Singapura Buka Peluang Tindak Perusahaan Pemicu Karhutla, Denda Capai Rp23 Miliar
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan negaranya tengah menyelidiki perusahaan yang bertanggung jawab memicu karhutla di Indonesia. Jika terbukti bersalah, perusahaan bisa dikenai denda hingga Rp23 miliar berdasarkan Undang-Undang Pencemaran Kabut Lintas Batas Singapura. Singapura juga membuka peluang gugatan perdata dan menawarkan bantuan ke Indonesia serta kerja sama dengan negara ASEAN.
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menegaskan pihaknya sedang menelusuri perusahaan-perusahaan yang diduga menjadi penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Penyelidikan ini menjadi langkah awal sebelum Singapura memutuskan tindakan tegas terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab.
Wong menyampaikan hal tersebut melalui unggahan di Instagram pada Jumat (16/10). Menurutnya, Singapura tidak akan tinggal diam apabila ada perusahaan yang terbukti memicu karhutla dan menimbulkan kabut asap lintas batas.
"Jika diperlukan, kami akan mengambil tindakan berdasarkan Undang-Undang Pencemaran Kabut Lintas Batas Singapura (THPA) dan menjajaki tindakan bersama dengan negara lain," ujar Wong.
Wong mengakui bahwa Singapura tidak dapat mengendalikan cuaca, arah angin, maupun kejadian di luar perbatasan negaranya. Meski demikian, ia berkomitmen untuk melakukan segala upaya melindungi warga dan memperkuat kerja sama dengan negara-negara tetangga.
Berdasarkan THPA, perusahaan yang terbukti bersalah dapat dikenai denda mulai dari 100.000 dolar Singapura hingga 2 juta dolar Singapura, atau setara Rp1,1 miliar sampai Rp23 miliar. Undang-undang itu juga membuka jalur hukum bagi warga maupun lembaga di Singapura untuk mengajukan gugatan perdata terhadap perusahaan pembakar hutan.
Gugatan tersebut dapat mencakup tuntutan ganti rugi finansial atas gangguan ekonomi, gangguan kesehatan atau cedera personal, hingga kerusakan properti yang dialami akibat kabut asap.
Dalam unggahannya, Wong juga membagikan momen saat otoritas Singapura membagikan masker kepada kelompok rentan. Pemerintah disebut menyediakan tempat perlindungan di Community Clubs dan sejumlah pusat residen pilihan. "Kami akan memastikan bahwa dukungan tersedia bagi mereka yang membutuhkan," lanjutnya.
Wong menjelaskan kabut asap yang menyelimuti Singapura berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia yang semakin memburuk akibat musim kemarau panjang. Singapura, katanya, telah menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk mengatasi karhutla dan aktif berkoordinasi dengan negara anggota ASEAN membahas persoalan ini.
Dampak kabut asap terlihat dari memburuknya kualitas udara di Singapura. Pada Rabu, indeks polusi udara sempat menyentuh angka 288 pada pukul 15.00, level tertinggi sejak 2015. Sehari setelahnya, indeks polusi udara di wilayah barat Singapura mencapai 212, angka tertinggi sepanjang 2026.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)