Danantara Siap Borong Saham Saat IHSG Tertekan, Bukan demi Stabilkan Pasar

Danantara Indonesia menyatakan siap masuk ke pasar saham domestik meski IHSG berpotensi anjlok. Kepala Investasi Publik Danantara menegaskan pembelian saham murni berdasarkan valuasi menguntungkan, bukan intervensi. Langkah ini juga menjadi sinyal penenang investor di tengah kekhawatiran penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI.

Oct 10, 2026 - 16:02
Updated: 8 hours ago
0 0
Danantara Siap Borong Saham Saat IHSG Tertekan, Bukan demi Stabilkan Pasar
Danantara Siap Borong Saham Saat IHSG Tertekan, Bukan demi Stabilkan Pasar

Danantara Indonesia memastikan tidak akan ragu masuk ke pasar saham domestik meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami tekanan penurunan. Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management, Rani Piputri, menegaskan bahwa keputusan pembelian saham saat krisis sepenuhnya didasarkan pada perhitungan valuasi yang menguntungkan, bukan untuk menstabilkan pasar.

"Jika terjadi krisis di pasar dan kami merasa hal itu hanya didasarkan pada sentimen eksternal yang sifatnya sangat sementara, maka kami mungkin akan masuk ke pasar," ujar Rani, Sabtu (10/10), dikutip dari Reuters. Ia menambahkan bahwa pihaknya membeli saham pada awal tahun ini karena melihat adanya nilai investasi, bukan bertujuan menstabilkan pasar. Menurutnya, situasi ketika banyak orang tidak menyukai suatu aset justru menjadi peluang untuk mendapatkannya dengan harga bagus, lalu menjualnya kembali saat pasar kembali menyukainya.

Strategi ini juga menjadi sinyal penenang bagi investor yang tengah mengkhawatirkan potensi aksi jual besar-besaran apabila penyedia indeks MSCI merealisasikan penurunan status pasar Indonesia dari emerging market menjadi frontier market pada bulan depan. Jika penurunan klasifikasi tersebut memicu aksi jual lebih lanjut, Rani menyatakan Danantara berpeluang masuk ke pasar apabila langkah itu dinilai menguntungkan. "Kami mungkin akan masuk. Kami mungkin melakukannya, tetapi ada banyak uji tuntas yang harus kami lakukan," ujarnya.

Dari sisi alokasi modal, unit investasi publik Danantara sejauh ini telah menanamkan sekitar US$3 miliar dan berencana menyuntikkan tambahan US$1 miliar hingga akhir tahun. Mayoritas portofolio dialokasikan pada instrumen saham sebesar 65 persen, diikuti pendapatan tetap 30 persen, dan hedge fund 5 persen, dengan seperempat dari total dana difokuskan pada pasar Indonesia.

Selain instrumen konvensional, Danantara mulai melirik sektor kecerdasan buatan (AI). Menyadari relatif terlambat masuk ke sektor tersebut, Danantara menerapkan pendekatan hati-hati dan terukur untuk memitigasi risiko. Rani menegaskan pihaknya tidak memandang tren AI saat ini sebagai gelembung spekulatif. "Kami tidak berpikir AI merupakan gelembung dan kami juga tidak berpikir gelembung itu akan pecah. Namun, kami ingin berhati-hati ketika mulai masuk ke sektor ini karena kami relatif terlambat," ujarnya.

Ia menggambarkan eksposur Danantara terhadap AI sebagai investasi yang dilakukan secara cermat. Menurutnya, mulai banyak pihak yang membicarakan kemungkinan gelembung, dan itu bagus karena dapat menjaga pasar tetap terkendali. Jika semua orang menganggap AI sebagai investasi yang bagus, maka pihaknya justru menghadapi masalah.

Terpisah, Managing Director Global Relations & Communications Danantara Indonesia, Pahala Mansury, mengatakan Danantara diharapkan menghasilkan imbal hasil 200 hingga 300 basis poin di atas biaya modalnya. Biaya modal tersebut tercatat sebesar 5,35 persen berdasarkan penerbitan obligasi dolar AS bertenor lima tahun pada Juni.

Dividen sebesar Rp120 triliun, yang menurut pernyataan Menteri Keuangan periode 2025-2026 Purbaya Yudhi Sadewa akan dibayarkan Danantara kepada pemerintah tahun ini, juga berpotensi tetap disimpan oleh lembaga tersebut. "Kami sedang berdiskusi dengan Menteri Keuangan yang baru, Suahasil. Sejauh ini, indikasi yang kami terima adalah kami masih dapat mengelola dividen tersebut. Namun, tentu saja, kami masih harus menunggu keputusan final," ujar Pahala.

Pahala menegaskan Danantara tidak memiliki mandat eksplisit untuk menstabilkan pasar. "Kami meyakini peran kami seharusnya memastikan bahwa apa pun yang kami lakukan tidak dipandang investor asing sebagai semacam intervensi pasar, melainkan sebagai upaya untuk terus berkontribusi terhadap pendalaman pasar keuangan dan tata kelola yang lebih baik," ujarnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User