Sumpah Pemuda 2026 Jadi Momentum, Olahraga Dinilai Bukan Sekadar Pelengkap Pembangunan Pemuda
Peringatan Sumpah Pemuda 2026 dinilai tak boleh berhenti sebagai seremoni. Olahraga disebut sebagai instrumen pembangunan manusia yang membentuk kesehatan, karakter, prestasi, dan persatuan pemuda. Diperlukan dukungan fasilitas, pembinaan berbasis sport science, serta tata kelola inklusif agar manfaatnya dirasakan seluruh generasi muda.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 2026 dinilai tidak cukup jika hanya diisi seremoni, pidato penuh slogan, atau unggahan bernuansa nasionalisme di media sosial. Semangat ikrar 1928 harus diterjemahkan ke dalam kebijakan dan kebiasaan yang benar-benar membentuk generasi muda, dan salah satu jalannya adalah olahraga.
Pandangan itu disampaikan Roma Irawan, dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Padang (FIK UNP), dalam artikel opini yang diterima InfoSumbar. Menurutnya, olahraga bukan aktivitas pengisi waktu luang, hiburan, atau mesin pencetak medali semata, melainkan instrumen pembangunan manusia. Di dalamnya terkandung kesehatan, disiplin, pendidikan karakter, kerja sama, kepemimpinan, daya juang, hingga persatuan sosial.
Karena itu, menempatkan olahraga di pinggir agenda pembangunan pemuda disebut sebagai kekeliruan yang harus segera dikoreksi. Ikrar yang lahir melalui Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928 menegaskan persatuan sebagai fondasi identitas dan cita-cita kebangsaan. Tantangan pemuda hari ini memang berbeda, tetapi kebutuhan membangun manusia yang tangguh, sehat, dan mampu bekerja bersama tetap sama.
Roma menyoroti perubahan gaya hidup generasi muda akibat teknologi digital. Kemudahan yang ditawarkan justru melahirkan persoalan serius berupa tubuh yang semakin jarang bergerak dan kehidupan yang didominasi perilaku sedentari. Pemuda yang tumbuh tanpa kebiasaan aktif berisiko menghadapi masalah kesehatan fisik dan mental dalam jangka panjang.
Merujuk pedoman World Health Organization (WHO) tahun 2020, aktivitas fisik ditempatkan sebagai komponen penting dalam menjaga kesehatan sepanjang kehidupan. WHO merekomendasikan anak dan remaja berusia 5-17 tahun melakukan rata-rata minimal 60 menit aktivitas fisik berintensitas sedang hingga berat setiap hari. Sementara orang dewasa berusia 18-64 tahun dianjurkan melakukan aktivitas aerobik sedang 150-300 menit per minggu atau aktivitas berat 75-150 menit per minggu, maupun kombinasi yang setara.
Rekomendasi itu tidak berarti setiap pemuda harus menjadi atlet. Berjalan kaki, bersepeda, berlari, berenang, hingga bermain sepak bola, bulu tangkis, bola basket, dan tenis bisa menjadi pilihan sesuai usia, kondisi fisik, minat, dan lingkungan. Persoalan terbesarnya bukan kurangnya pilihan olahraga, melainkan lemahnya kebiasaan dan dukungan lingkungan, seperti minimnya ruang publik aman, fasilitas terjangkau, waktu memadai, dan komunitas yang mendorong konsistensi.
Selain kesehatan, olahraga dinilai melatih cara berpikir, mengambil keputusan, dan menghadapi tekanan. Melalui latihan dan pertandingan, pemuda belajar menetapkan tujuan, menaati aturan, bekerja sama, menerima kekalahan, mengelola emosi, serta mengevaluasi kekurangan. Namun, olahraga tidak otomatis membentuk karakter baik tanpa pendampingan yang benar, karena bisa pula melahirkan perilaku tidak sportif, kekerasan, tekanan berlebihan, dan obsesi kemenangan.
Karena itu, pelatih, guru, orang tua, dan pengelola kompetisi dituntut memastikan kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Proses latihan, perkembangan keterampilan, konsistensi, keberanian menghadapi kesulitan, dan kemampuan menghormati lawan juga harus dihargai sebagai bagian dari prestasi. Roma juga mengutip temuan Owen dan rekan-rekan (2022) yang menemukan hubungan positif relatif kecil antara partisipasi olahraga dan prestasi akademik, sehingga olahraga tidak dapat ditafsirkan sebagai jaminan langsung keberhasilan akademik.
Untuk pembinaan prestasi, Roma menekankan pentingnya sport science atau ilmu keolahragaan. Fisiologi olahraga membantu menjelaskan respons tubuh terhadap beban latihan dan kebutuhan pemulihan, biomekanika menganalisis gerakan serta efisiensi teknik, psikologi olahraga memahami motivasi dan kesiapan mental, sedangkan analisis performa serta tes dan pengukuran menyediakan data perkembangan kebugaran dan keterampilan. Data itu membantu pelatih menyusun program lebih sesuai, meski tetap harus didukung instrumen valid, prosedur konsisten, dan interpretasi yang mempertimbangkan karakteristik atlet.
Dalam konteks persatuan, olahraga dinilai mempertemukan pemuda dari berbagai daerah, latar belakang sosial, dan lingkungan budaya. Kompetisi pelajar, kejuaraan mahasiswa, pertandingan antarkomunitas, dan kegiatan olahraga masyarakat dapat menjadi ruang interaksi yang memperkuat persaudaraan. Namun, potensi itu tidak akan terwujud jika olahraga dikelola dengan diskriminasi, kekerasan, perundungan, atau fanatisme sempit.
Roma menegaskan peringatan Sumpah Pemuda 2026 harus menghasilkan lebih dari sekadar acara seremonial. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu menjadikannya titik tolak untuk meningkatkan partisipasi pemuda dalam aktivitas fisik, memperluas akses fasilitas olahraga, dan memperbaiki kualitas pembinaan atlet. Program olahraga juga harus dirancang berdasarkan kebutuhan dan diukur berdasarkan dampaknya, bukan sekadar ramai di awal lalu hilang tanpa jejak.
Pada akhirnya, keberhasilan memperingati Sumpah Pemuda tidak diukur dari besarnya panggung, banyaknya spanduk, atau panjangnya pidato, melainkan dari perubahan nyata: semakin banyak pemuda bergerak, semakin baik sistem pembinaan atlet, semakin terbuka akses olahraga, dan semakin kuat persaudaraan yang tumbuh di dalamnya. Olahraga harus dipandang sebagai investasi pembangunan manusia, karena bangsa yang kuat dibangun oleh jutaan pemuda yang sehat, disiplin, tangguh, dan mampu bekerja sama.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)