BMKG Prediksi Gempa Susulan di NTT Masih Berlanjut, Ini Durasi yang Diperkirakan

BMKG mencatat 2.119 gempa susulan di Flores, NTT, hingga 18 Agustus. Gempa susulan diperkirakan berlangsung 3-4 minggu ke depan. Gempa utama M7,7 memicu tsunami setinggi 1,6 meter, menewaskan 53 orang dan melukai 137 lainnya. Tim BMKG diterjunkan untuk survei dan edukasi.

Sep 06, 2026 - 11:49
Updated: 2 months ago
0
BMKG Prediksi Gempa Susulan di NTT Masih Berlanjut, Ini Durasi yang Diperkirakan
BMKG Prediksi Gempa Susulan di NTT Masih Berlanjut, Ini Durasi yang Diperkirakan

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 2.119 gempa susulan telah mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Selasa pagi (18/8) pukul 05.00 WIB. Rentetan gempa susulan ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengungkapkan bahwa berdasarkan data sementara, aktivitas gempa susulan ini diprediksi akan berakhir dalam kurun waktu tiga hingga empat minggu ke depan. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan tertulisnya pada Selasa (18/8).

Gempa susulan yang terjadi memiliki kekuatan magnitudo mulai dari 1,3 hingga 6,2. Dari total ribuan kejadian tersebut, sebanyak 24 gempa berkekuatan magnitudo lebih dari 5, dan 70 di antaranya dirasakan oleh masyarakat.

Gempa bumi utama yang memicu rentetan susulan ini terjadi pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB dengan magnitudo 7,7. Gempa dangkal tersebut disebabkan oleh aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault). Gempa ini juga memicu tsunami di sejumlah wilayah.

BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami pada 2 menit 16 detik setelah gempa utama, dengan status ancaman Siaga (0,5–3 meter) dan Waspada (<0,5 meter). Wilayah yang masuk status Siaga antara lain Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, Flores Timur, dan Jeneponto. Sementara status Waspada berlaku untuk Flores Timur, Bima, Dompu, dan Wajo. Peringatan dini berakhir pada pukul 07.30 WIB, sekitar 2 jam 31 menit setelah gempa.

Observasi stasiun pasang surut menunjukkan tsunami terjadi di 16 lokasi yang tersebar di empat provinsi: NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Ketinggian tsunami tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT, mencapai 1,605 meter pada pukul 05.03 WIB, sedangkan yang terendah berada di Bakalang, Alor, NTT, dengan ketinggian 0,14 meter pada pukul 05.41 WIB.

Dampak gempa utama M7,7 ini cukup berat. Berdasarkan data sementara, gempa menyebabkan 53 orang meninggal dunia dan 137 orang luka-luka. Kerusakan terjadi di sejumlah wilayah, terutama Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka dan Maumere, dengan tingkat kerusakan bervariasi dari ringan hingga berat.

Menanggapi situasi ini, BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempa bumi merusak. Kegiatan meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik tanah, monitoring gempa susulan, serta verifikasi dampak tsunami di lapangan. Survei ini bertujuan mendukung pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, termasuk pemetaan mikrozonasi dan penyusunan rekomendasi mitigasi.

BMKG juga melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terdampak untuk memberikan pemahaman yang tepat serta membantu menenangkan warga. Masyarakat diimbau untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa dan tetap waspada terhadap gempa susulan yang masih mungkin terjadi. BMKG berkomitmen terus memantau aktivitas gempa susulan dan akan menyampaikan pembaruan informasi secara berkala.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User