Studi Ramalkan 2050: Separuh Gaji Bisa Ludes Hanya untuk Makan, Kesenjangan Makin Tajam

Studi terbaru di jurnal Earth's Future memprediksi masyarakat berpenghasilan rendah harus mengalokasikan hingga 50 persen pendapatan untuk makan pada 2050. Peneliti MIT menyebut kesenjangan ekonomi, populasi, produksi pangan, harga energi, dan perubahan iklim sebagai pemicu. Krisis pangan terparah diprediksi terjadi di Afrika sub-Sahara, sedangkan krisis energi menghantam Asia, Eropa Timur, dan Timur Tengah.

Oct 16, 2026 - 08:02
Updated: 24 hours ago
0 0
Studi Ramalkan 2050: Separuh Gaji Bisa Ludes Hanya untuk Makan, Kesenjangan Makin Tajam
Studi Ramalkan 2050: Separuh Gaji Bisa Ludes Hanya untuk Makan, Kesenjangan Makin Tajam

Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Earth's Future memproyeksikan bahwa pada tahun 2050, masyarakat berpenghasilan rendah mungkin harus mengeluarkan hingga setengah dari total pendapatan mereka hanya untuk membeli makanan. Prediksi ini muncul akibat meningkatnya kesenjangan ekonomi yang dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pertumbuhan populasi, produksi pangan, harga energi, hingga dampak perubahan iklim.

Penelitian berjudul "Identifying Key Uncertainties and Drivers of Future Resource Security Outcomes Through a Multisector Scenario Ensemble" ini mengungkap bahwa dampak krisis sumber daya di masa depan tidak akan dirasakan secara merata. Kelas sosial yang berbeda akan menghadapi beban yang sangat kontras. Di beberapa wilayah, penduduk berpenghasilan rendah diprediksi menghabiskan hampir 50 persen gaji mereka untuk kebutuhan pangan, sementara kelompok berpenghasilan tertinggi di wilayah yang sama hanya mengalokasikan sekitar 5 persen dari pendapatan mereka untuk hal yang sama.

"Apa pun yang menghabiskan separuh penghasilan Anda berpotensi mengganggu kestabilan hidup Anda secara keseluruhan karena hanya menyisakan sedikit untuk keperluan dan kebutuhan dasar hidup lainnya," ujar Jennifer Morris, peneliti dari Pusat Sains dan Strategi Keberlanjutan MIT, seperti dikutip dari MIT News.

Morris menambahkan bahwa dalam penelitian yang berfokus pada kesejahteraan manusia, aspek pendapatan menjadi sangat krusial. Selain penghasilan, para peneliti mengidentifikasi 12 faktor utama yang memengaruhi ketersediaan akses terhadap pangan, air, dan energi di masa depan. Faktor-faktor tersebut meliputi kondisi ekonomi, produksi pertanian, kondisi perdagangan, iklim, penggunaan lahan, dan lain sebagainya.

Untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif, penelitian ini menggunakan kerangka kerja Global Change Analysis Model (GCAM) versi 7.1 yang menganalisis keterkaitan antara energi, ekonomi, air, lahan, dan iklim. Metode ini membagi dunia menjadi 32 wilayah, 235 cekungan air, dan 384 wilayah penggunaan lahan, serta melakukan penyesuaian terhadap perkiraan harga komoditas dari waktu ke waktu. Tim peneliti menjalankan simulasi terhadap 3.735 skenario berbeda untuk memahami berbagai kemungkinan hasil sumber daya pada tahun 2050.

Kumpulan skenario tersebut dihasilkan dengan memvariasikan 12 faktor dalam 6 kategori yang lebih luas, yaitu sosioekonomi, skenario representatif intensitas karbon dan konservasi lahan di masa depan, pangan, energi, air, serta dampak perubahan suhu terhadap energi dan air. Dari simulasi ini, para peneliti menyimpulkan bahwa krisis pangan paling parah pada tahun 2050 mungkin akan dialami oleh beberapa bagian di Afrika sub-Sahara. Sementara itu, krisis energi terburuk diprediksi akan dihadapi oleh penduduk berpenghasilan rendah di beberapa bagian Asia, Eropa Timur, dan Timur Tengah.

Meskipun demikian, para peneliti menegaskan bahwa masih terdapat banyak ketidakpastian terkait akses terhadap sumber daya di masa depan, yang berarti proyeksi ini juga memiliki ketidakpastian. Namun, mereka meyakini bahwa proyeksi semacam ini dapat memberikan gambaran yang berguna untuk memetakan area-area yang membutuhkan perhatian khusus. "Setidaknya, ini menyoroti area yang menjadi perhatian dan menunjukkan bahwa area tersebut berbeda di berbagai belahan dunia," kata Morris.

Para peneliti juga memperingatkan para pembuat kebijakan agar mempertimbangkan kombinasi faktor-faktor yang berpotensi menciptakan kerentanan di masing-masing wilayah. "Ini berarti mereka (para pembuat kebijakan) perlu mempertimbangkan kombinasi faktor spesifik yang menciptakan kerentanan di setiap wilayah," ujar Gi Joo Kim, peneliti dari Tulane University. Dengan memahami kombinasi faktor yang unik di tiap daerah, diharapkan kebijakan yang diambil dapat lebih tepat sasaran dalam menghadapi tantangan sumber daya di masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User