Marinir AS di Okinawa Didakwa Bunuh Wanita di Hotel, Jepang Murka dan Desak Washington Bertindak

Anggota Marinir AS Devin Ballard (20) didakwa atas perampokan dan pembunuhan seorang wanita di hotel Naha, Okinawa. Insiden ini memicu kemarahan warga dan protes keras dari pemerintah Jepang. Militer AS memberlakukan jam malam 30 hari dan dialog intensif dengan Jepang untuk meninjau aturan perilaku prajurit.

Oct 25, 2026 - 16:02
Updated: 8 hours ago
0
Marinir AS di Okinawa Didakwa Bunuh Wanita di Hotel, Jepang Murka dan Desak Washington Bertindak
Marinir AS di Okinawa Didakwa Bunuh Wanita di Hotel, Jepang Murka dan Desak Washington Bertindak

Seorang anggota Marinir Amerika Serikat yang bertugas di Pangkalan Udara Futenma, Okinawa, resmi didakwa atas tuduhan perampokan dan pembunuhan terhadap seorang wanita. Tersangka bernama Devin Ballard (20) didakwa menganiaya korban hingga tewas di sebuah hotel di Naha, ibu kota Prefektur Okinawa, pada 3 Oktober lalu.

Berdasarkan laporan Kyodo News, Ballard melilitkan kabel pengisi daya ponsel ke leher korban hingga tewas sebelum menggasak barang berharga milik wanita tersebut. Aparat kepolisian setempat menangkap Ballard pada 4 Oktober setelah memergokinya berjalan sendirian di area Kota Okinawa beberapa jam usai kejadian.

Insiden berdarah ini memicu gelombang kemarahan warga lokal Okinawa yang telah lama memprotes keberadaan pangkalan militer AS di wilayah mereka. Mereka menilai keberadaan pangkalan militer asing telah menyebabkan berbagai masalah, mulai dari kasus kriminalitas, gangguan kebisingan, hingga pencemaran lingkungan.

Gubernur Okinawa Genta Koja mendesak pemerintah pusat di Tokyo untuk segera mengambil langkah tegas demi mencegah berulangnya kejahatan yang melibatkan personel militer asing. Pemerintah Jepang pun melayangkan protes keras kepada Washington.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengecam tindakan anggota Marinir AS tersebut sebagai kejahatan yang sangat keji. Tokyo mendesak Pemerintah AS untuk kooperatif penuh dalam proses hukum serta memperketat kedisiplinan prajuritnya selama bertugas di wilayah Jepang.

Menanggapi insiden tersebut, komando militer AS di Okinawa memberlakukan kebijakan jam malam selama 30 hari sejak 9 Oktober lalu. Seluruh personel militer AS dilarang meninggalkan pangkalan antara pukul 00.00 hingga 05.00 pagi.

Pemerintah AS dan Jepang kini telah memulai dialog intensif untuk meninjau kembali efektivitas aturan perilaku prajurit di luar pangkalan. Selain itu, mereka merencanakan patroli gabungan antara polisi Jepang dan militer AS di Okinawa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User