Anak Sulung dari Keluarga Sederhana di Padang Tembus Jepang, Jadi PMI Pertama dari Program Pelatihan FPM Koto Lua
Yoga Pratama, pemuda 18 tahun asal Koto Lua, Padang, menjadi peserta pertama dari program pelatihan bahasa dan budaya Jepang yang berangkat ke Jepang sebagai PMI. Program ini merupakan kolaborasi FPM Koto Lua dan PT Semen Padang. Keberangkatan Yoga diharapkan mengangkat ekonomi keluarganya dan menjadi model pemberdayaan berkelanjutan.
Suasana haru dan bangga menyelimuti Kantor Forum Pemberdayaan Masyarakat (FPM) Koto Lua, Kecamatan Pauh, Kota Padang, pada Senin (24/8/2026). Yoga Pratama, pemuda berusia 18 tahun asal Taratak, Kelurahan Koto Lua, resmi dilepas untuk bekerja di Jepang. Ia dijadwalkan terbang pada Rabu (26/8/2026) dan akan bekerja di sektor pertanian di Numamoto Shinichi, Kota Tsuchiura, Prefektur Ibaraki.
Yoga, lulusan SMA Negeri 15 Padang tahun 2025, merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Huri Dekrinata dan Dewi Sartika. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuatnya memutuskan untuk bekerja setelah lulus SMA, alih-alih melanjutkan kuliah. Ayahnya bekerja sebagai petugas keamanan di PT Telkom, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Keinginan kuat untuk membantu orang tua dan membiayai pendidikan kedua adiknya menjadi pendorong utama.
Kesempatan emas itu datang melalui program pelatihan bahasa dan budaya Jepang yang digagas FPM Koto Lua bekerja sama dengan LPK Kamisato Gakuin Center. Program yang berjalan sejak 2025 ini didukung penuh oleh PT Semen Padang melalui program Basinergi Membangun Nagari. Selama pelatihan, Yoga harus beradaptasi dengan bahasa, budaya kerja, dan kedisiplinan yang baru. Ia menjalani berbagai seleksi dan tes hingga akhirnya dinyatakan lolos sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Dari delapan peserta pelatihan, Yoga menjadi orang pertama yang menuntaskan seluruh proses dan diberangkatkan. "Saya bangga, bersyukur, sekaligus sangat senang bisa menjadi bagian dari program PMI ini. Kesempatan tersebut sangat luar biasa dalam hidup saya," ujarnya. Ia bertekad memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Kontrak kerja Yoga berdurasi satu tahun dan berpeluang diperpanjang hingga lima tahun. Ia bercita-cita setelah sukses di Jepang, akan membuka usaha rumah kos di kampung halamannya. "Target saya setelah sukses di Jepang dan kembali ke Indonesia adalah membuka usaha rumah kos," katanya. Yoga juga menyampaikan terima kasih kepada PT Semen Padang dan FPM Koto Lua atas dukungan yang diberikan.
Ketua FPM Koto Lua, Nofial, menjelaskan bahwa dari delapan peserta, empat orang telah mendapatkan kontrak kerja di Jepang. Namun, baru Yoga yang diberangkatkan. Tiga peserta lainnya masih menunggu Certificate of Eligibility (COE). Untuk mengatasi kendala biaya keberangkatan yang mencapai Rp30 juta, FPM Koto Lua telah menggandeng investor yang menyediakan dana talangan. Dana tersebut akan dikembalikan oleh peserta setelah bekerja di Jepang, diperkirakan dalam waktu sekitar empat bulan.
Keberangkatan Yoga disambut positif oleh berbagai pihak. Ketua LPM Koto Lua, Indra Gunawan, menilai program ini berpotensi mengurangi jumlah rumah tangga miskin. "Satu orang yang berangkat bekerja ke Jepang berpotensi mengangkat satu keluarga dari kategori RTM," ujarnya. Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, menyebut program ini sebagai investasi sosial jangka panjang untuk menekan angka kemiskinan. Kepala Unit CSR PT Semen Padang, Hernes, berharap pencapaian Yoga dapat memotivasi pemuda lainnya untuk mengikuti jejak yang sama.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)