Willy Aditya Ajak Anak Muda Mengenal Pancasila Lewat Komik, Digelar di Padang Dua Hari

Anggota DPR Willy Aditya membedah komik Pancasila untuk Pemula di Padang selama dua hari, di Universitas Andalas dan Rumah Walikota Padang. Lewat komik, ia ingin Pancasila tampil lebih ringan dan inklusif, bukan sekadar materi indoktrinasi. Para narasumber menilai karya ini membuktikan Pancasila tetap relevan dan belum menjadi fosil bagi generasi muda.

Oct 30, 2026 - 12:02
Updated: 8 hours ago
0
Willy Aditya Ajak Anak Muda Mengenal Pancasila Lewat Komik, Digelar di Padang Dua Hari
Willy Aditya Ajak Anak Muda Mengenal Pancasila Lewat Komik, Digelar di Padang Dua Hari

Pancasila coba didekatkan kembali kepada generasi muda melalui medium yang lebih ringan, yakni komik. Anggota DPR Willy Aditya membedah karyanya berjudul Pancasila untuk Pemula dalam dua hari berturut-turut di Padang, Sumatera Barat. Acara pertama berlangsung di Universitas Andalas pada Kamis (29/10/2026), lalu dilanjutkan di Rumah Walikota Padang pada Jumat (30/10/2026).

Antusiasme peserta terbilang tinggi. Mahasiswa, guru sekolah, hingga penggiat literasi di Sumatera Barat hadir dalam kegiatan tersebut. Willy, yang merupakan penulis cerita komik itu, tampil sebagai keynote speaker. Sejumlah narasumber turut hadir, antara lain Sudarmoko dari Unand, Charles Simabura selaku Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Unand, serta Irene Camelyn Sinaga, Direktur Pengkajian Materi Pembinaan Ideologi Pancasila BPIP.

Dalam pidatonya, Willy menawarkan gagasan bahwa Pancasila bisa tampil lebih ringan tanpa kehilangan daya kena bagi bangsa. Komik dipilih karena mediumnya mudah dimasuki siapa saja. Lewat gambar dan alur cerita, menurutnya, Pancasila akan lebih mudah dimengerti berbagai kalangan, terutama kaum muda. Selama ini Pancasila kerap dipahami sebagai materi indoktrinasi, padahal dalam komik ini ia dikenalkan sebagai produk pemikiran, kesepakatan bersama sebagai dasar negara, sekaligus nilai hidup bangsa yang inklusif.

Willy menjelaskan pendekatan metodologis yang dipakainya. Ia menyajikan Pancasila secara induktif, sehingga pemahaman dan pemaknaannya berangkat dari bawah atau warga, bukan dari atas atau negara. Ia berpijak pada diktum yang dimulai Bung Karno. "Saya meletakkan sebuah pendekatan diktum yang dimulai oleh Bung Karno: saya bukan penemu Pancasila, tapi orang yang mempromosikan Pancasila. Pancasila lahir dan tumbuh dari bumi Nusantara. Premis itu yang saya gunakan dengan pendekatan metodologis yang induktif, bukan deduktif," ujar Willy.

Ia lalu menjawab pertanyaan tentang apa itu Pancasila dengan bahasa yang membumi. Menurutnya, ketika orang berbeda tetapi bisa bekerja sama, itulah harmoni. Ketika bisa duduk dan berdialog bersama meski berbeda-beda, itulah musyawarah. Mengutip Bung Karno, jika diperas menjadi Trisila dan Ekasila, jati diri bangsa adalah gotong royong. Willy menegaskan komik ini mengajak anak bangsa aktif memberi makna atas Pancasila dan tidak membiarkannya dimonopoli negara. Namun, pengetahuan saja tidak cukup. "Yang paling penting dari menjalankan ideologisasi Pancasila ini adalah elan gerakan, bukan business as usual. Pancasila hanya akan menjadi mitologi kalau kita terjebak menjalankannya secara business as usual," katanya.

Dari sisi pembinaan ideologi, Irene Camelyn Sinaga menilai komik ini sebagai upaya mengaktualisasikan Pancasila secara konkret. Ia mengapresiasi Willy yang dinilainya mengaktualisasikan Pancasila melampaui ruang dan waktu melalui karya konkret. Irene juga menyoroti sejarah perumusan Pancasila yang inklusif dan merangkul kelompok marginal atau minoritas. Mengutip Bung Hatta, ia menyebut ketika sila Ketuhanan naik menjadi sila pertama, fundamen moral memimpin seluruh fundamen politik di negara. Soal sila keempat, ia menegaskan musyawarah bukan soal menang-kalah atau hitung-hitungan angka, melainkan dipimpin oleh hikmat dan moral untuk mencapai kebaikan bersama.

Sudarmoko menilai komik ini menjawab kekhawatiran bahwa Pancasila kian jauh dari perbincangan anak muda. Menurutnya, karya Willy membuktikan Pancasila belum menjadi fosil atau artefak yang kaku, melainkan nilai hidup yang tetap bisa dibicarakan, digali, dan didiskusikan terus-menerus. Ia optimistis Pancasila tetap relevan menghadapi tantangan algoritma AI hingga tahun 2045 karena sifatnya sebagai nilai dan dasar filosofis yang fleksibel serta mampu ditafsirkan secara kreatif sesuai zamannya.

Sementara itu, Charles Simabura membawa pembicaraan ke sejarah penafsiran Pancasila. Ia mengingatkan bahwa pada masa lalu Pancasila kerap diterjemahkan secara sepihak oleh penguasa sebagai instrumen indoktrinasi dan alat meredam kritik. "Ternyata yang salah bukan Pancasilanya, melainkan penyalahgunaannya," ujarnya. Charles menilai sudah saatnya perdebatan itu ditinggalkan dan tidak lagi mendikotomi Pancasila versi negara atau versi rakyat, karena nilai-nilai ketuhanan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sejatinya sudah hidup dan melekat di dalam diri masyarakat Indonesia. Ia juga memaknai kata pemula pada judul komik, bahwa semua orang adalah pemula ketika mau kembali berefleksi dan mempelajari nilai yang mempersatukan bangsa.

Jika literasi dan semangat gerakan itu tumbuh, Willy berharap Pancasila menjadi diskursus umum di kalangan anak bangsa. Pada titik itu, Pancasila tidak lagi menjadi pemikiran yang mengawang-awang karena terlalu abstrak atau berjarak dari realitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebaliknya, ia diharapkan menjadi pemikiran yang bisa dibumikan sekaligus falsafah yang bisa dioperasionalisasikan. Dari ruang diskusi di Padang itu, arah yang hendak dituju tampak jelas, bukan Pancasila yang makin dihafal, melainkan Pancasila yang terus dinarasikan oleh banyak suara dari bawah, yakni seluruh bangsa Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User