenomena Ini

Sound horeg menimbulkan perdebatan berkepanjangan:

Ada yang Menyambut:

  1. Banyak masyarakat dan pemuda melihat sound horeg sebagai hiburan merakyat yang mampu bersinergi dengan budaya lokal dan tren audio modern.

  2. Menghidupkan ekonomi lokal: komunitas rental sound horeg menghasilkan pendapatan jutaan hingga miliaran rupiah per acara, membuka peluang kerja bagi teknisi, operator, DJ, hingga pedagang kuliner di lokasi acara.

  3. Turut menciptakan identitas komunitas dan kreativitas audio jalanan yang khas.

Namun Menimbulkan Masalah:

  1. Kebisingan ekstrem dianggap sebagai polusi suara, mengganggu ketenangan warga, terutama anak-anak, lansia, dan pasien sakit yang terpapar suara bising saat malam hari .

  2. Risiko kesehatan: paparan suara melebihi ambang nyaman (>85 dB) bisa menyebabkan gangguan pendengaran permanen, tekanan darah naik, stres, hingga gangguan tidur dan mental.

  3. Dampak infrastruktur: getaran kuat terkadang menyebabkan genteng atau kaca rumah pecah ketika truk sound melintas di dekat permukiman warga.

  4. Timbul konflik sosial: beberapa daerah seperti Malang sempat mengeluarkan larangan resmi sound horeg setelah warga melaporkan gangguan serius. Polresta Malang Kota menyatakan bahwa jika tetap dilakukan tanpa izin, penyelenggara bisa ditindak tegas termasuk penangkapan.

Respons Publik dan Regulasi

Beberapa daerah sudah mulai merespons tren ini. MUI Jawa Timur bahkan mengeluarkan fatwa haram terhadap praktik sound horeg, dengan alasan gangguan sosial dan lingkungan—meski menekankan bahwa penggunaannya dalam konteks acara positif masih bisa dipertimbangkan dengan syarat tertentu.

Pemerintah desa juga mulai mengatur jam operasional dan batas volume suara saat acara, misalnya membatasi penggunaan setelah jam malam atau meminta izin terlebih dahulu SMA Negeri 1 Pagak

Tren Ekonomi Digital

Popularitas fenomena ini juga tumbuh lewat media sosial. Video pawai sound horeg diunggah ke platform seperti TikTok, YouTube, dan Instagram, menarik ribuan penonton dan memperluas citra tren ini secara digital PSPBSIramallah.medium.com. Pengikut tren ini bukan hanya di Jawa Timur, tetapi mulai menyebar ke Jawa Tengah, seperti Pati, Demak, Kudus, dan Rembang.

Budaya atau Beban Masyarakat?

Sound horeg mencerminkan dualitas: di satu sisi sebagai bentuk hiburan rakyat yang ekspresif dan kreatif, di sisi lain sebagai potensi gangguan ketertiban umum dan kesehatan. Ia menjadi contoh bagaimana seni akar rumput bertemu teknologi modern, namun sangat bergantung pada regulasi lokal dan toleransi lingkungan sekitar Semesta Budaya.

Pandangan dan Masa Depan

Fenomena sound horeg belum jelas apakah akan bertahan sebagai bagian dari budaya populer atau ditinggalkan karena dampak negatifnya. Untuk sekarang, komunitas dan pemerintah perlu duduk bersama menentukan batas volume, lokasi acara, izin, dan jam operasional agar fenomena ini bisa memasuki ranah resmi tanpa menciptakan masalah baru.

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User