Rumah Warga Palestina Dirampas, Israel Ubah Hebron Jadi Basis Militer

Militer Israel mengusir paksa warga Palestina dari rumah mereka di Hebron, Tepi Barat, dan mengubah bangunan menjadi barak serta pos pengawasan militer. Sejak Jumat lalu, sedikitnya 47 warga ditahan dan 293 keluarga atau sekitar 2.200 jiwa terpaksa mengungsi, termasuk bayi, wanita hamil, penyandang disabilitas, dan lansia. Eskalasi ini terjadi menjelang Pemilu Israel di tengah pengetatan blokade dan operasi militer skala besar.

Oct 25, 2026 - 16:02
Updated: 9 hours ago
0
Rumah Warga Palestina Dirampas, Israel Ubah Hebron Jadi Basis Militer
Rumah Warga Palestina Dirampas, Israel Ubah Hebron Jadi Basis Militer

Pasukan militer Israel kembali melakukan tindakan kontroversial di Tepi Barat. Kali ini, warga Palestina di Kota Hebron dipaksa keluar dari kediaman mereka sendiri agar bangunan rumah bisa dialihfungsikan menjadi barak tempur dan pos pengawasan militer. Pengusiran tersebut berlangsung di tengah pengetatan blokade total serta operasi militer skala besar yang digelar tentara Israel di wilayah selatan Tepi Barat yang diduduki.

Laporan kantor berita Palestina, Wafa, menyebutkan bahwa pasukan Israel mengambil alih pemukiman warga di kawasan Khallat Manna dan Dahiyat al-Zaytoun. Tidak hanya di dua kawasan itu, warga di sejumlah lingkungan lain juga dipaksa meninggalkan rumah mereka agar bangunan bisa dijadikan menara pemantau.

Langkah invasif ini disebut dipicu oleh pengetatan keamanan setelah insiden penyerangan ke pangkalan militer cadangan Israel pada Jumat (23/10) lalu. Dalam peristiwa itu, dua tentara Israel tewas, sementara dua pria Palestina yang dituduh sebagai pelaku turut tewas di lokasi kejadian.

Menurut data Perhimpunan Tahanan Palestina (PPS), militer Israel telah menahan sedikitnya 47 warga Palestina dan mengusir paksa 293 keluarga yang mencakup sekitar 2.200 jiwa dari Hebron sejak Jumat lalu. Kelompok yang terusir terdiri dari 127 bayi, 81 wanita hamil, 26 penyandang disabilitas, 134 penderita penyakit kronis, serta 265 lansia di atas usia 60 tahun.

Di saat yang bersamaan, pemukim ilegal Israel dilaporkan mulai mendirikan dua pos pemeriksaan baru di atas tanah milik warga Palestina di Kota Yatta, sebelah selatan Hebron. Aktivis lokal Osama Makhamra mengungkapkan bahwa para pemukim mendatangkan buldoser dan alat berat serta mendirikan tenda-tenda konstruksi di kawasan Khallet al-Fara dan gurun Yatta untuk menginstalasi jaringan air dan listrik secara ilegal.

Sementara itu, di dekat Bethlehem, pasukan Israel terus menutup jalan-jalan utama serta akses penghubung antar desa selama tiga hari berturut-turut hingga Minggu (25/10). Pasukan bahkan menutup jalur-jalur tanah alternatif menuju Kota Tuqu dan menembakkan gas air mata serta granat kejut ke arah kendaraan warga Palestina yang mencoba melintas.

Eskalasi ketegangan di Tepi Barat ini meletus hanya beberapa hari menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) Israel. Situasi semakin memanas di tengah maraknya aksi kekerasan pemukim ilegal Israel yang menyasar para petani Palestina saat musim panen zaitun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User