Ancaman Trump ke Negara Mitra Iran: Sanksi Ekonomi Dahsyat atau Sekadar Gertakan?
Presiden AS Donald Trump mengancam negara-negara yang membantu Iran dengan sanksi ekonomi besar. Namun, analis meragukan efektivitasnya karena China, Turki, dan Pakistan tetap berdagang dengan Iran, dan embargo total memerlukan otorisasi PBB. Iran sendiri mengekspor minyak di bawah 300.000 barel per hari setelah sanksi, tetapi China masih menguasai sebagian besar ekspor.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengeluarkan ancaman keras terhadap negara-negara yang masih menjalin kerja sama dengan Iran. Melalui platform media sosialnya, Truth Social, Trump menyatakan akan menjatuhkan sanksi ekonomi yang besar dan dahsyat bagi siapa pun yang membantu Iran. Ia bahkan menyebut langkah ini sebagai operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah ada, dengan skala perang ekonomi dan isolasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun, ancaman tersebut langsung ditepis oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Ia menilai pernyataan Trump hanyalah upaya mengalihkan perhatian dari krisis internal Amerika Serikat, seperti utang negara yang belum pernah terjadi sebelumnya dan biaya bunga yang melonjak. Pernyataan ini disampaikan Araghchi melalui akun media sosialnya, seperti dikutip Al Jazeera.
Pertanyaannya, seberapa efektif tekanan AS terhadap negara lain untuk menghentikan kerja sama dengan Iran? Iran merupakan anggota OPEC dan minyak menjadi komoditas ekspor utamanya. Sebelum konflik terbaru, Iran mengekspor sekitar 1,3 juta hingga 1,5 juta barel minyak mentah per hari, menghasilkan pendapatan hingga $115 juta per hari atau sekitar $3,45 miliar per bulan.
Situasi berubah drastis setelah Iran menutup Selat Hormuz pada awal Maret sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel. AS kemudian memblokade kapal-kapal yang menuju pelabuhan Iran. Akibatnya, pada Mei, ekspor minyak mentah Iran merosot ke level terendah dalam enam tahun, di bawah 300.000 barel per hari. Namun, setelah nota kesepahaman (MoU) pada Juni yang menghentikan perang, Iran sempat diizinkan mengekspor minyaknya kembali, meski kemudian sanksi AS diberlakukan lagi setelah periode MoU berakhir.
Data terbaru menunjukkan ekspor non-minyak Iran antara Maret hingga Agustus mencapai hampir $15 miliar, sementara impor mencapai $17 miliar, dengan total perdagangan turun 24 persen dibandingkan tahun lalu. Mitra dagang utama Iran meliputi UEA, China, India, Turki, dan Jerman. UEA bahkan telah mengumumkan embargo perdagangan tanpa batas waktu terhadap Iran pekan ini.
Meski demikian, analis menilai sanksi AS tidak akan mampu menghentikan total perdagangan Iran. Frederic Schneider, peneliti senior di Middle East Council on Global Affairs, mengatakan ekspor minyak Iran justru mencapai rekor tertinggi sekitar 1,7 juta barel per hari, dengan sebagian besar dikuasai China. China bahkan melarang perusahaannya mematuhi sanksi AS, sementara Turki dan Pakistan tetap menjalin hubungan dagang dengan Iran. Ankara sejak 2018 menyatakan tidak akan bergabung dengan sanksi AS.
Pengacara internasional Shantanu Singh menegaskan bahwa tidak ada negara yang bisa memberlakukan embargo total tanpa otorisasi Dewan Keamanan PBB. Yang bisa dilakukan AS hanyalah sanksi sepihak yang melumpuhkan penggunaan lembaga keuangan AS untuk transaksi dengan Iran. Paul Musgrave, profesor di Universitas Georgetown Qatar, juga meragukan efektivitas ancaman Trump, karena penerapan sanksi terkoordinasi membutuhkan keterlibatan China, Rusia, dan Dewan Keamanan PBB, di mana Beijing dan Moskow memiliki hak veto dan hubungan dekat dengan Iran.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)