Delapan Kandidat Berebut Kursi Sekjen PBB, Siapa yang Paling Diunggulkan?

Lima perempuan dan tiga laki-laki bersaing menggantikan Antonio Guterres sebagai Sekretaris Jenderal PBB yang akan berakhir masa jabatannya pada Desember mendatang. Para pengamat menilai sulit menentukan kandidat favorit karena negara-negara besar terpecah. Setiap calon harus meraih minimal sembilan suara di Dewan Keamanan tanpa veto dari anggota tetap. Rebeca Grynspan dari Kosta Rika disebut-sebut sebagai kandidat terkuat berdasarkan jajak pendapat informal.

Sep 04, 2026 - 12:05
Updated: 2 months ago
0
Delapan Kandidat Berebut Kursi Sekjen PBB, Siapa yang Paling Diunggulkan?
Delapan Kandidat Berebut Kursi Sekjen PBB, Siapa yang Paling Diunggulkan?

Persaingan menuju kursi puncak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) semakin memanas. Delapan kandidat, terdiri dari lima perempuan dan tiga laki-laki, siap bertarung menggantikan Antonio Guterres yang akan mengakhiri masa jabatannya sebagai Sekretaris Jenderal PBB pada Desember mendatang. Namun, para pengamat mengakui sulit untuk menentukan siapa kandidat favorit, mengingat negara-negara besar dunia saat ini terpecah dalam menyikapi hasil pemilihan.

Untuk memenangkan kursi tersebut, setiap kandidat harus meraih minimal sembilan suara dari 15 anggota Dewan Keamanan PBB, baik anggota tetap maupun tidak tetap. Yang lebih menantang, tidak boleh ada satu pun negara anggota tetap yang mengeluarkan veto. Bahkan jika seorang kandidat memperoleh lebih dari sembilan suara, tetapi diveto oleh salah satu negara anggota tetap, maka suaranya akan gugur.

Salah satu kandidat yang mencuri perhatian adalah Rebeca Grynspan dari Kosta Rika. Mantan wakil presiden Kosta Rika yang kini memimpin badan perdagangan dan pembangunan PBB (UNCTAD) ini digadang-gadang menjadi kandidat terkuat. Grynspan, yang saat ini mengambil cuti untuk berkampanye, pernah mencatat prestasi diplomatik dengan menjadi perantara Black Sea Grain Initiative antara Moskow dan Kyiv pada 2022. Ia juga kerap mengkritik PBB sebagai 'organisasi yang konservatif terhadap risiko'.

Kandidat lain yang tak kalah menarik adalah Michelle Bachelet dari Chile. Perempuan pertama yang menjabat sebagai presiden Chile ini pernah menjadi kepala HAM PBB dan berselisih dengan sejumlah negara, terutama China, terkait dugaan pelanggaran HAM terhadap Muslim Uyghur. Bachelet menegaskan bahwa sekretaris jenderal PBB harus memiliki 'suara moral' untuk memimpin, bahkan di bawah tekanan negara-negara besar. Meski didukung Meksiko dan Brasil, Chile justru menarik dukungannya setelah presiden sayap kanan ekstrem Jose Antonio Kast menjabat.

Dari Argentina, Rafael Grossi yang memimpin Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sejak 2019 juga turut bertarung. Pencalonannya terjadi di tengah konflik terkait program nuklir Iran dan pendudukan Rusia atas pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia di Ukraina. Grossi memilih tidak mengundurkan diri dari jabatannya saat ini, dengan alasan hal itu akan menjadi 'pengabaian terhadap tugas'. Sejumlah pengamat menilai ia lebih tegas dalam mendorong reformasi PBB.

Kandidat lainnya termasuk Maria Fernanda Espinosa dari Ekuador yang pernah menjadi presiden Majelis Umum PBB, Carolyn Rodrigues-Birkett dari Guyana yang menjabat duta besar untuk PBB, Ivonne A-Baki dari Ekuador yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden AS Donald Trump, Macky Sall dari Senegal yang merupakan satu-satunya kandidat non-Amerika Latin, serta Olara Otunnu dari Uganda yang pernah menjabat wakil sekretaris jenderal PBB. Semua kandidat kini bersaing ketat untuk meraih dukungan, dan hasil akhirnya akan ditentukan oleh dinamika politik di Dewan Keamanan PBB.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User