Trump Isyaratkan Serangan Lanjutan ke Iran, Puluhan Jet Tempur Israel Sudah Mendekat
Amerika Serikat dan Israel disebut tengah menyiapkan aksi militer lanjutan terhadap Iran setelah perang delapan bulan tak membuat Teheran menyerah. Trump menyatakan kemungkinan serangan baru, sementara puluhan jet tempur Israel dilaporkan mendekat ke perbatasan Iran dan kapal induk AS bersiap. Iran memperingatkan konfrontasi militer semakin intensif.
Jakarta, CNN Indonesia -- Ambisi Amerika Serikat dan Israel untuk menghancurkan rezim Iran tampaknya belum surut. Setelah perang berlangsung delapan bulan tanpa membuat Teheran menyerah, kedua negara kini disebut tengah menyiapkan aksi militer lanjutan.
Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan kesiapan tersebut. Saat ditemui wartawan di Gedung Putih pada Kamis (22/10), ia menegaskan kemungkinan serangan baru masih terbuka. "Kami telah menghantam mereka (Iran) habis-habisan, dan kami mungkin akan melancarkan serangan lebih lanjut," ujar Trump, seperti dikutip Al Jazeera. Trump juga mengeklaim mendapat dukungan publik atas perang melawan Iran menjelang pemilihan paruh waktu AS.
Dari pihak Iran, Mehdi Mohammadi, penasihat Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa kedua pihak semakin mendekati saat-saat genting. "Tanda-tanda konfrontasi militer, khususnya antara Iran dan rezim Israel, terlihat semakin intensif," tulis Mohammadi di saluran Telegram-nya pada Rabu (21/10), dikutip Gulf News.
Salah satu indikasi paling mencolok adalah pergerakan puluhan jet tempur Israel yang terbang hingga ke perbatasan Iran. Menurut laporan Axios, operasi skala besar itu bertujuan memproyeksikan kekuatan militer dan mencegah Teheran. Mohammadi juga menyoroti peningkatan penerbangan musuh di atas Irak serta berbagai persiapan militer yang dirancang memberi fleksibilitas maksimal bagi sejumlah skenario. "Musuh telah bergerak semakin dekat ke 'waktu nol'," tulisnya.
Di sisi lain, The Wall Street Journal pada Sabtu (24/10) melaporkan para pelaut Amerika tengah memuat amunisi dan mempersiapkan pesawat di atas kapal perang, termasuk kapal-kapal dalam kelompok serang kapal induk USS George Washington. Persiapan itu semakin jelas setelah para pejabat AS menerima peringatan intelijen bahwa rencana Iran menargetkan warga Amerika telah mencapai tahap lanjut, sebagaimana dilaporkan Axios, CNN, dan NBC News. NBC News menyebut seorang pejabat AS mengonfirmasi keaslian memorandum tersebut, meski peringatan itu tidak menyebut target spesifik, metode serangan, atau negara di luar Timur Tengah.
Washington juga mengurangi kehadiran diplomatik dan militernya di sejumlah kawasan Timur Tengah. Sumber yang mengetahui masalah itu menyebut kepada CNN bahwa penarikan dilakukan karena meningkatnya ancaman eskalasi. Memo tertanggal 23 Oktober kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan intelijen AS menemukan Iran telah secara substansial meningkatkan upaya menargetkan personel AS di Timur Tengah, dengan rencana yang disebut sudah mencapai tahap lanjut.
Pada Jumat, Trump merujuk pada operasi sebelumnya yang menyerupai kampanye militer AS bernama Operasi Epic Fury. "Kita mungkin akan membuat Epic Fury kecil lagi. Atau mereka akan setuju," kata Trump. Pernyataan itu menyusul laporan bahwa para komandan militer senior Amerika telah menyampaikan opsi serangan baru terhadap fasilitas Iran.
NBC News melaporkan opsi tersebut mencakup target baru, terutama pintu masuk dan terowongan di fasilitas nuklir Iran yang terkubur dalam, termasuk Gunung Pickaxe. Target potensial lain adalah Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, dan Pulau Qeshm di Selat Hormuz. Keduanya memiliki nilai strategis besar, dan serangan di lokasi tersebut berpotensi mengganggu pasokan minyak serta pengiriman komersial dengan dampak meluas ke seluruh Teluk dan pasar energi internasional.
Iran sendiri disebut telah bersiap. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf bertemu Pemimpin Tertinggi Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei untuk meninjau perkembangan konflik dengan AS dan Israel. Menurut transkrip pembicaraan, keduanya membahas apa yang disebut pejabat Iran sebagai "perang militer, ekonomi, dan kognitif" yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel, serta menekankan penguatan unsur kekuasaan, kohesi sosial, persatuan nasional, dan mobilisasi publik untuk mendukung rezim Islam.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)