Siswa SDN 11 Belakang Tangsi Padang Antusias Ikuti Simulasi Tsunami Nasional 2025

Ratusan siswa SDN 11 Belakang Tangsi Padang mengikuti simulasi tsunami 2025. Latihan evakuasi ini ajarkan kesiapsiagaan dan langkah keselamatan sejak dini.

Nov 5, 2025 - 12:59
Nov 5, 2025 - 12:59
 0
Siswa SDN 11 Belakang Tangsi Padang Antusias Ikuti Simulasi Tsunami Nasional 2025
Ratusan siswa SDN 11 Belakang Tangsi mengikuti mitigasi dan simulasi penyelematan bencana di Padang, Rabu (4/11). ANTARA/FathulAbdi

Padang — Suasana pagi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 11 Belakang Tangsi, Kota Padang, Sumatera Barat, tampak berbeda pada Rabu (5 November 2025). Sejak pukul 09.30 WIB, ratusan siswa berbaris rapi di halaman sekolah, menanti instruksi simulasi tsunami yang merupakan bagian dari kegiatan nasional mitigasi bencana.

Kegiatan ini dilaksanakan serentak di berbagai lembaga pendidikan dan instansi di Kota Padang sebagai bagian dari Gerakan Nasional Kesiapsiagaan Bencana, dengan dukungan Pemerintah Kota Padang, BPBD Sumbar, serta Polresta Padang. Tujuannya sederhana namun vital: melatih kesiapan dan respons cepat masyarakat, terutama generasi muda, dalam menghadapi bencana alam seperti gempa dan tsunami.

Sekitar pukul 10.00 WIB, sirine pertama tanda gempa terdengar menggema di seluruh kawasan Belakang Tangsi. Tanpa menunggu lama, para siswa yang sebelumnya telah mendapat arahan dari guru langsung bergerak menuju lapangan sekolah — area yang telah ditetapkan sebagai tempat evakuasi sementara.

“Begitu sirine berbunyi, semua siswa langsung berkumpul di lapangan sesuai prosedur. Kami sudah melatih mereka untuk tidak panik dan mengikuti instruksi dengan tertib,” ujar Kepala Sekolah SDN 11 Padang, Sulistiani, saat ditemui di lokasi.

Namun latihan tak berhenti di situ. Tak lama kemudian, sirine kedua kembali berbunyi, menandakan peringatan dini tsunami. Seketika, para guru dan relawan mengarahkan para siswa untuk melakukan evakuasi menuju bangunan tinggi terdekat yang telah ditetapkan sebagai tempat perlindungan jika gelombang tsunami benar-benar datang.

Bangunan yang menjadi tujuan kali ini adalah Gedung Fase VII di kawasan Pasar Raya Padang — salah satu lokasi evakuasi vertikal resmi yang disiapkan oleh BPBD.

“Para siswa langsung berlari menuju Fase VII dengan semangat. Jaraknya sekitar dua puluh menit berjalan kaki dari sekolah, dan semuanya mengikuti arahan dengan baik,” jelas Sulistiani.

Kegiatan simulasi tsunami di SDN 11 Padang ini tidak sekadar formalitas tahunan. Menurut Sulistiani, pendidikan kebencanaan harus dimulai sejak dini, agar anak-anak tumbuh dengan pemahaman yang kuat tentang keselamatan.

“Kita memang tidak berharap bencana terjadi. Tapi ketika bencana datang, anak-anak harus tahu apa yang harus dilakukan. Edukasi seperti ini sangat penting,” ujarnya tegas.

Simulasi tersebut berlangsung dalam suasana tertib dan penuh semangat. Para siswa terlihat antusias mengikuti setiap instruksi dari guru dan tim relawan. Beberapa di antaranya bahkan sudah menghafal jalur evakuasi tanpa melihat peta.

Di sepanjang rute menuju lokasi evakuasi, personel Polresta Padang dan relawan bencana turut berjaga, mengatur lalu lintas dan memastikan anak-anak menyeberang dengan aman. Kolaborasi antara pihak sekolah, kepolisian, dan relawan ini menjadi bukti nyata sinergi masyarakat dalam mewujudkan Padang sebagai kota tangguh bencana.

Sulistiani menyampaikan bahwa SDN 11 Padang secara rutin melaksanakan kegiatan edukasi dan simulasi kebencanaan setiap tiga bulan sekali. Program ini mencakup latihan evakuasi gempa, simulasi kebakaran, serta penyuluhan mitigasi bencana dari berbagai instansi terkait.

“Setiap tiga bulan kami melakukan latihan seperti ini, agar siswa tidak lupa langkah-langkah keselamatan. Ini bagian dari pembiasaan dan pembentukan karakter disiplin,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa pihak sekolah bekerja sama dengan BPBD, Dinas Pendidikan, dan kepolisian untuk terus memperbaharui informasi mengenai titik aman, jalur evakuasi, serta panduan keselamatan terbaru.

“Melalui latihan berulang, anak-anak semakin paham dan tidak mudah panik. Bahkan mereka bisa mengingatkan orang dewasa di rumah nanti,” tambahnya.

Salah satu siswa kelas 6B, Alzam, mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari kegiatan ini. Dengan wajah serius, ia menjelaskan kembali hal-hal penting yang baru dipelajari.

“Saat bencana terjadi, yang pertama harus dilakukan adalah tidak boleh panik dan tidak boleh cemas. Setelah itu, segera lari mencari tempat evakuasi yang aman,” ujar Alzam dengan penuh keyakinan.

Baginya, simulasi ini bukan sekadar permainan, tetapi pelajaran penting yang akan diingat seumur hidup. “Sekarang saya tahu kalau sirine berbunyi, artinya harus siap-siap dan langsung bergerak ke tempat tinggi,” tambahnya.

Pernyataan Alzam menggambarkan esensi dari kegiatan simulasi ini — menanamkan pengetahuan sekaligus membentuk mental tangguh sejak usia dini.

Kegiatan mitigasi dan simulasi tsunami yang dilakukan di SDN 11 Belakang Tangsi Padang ini selaras dengan upaya Pemerintah Kota Padang untuk menjadikan kesiapsiagaan bencana sebagai budaya masyarakat.
Kota Padang memang dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki potensi tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami, karena letaknya yang berdekatan dengan zona subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia.

Oleh sebab itu, kegiatan seperti ini menjadi bagian penting dalam program pendidikan kebencanaan nasional, di mana sekolah berperan sebagai titik awal penanaman nilai kesiapsiagaan dan keselamatan.

Kepala BPBD Kota Padang sebelumnya juga menekankan bahwa simulasi ini bukan hanya tentang kecepatan evakuasi, tetapi juga soal kesadaran dan keterlibatan semua pihak.
“Kami ingin menjadikan kesiapsiagaan bukan sekadar kegiatan tahunan, tetapi budaya sehari-hari. Anak-anak harus tahu cara menyelamatkan diri, dan itu dimulai dari sekolah,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan simulasi tsunami di Padang pada 5 November 2025 melibatkan puluhan lembaga pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, termasuk Universitas Ekasakti (UNES) yang juga melaksanakan simulasi serupa di lingkungan kampus.
Langkah kolaboratif ini menunjukkan komitmen bersama seluruh elemen masyarakat dalam membangun Padang sebagai Kota Siaga Bencana.

Bagi SDN 11 Belakang Tangsi, latihan ini menjadi simbol komitmen mereka untuk terus mendidik generasi muda agar tanggap, sigap, dan sadar akan potensi bahaya di sekitarnya.
Sulistiani menutup kegiatan dengan pesan menyentuh kepada seluruh siswa:

“Bencana tidak bisa diprediksi, tapi kita bisa belajar untuk siap menghadapinya. Jadikan latihan ini sebagai pengalaman berharga untuk melindungi diri dan orang lain.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0