200 Penumpang Kapal Pesiar Mewah Terdampar di Kamboja, Operator Kehabisan Uang Beli Bahan Bakar

Lebih dari 200 penumpang kapal pesiar Villa Vie Odyssey terdampar di Sihanoukville, Kamboja, setelah operator tak mampu membeli bahan bakar akibat lonjakan harga. Penumpang mengeluh diminta turun dan mencari akomodasi sendiri, sementara perusahaan akan merestrukturisasi dalam 60 hari.

Oct 29, 2026 - 08:02
Updated: 2 days ago
0
200 Penumpang Kapal Pesiar Mewah Terdampar di Kamboja, Operator Kehabisan Uang Beli Bahan Bakar
200 Penumpang Kapal Pesiar Mewah Terdampar di Kamboja, Operator Kehabisan Uang Beli Bahan Bakar

Lebih dari 200 penumpang kapal pesiar Villa Vie Odyssey terpaksa terdampar di Pelabuhan Sihanoukville, Kamboja, sejak Selasa (27/10). Penyebabnya, operator kapal asal Amerika Serikat, Villa Vie Residences, kehabisan dana untuk membeli bahan bakar sehingga perjalanan dihentikan sementara.

Seorang penumpang, Steve Skulnich, mengungkapkan bahwa ia dan penumpang lain diminta turun dari kapal. "Kami diminta turun dari kapal kemarin. Mereka kehabisan uang. Mereka tidak punya dana lagi untuk membeli bahan bakar," ujarnya kepada Channel News Asia (CNA).

Menurut Skulnich, pihak kapal bahkan sampai meminta-minta uang kepada para penumpang agar bisa melanjutkan perjalanan ke pelabuhan berikutnya. Namun, tidak ada penumpang yang bersedia memberikan bantuan tersebut.

Villa Vie Residences dalam pernyataannya menyebut lonjakan harga bahan bakar yang "luar biasa" akibat perang AS vs Iran sebagai penyebab kesulitan operasional. Biaya bahan bakar bulanan per kabin di sejumlah wilayah Asia dilaporkan melonjak dari US$1.800 menjadi US$8.000. Perusahaan mengaku telah berupaya menekan pengeluaran dengan memperlambat perjalanan kapal dan memperpanjang waktu singgah di pelabuhan, tetapi tetap tidak mampu mengimbangi kenaikan biaya.

Penumpang lain, Paul Montoya, membantah klaim perusahaan yang menyatakan telah menyediakan akomodasi bagi seluruh penumpang. "Dalam siaran persnya, mereka menyatakan telah menyediakan akomodasi bagi seluruh penumpang kapal, padahal kenyataannya tidak demikian. Kami harus mencari akomodasi sendiri," kata Montoya.

Jim Chris Guld, penumpang lainnya, mengaku kecewa meski memahami situasi di luar kendali perusahaan. Ia berharap perjalanan yang telah dibayar tetap dapat dilanjutkan. "Tentu saja, kami berharap segalanya bisa berjalan dengan cara yang berbeda," ucap Guld.

Russ Borman menambahkan bahwa banyak penumpang tidak memiliki tempat tujuan setelah kapal berlabuh di Kamboja. "Masalahnya, banyak orang tidak punya tempat tujuan lain. Kapal ini adalah rumah bagi mereka. Mereka telah menginvestasikan seluruh uang mereka, sampai menjual rumah mereka di Amerika Serikat, Australia, atau negara asal lainnya, dan kini tidak punya tempat untuk dituju," tuturnya.

Villa Vie Odyssey telah berlayar selama 755 hari sejak berangkat dari Belfast, Irlandia Utara, pada Oktober 2024. Kapal sepanjang 200 meter ini menawarkan perjalanan keliling dunia ke sekitar 150 negara dengan fasilitas bar, restoran, dek kolam renang, dan lapangan pickleball. Harga kabin hunian permanen berkisar US$120.000 hingga US$440.000, sedangkan penyewa kabin membayar mulai US$3.500 per bulan.

Operator menyatakan akan menggunakan 60 hari ke depan untuk restrukturisasi dan rekapitalisasi, serta mengoordinasikan tempat tinggal sementara bagi penumpang. Sejak pertama berangkat, kapal sempat tertunda peluncurannya selama empat bulan di Belfast dan tidak pernah mencapai kapasitas maksimum 650 orang. Saat ini, Odyssey membawa 203 penumpang dan 156 kru.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User