Bukan 400 Korban, BGN Sebut 13 Siswa di Bogor Masih Diobservasi Usai Makan MBG
BGN mengungkap dugaan penyebab keracunan siswa SMP di Dramaga, Bogor, berasal dari bumbu kacang pada menu sate MBG yang sudah digiling, bukan diproses dari awal. BGN juga meluruskan jumlah korban yang sebenarnya 13 siswa masih diobservasi, bukan 400 orang seperti diberitakan. SPPG penyedia menu telah disuspensi dan sampel makanan masih diuji.
Badan Gizi Nasional (BGN) buka suara soal dugaan keracunan yang dialami sejumlah siswa SMP di Dramaga, Bogor, Jawa Barat, usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Dugaan sementara, masalah kesehatan itu muncul akibat bumbu kacang pada menu sate yang disajikan.
"Informasi yang kami dapatkan, dugaan sementara, mereka mendapatkan dampak terhadap kesehatan mereka atas menu sate yang diduga ini dari bumbu kacangnya," kata Juru Bicara BGN Tysa Novenny kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/10).
Menurut Tysa, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG penyedia menu tersebut tidak mengolah bumbu kacang dari awal. Berdasarkan investigasi yang masih berjalan, dapur itu menggunakan bumbu kacang yang sudah dalam kondisi digiling.
"Setelah dilakukan investigasi, sampai saat ini masih dilakukan investigasi, bumbu kacangnya itu ternyata diketahui oleh SPPG yang bersangkutan itu, bumbu kacangnya, bumbu yang kacangnya sudah digiling. Jadi, bukan diproses dari awal," ujar Tysa.
Saat ini sampel makanan masih terus diuji. BGN juga telah menjatuhkan suspensi terhadap SPPG terkait.
Dalam kesempatan itu, Tysa meluruskan jumlah siswa yang terdampak. Ia menegaskan angka yang beredar bukan 481 orang, melainkan 13 siswa yang masih dalam observasi.
"Soal peristiwa yang berdampak terhadap kesehatan di Bogor tersebut, kami ingin klarifikasi bahwa jumlah korbannya tidak 400 orang seperti yang diberitakan oleh sejumlah media. Yang benar adalah, sampai dengan sore hari ini, jumlah korban atau kita menyebutnya mereka yang terdampak dan masih dalam observasi, itu sebanyak 13 orang," jelasnya.
Data tersebut diperoleh dari tim lapangan yang terdiri dari BGN Pusat, Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG), dan tim asistensi. Tysa menjelaskan, para siswa menyantap MBG pada Senin (26/10) siang, bukan Selasa. Baru pada Selasa dini hari beberapa siswa mengeluhkan diare.
Ia pun memaparkan awal mula angka 400 muncul. Pada Selasa pagi, guru mengumpulkan siswa yang mengonsumsi MBG hari sebelumnya dan menanyakan apakah mereka merasakan sakit perut. Sebanyak 400 siswa menjawab merasakan sakit perut dan kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat.
"Dari siswa tersebut ketika ditanya, mereka mungkin ada rasa seperti psikosomatis ya, ada yang ditanyakan ada rasa sakit perut enggak? Akhirnya 400 orang bilang kayaknya saya sakit perut. Nah, kemudian 400-nya itu dibawa ke rumah sakit terdekat," tutur Tysa.
Dari 400 orang yang dipantau, 40 orang membutuhkan observasi lanjutan hingga siang hari. Hingga sore, jumlah siswa yang masih diobservasi tersisa 13 orang dari total lebih dari 2 ribu penerima MBG di dua sekolah di Dramaga, Bogor.
"Kami tentu tidak mengecilkan peristiwa yang berdampak terhadap kesehatan para penerima manfaat itu, tapi dari data yang kami dapatkan, saat ini ada 13 orang yang masih diobservasi di rumah sakit terdekat dari total 2 ribu lebih penerima manfaat dari dua sekolah di Dramaga, di Bogor," ujarnya.
Sementara itu, Bupati Bogor Rudy Susmanto menyatakan sebagian besar siswa SMP yang diduga keracunan sudah dipulangkan karena kondisi mereka membaik. "Alhamdulillah, kondisi para siswa berangsur membaik dan stabil bahkan akan dipulangkan," kata Rudy, Selasa (27/10).
Rudy menyebutkan para siswa sebagian besar ditangani tim kesehatan Puskesmas Cangkurawok, dan sejumlah orang sempat dirujuk ke beberapa rumah sakit. Ia memastikan seluruh biaya pengobatan ditanggung Pemerintah Kabupaten Bogor, baik di rumah sakit pemerintah, puskesmas, maupun rumah sakit swasta yang menjadi rujukan Puskesmas Cangkurawok.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)