60 Tahun Revolusi Budaya China: Warisan Kelam Mao yang Tak Mau Diingat

Pada 2026, China seharusnya memperingati 60 tahun Revolusi Kebudayaan yang digagas Mao Zedong (1966-1976). Namun, pemerintah Beijing enggan mengingat masa kelam tersebut. Media corong pemerintah, People's Daily, pernah menegaskan agar peristiwa itu tidak terulang. Gerakan yang bertujuan menegakkan ideologi komunis murni ini memicu kekacauan dan kekerasan. Mao tetap dipuja rakyat meski kebijakannya menyebabkan bencana.

Aug 27, 2026 - 02:35
Updated: 2 months ago
0
60 Tahun Revolusi Budaya China: Warisan Kelam Mao yang Tak Mau Diingat
60 Tahun Revolusi Budaya China: Warisan Kelam Mao yang Tak Mau Diingat

Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun 2026 menjadi penanda 60 tahun sejak Revolusi Kebudayaan diluncurkan di China. Gerakan yang digagas pendiri China, Mao Zedong, pada periode 1966-1976 itu menjadi salah satu babak kelam dalam sejarah negeri Tirai Bambu. Namun, pemerintah China saat ini tampak enggan untuk mengenang peristiwa tersebut secara resmi.

Pada peringatan 50 tahun Revolusi Kebudayaan pada 2016 lalu, media People's Daily yang merupakan corong pemerintah Beijing sempat menuliskan bahwa gerakan tersebut tidak boleh terulang. Pemerintah kala itu mengakui adanya kesalahan dalam pelaksanaan Revolusi Kebudayaan. Tulisan itu dirilis bertepatan dengan dimulainya gerakan pada 16 Mei 1966.

Sejarah resmi yang diajarkan di sekolah-sekolah China pun disebut tidak banyak menyinggung kekerasan yang terjadi selama Revolusi Kebudayaan. Padahal, gerakan yang bertujuan menghapus pengaruh kapitalisme dan cara hidup tradisional untuk menegakkan ideologi komunis murni itu berlangsung dengan tangan besi. Akibatnya, terjadi kekacauan, kekerasan, dan kerusakan parah di berbagai wilayah China.

Mao Zedong sendiri dikenal sebagai pemimpin dengan kharisma yang sangat kuat. Sebelum Revolusi Kebudayaan, pada 1958-1959, ia meluncurkan kebijakan "Lompatan Jauh Ke Depan" (Great Leap Forward) yang bertujuan mengubah China dari masyarakat agraris menjadi kekuatan industri modern. Namun, kebijakan tersebut justru berujung pada bencana kelaparan besar-besaran.

Meski rakyat menderita kelaparan dan kekurangan pangan, Mao tetap dipuja. Dokter pribadinya, Li Zhi Shui, dalam buku "Kehidupan Pribadi Ketua Mao" menceritakan bahwa pemujaan terhadap Mao justru meningkat saat kondisi ekonomi memburuk. Rakyat meyakini bahwa kesalahan bukan terletak pada Mao, melainkan pada para bawahannya. Mereka berharap Mao datang untuk membereskan segala sesuatu yang dianggap kurang benar.

Sikap tersebut berakar pada tradisi kekaisaran China yang menganggap kaisar tidak pernah salah, hanya disesatkan oleh penasihat dan pejabat istana. Ketika Mao berkunjung ke daerah, rakyat berduyun-duyun menyambutnya dengan tepuk tangan dan pekik "Hidup Ketua Mao". Mao pun sangat menikmati sambutan tersebut dan sering menunjukkannya kepada para pejabat yang mendampinginya.

Mao Zedong wafat pada 9 September 1976. Setelah kepergiannya, Revolusi Kebudayaan dihentikan dan tidak ada pemimpin China yang melanjutkan gagasan tersebut. Hingga kini, peristiwa itu menjadi bagian sejarah yang kontroversial dan jarang dibahas secara terbuka oleh pemerintah China.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User