Emisi Karhutla Indonesia 2026 Tembus 180 Juta Ton, Terburuk dalam 24 Tahun

Emisi karbon dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sepanjang 2026 mencapai sekitar 180 juta ton, tertinggi dalam 24 tahun terakhir menurut Copernicus CAMS. Kalimantan Tengah menjadi penyumbang emisi harian terbesar, sementara BNPB mencatat 570,08 hektare lahan di enam provinsi prioritas masih terbakar per 19 Oktober 2026.

Oct 22, 2026 - 12:02
Updated: 16 hours ago
0
Emisi Karhutla Indonesia 2026 Tembus 180 Juta Ton, Terburuk dalam 24 Tahun
Emisi Karhutla Indonesia 2026 Tembus 180 Juta Ton, Terburuk dalam 24 Tahun

Emisi karbon yang dihasilkan dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sepanjang 2026 masuk kategori tertinggi dalam 24 tahun terakhir. Temuan itu disampaikan Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) berdasarkan pemantauan mereka terhadap kebakaran yang melanda hutan, lahan pertanian, hingga lahan gambut di sejumlah wilayah Indonesia.

Menurut data CAMS, sejak akhir Juli 2026 kebakaran di Indonesia telah melepaskan asap dalam jumlah besar. Dampaknya terasa pada penurunan kualitas udara di hampir seluruh wilayah Indonesia, Malaysia, dan Singapura. "Emisi dari kebakaran hutan di Indonesia dari Januari hingga September 2026 termasuk yang tertinggi dalam 24 tahun terakhir," tulis Copernicus dalam unggahan di Instagram, Selasa (20/10).

Citra pemantauan dari aplikasi CAMS Fire Emissions Watch untuk 20 Oktober pukul 09.00 UTC menunjukkan gumpalan asap yang meluas dan hampir menutupi seluruh wilayah Indonesia. Data CAMS Global Fire Assimilation System juga memperlihatkan lonjakan tajam emisi karbon sejak Agustus 2026.

Berdasarkan grafik kumulatif tahunan, emisi hingga Oktober 2026 berada di kisaran 180 juta ton karbon. Angka itu jauh melampaui rata-rata historis sekitar 75-80 juta ton karbon per tahun. Meski demikian, emisi tahun ini masih di bawah rekor 2015 yang tercatat sekitar 380 juta ton karbon, lebih dari dua kali prakiraan emisi Indonesia 2026.

Pada periode mingguan 13-19 Oktober, dari total 35,9 juta ton emisi global, Indonesia menempati posisi teratas sebagai penyumbang emisi dengan 19,6 juta ton karbon, meningkat 245 persen dari rata-rata historisnya. Daerah paling parah adalah Kalimantan Tengah dengan volume emisi karbon harian mencapai 1,32 juta ton, disusul Sumatra Selatan 589 ribu ton, dan Kalimantan Barat 513 ribu ton.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan masih ada 570,08 hektare lahan yang terbakar di enam provinsi prioritas per 19 Oktober 2026. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyebut total target penanganan karhutla di enam provinsi prioritas mencakup 1.024,33 hektare, dengan 454,25 hektare telah berhasil dipadamkan.

Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan luas lahan belum padam terbesar, yakni 389,39 hektare dari total target 452,49 hektare. Sumatera Selatan menyusul dengan 108,50 hektare dari 401,67 hektare, Jambi 64,50 hektare dari 96,50 hektare, serta Kalimantan Selatan 7,50 hektare dari 58,45 hektare. Di Kalimantan Barat tersisa 0,19 hektare dari 11,92 hektare, sedangkan seluruh lahan terdampak di Riau seluas 3,30 hektare dilaporkan sudah padam.

Di luar enam provinsi prioritas, BNPB mencatat karhutla di sejumlah wilayah lain dengan total luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 572,90 hektare. Sekitar 107,77 hektare telah dipadamkan, sementara 465,13 hektare lainnya masih dalam penanganan intensif.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User