Mencegah Jadi Korban Deepfake Pornografi: Pakar Sebut Tak Ada Cara Mutlak

Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya menyatakan tidak ada cara mutlak untuk mencegah seseorang menjadi korban deepfake pornografi selama wajahnya pernah terekam digital. Ia menyarankan pengguna media sosial tidak oversharing foto pribadi dan segera melapor ke polisi jika menjadi korban. Pelaporan penting untuk efek jera bagi pelaku.

Aug 9, 2026 - 02:18
Aug 9, 2026 - 02:18
 0
Mencegah Jadi Korban Deepfake Pornografi: Pakar Sebut Tak Ada Cara Mutlak
Mencegah Jadi Korban Deepfake Pornografi: Pakar Sebut Tak Ada Cara Mutlak

Kasus dugaan deepfake pornografi yang menimpa seorang mahasiswi di Solo kembali menyoroti risiko penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI). Wajah korban diduga dimanipulasi dan ditempelkan pada tubuh orang lain dalam foto dan video tidak senonoh, lalu disebarkan melalui Instagram dan Telegram. Peristiwa ini memicu kekhawatiran publik tentang kemungkinan melindungi diri dari kejahatan serupa.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, pakar keamanan siber Alfons Tanujaya menegaskan bahwa secara teknis tidak ada cara yang dapat sepenuhnya mencegah seseorang menjadi korban deepfake. Menurutnya, selama wajah seseorang pernah terekam dalam bentuk digital—baik melalui media sosial, komputer, maupun kamera pengawas—foto tersebut berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

"Bagaimana caranya kita mencegah agar wajah kita tidak digunakan sebagai sarana untuk memasang gambar AI? Tidak ada, kecuali wajah kamu tidak pernah muncul di media sosial atau di komputer. Kalau kamu pernah muncul saja, ada di CCTV atau apa saja, wajah kamu bisa didapatkan," ujar Alfons saat dihubungi pada Rabu (29/7).

Meski demikian, Alfons menekankan pentingnya kewaspadaan saat membagikan foto pribadi di media sosial. Ia menyarankan pengguna untuk tidak berlebihan mengunggah foto (oversharing). Semakin banyak foto yang tersebar di internet, semakin lengkap referensi bagi AI untuk menghasilkan manipulasi yang menyerupai wajah asli seseorang.

Ia memberikan contoh bahwa hasil manipulasi AI dari satu foto akan berbeda kualitasnya dibandingkan dengan yang diambil dari 10 hingga 50 foto. Dengan lebih banyak sumber, AI dapat menghasilkan gambar yang lebih sempurna. "Jika Anda memiliki media sosial, Anda bisa mengunggah itu, tapi dalam tingkat yang wajar. Makin banyak foto yang kamu unggah, makin sempurna AI yang akan dihasilkan. Itu yang perlu disadari," jelasnya.

Alfons juga menyarankan agar pengguna membatasi akses konten pribadi. "Jadi, jangan overshare. Atau kalau memang tidak ingin diketahui secara umum, batasi saja siapa saja yang bisa mengakses konten yang kita berikan," lanjutnya.

Langkah mahasiswi korban deepfake yang melaporkan kasusnya ke polisi dinilai Alfons sudah tepat. Menurutnya, kasus seperti ini tidak boleh didiamkan. Hanya kepolisian yang berwenang menelusuri pelaku dan meminta data kepada penyedia sistem elektronik untuk mengetahui asal penyebaran konten.

"Kepolisian berhak minta ke penyedia sistem elektronik untuk mendapatkan ini dari media sosial ini, pertama dapatnya dari mana, dan melacak pelakunya, dan memberikan tindakan yang tegas. Itu yang penting," paparnya. Ia menambahkan bahwa pelaporan ini dapat memberikan efek jera bagi pelaku agar tidak sembarangan memanipulasi foto orang lain menjadi konten pornografi.

Dengan demikian, meskipun pencegahan mutlak sulit dilakukan, kesadaran akan risiko dan tindakan hukum yang tegas menjadi kunci dalam menghadapi ancaman deepfake. Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam membagikan informasi pribadi di dunia maya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0