Pertemuan Trump-Putin di Alaska: Eropa Satukan Suara Dukung Ukraina

Menjelang pertemuan Trump-Putin di Alaska, Eropa bersatu mendukung Ukraina dalam perundingan damai perang Ukraina-Rusia.

Aug 11, 2025 - 17:02
 0
Pertemuan Trump-Putin di Alaska: Eropa Satukan Suara Dukung Ukraina
Dari kiri Volodymyr Zelenskyy, Donald John dan Vladimir Putin Trump,

KYIV - Menjelang pertemuan penting antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, negara-negara Eropa sepakat untuk memperkuat dukungan terhadap Ukraina. Mereka menegaskan bahwa setiap langkah menuju perundingan damai tidak boleh dilakukan tanpa melibatkan Ukraina secara langsung.

Pernyataan tegas ini muncul pada Minggu (10/8/2025) dari para pemimpin Inggris, Prancis, Italia, Jerman, Polandia, Finlandia, dan Komisi Eropa. “Jalan menuju perdamaian di Ukraina tidak dapat diputuskan tanpa Ukraina,” bunyi pernyataan bersama mereka. Sikap kompak ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa Eropa tidak ingin dikesampingkan dalam pembicaraan antara Washington dan Moskwa.

Pertemuan Trump-Putin di Alaska: Harapan atau Kekhawatiran?

Gedung Putih mengonfirmasi bahwa pertemuan Trump-Putin akan digelar pada Jumat mendatang di Alaska. Fokus utama adalah mencari jalan keluar bagi perang Ukraina-Rusia yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.

Pertemuan ini dirancang setelah pekan lalu Putin menerima kunjungan Utusan Khusus Presiden AS, Steve Witkoff, di Moskwa. Trump kemudian memaparkan agenda tersebut kepada para pemimpin Eropa. Menurut sumber di Eropa, Putin mengajukan proposal yang antara lain meminta Ukraina menyerahkan wilayah Donbas kepada Rusia, dengan imbalan kesepakatan damai yang mencakup pertukaran wilayah.

Rencana ini memicu kekhawatiran besar, terutama di Kyiv, bahwa Trump mungkin bersedia memberi konsesi kepada Moskwa—sesuatu yang jelas tidak dapat diterima Ukraina.

Ukraina Tak Ingin Tersingkir dari Meja Perundingan

BBC melaporkan adanya kekhawatiran bahwa Trump dan Putin akan memulai pembicaraan dua pihak tanpa Ukraina, kemudian mengundang Presiden Volodymyr Zelenskyy di tahap berikutnya. Hingga kini, Putin belum pernah bertemu langsung dengan Zelenskyy sejak invasi besar-besaran pada Februari 2022.

Wakil Presiden AS JD Vance menyebut Trump sudah membujuk Putin untuk bersedia bertemu Zelenskyy. Namun, Kremlin menegaskan pertemuan itu hanya akan terjadi jika delegasi kedua negara sudah hampir mencapai kesepakatan final.

Eropa Bergerak Cepat

Merespons rencana pertemuan Alaska, Zelenskyy langsung menghubungi sejumlah pemimpin Eropa. Selain itu, pejabat Ukraina dan perwakilan Eropa bertemu JD Vance di luar London untuk mengukur posisi Moskwa dan mengkoordinasikan langkah.

Dalam pernyataan bersama setelah panggilan Zelenskyy, para pemimpin Eropa menegaskan bahwa perundingan damai hanya mungkin tercapai jika ada gencatan senjata atau pengurangan intensitas pertempuran. Mereka menolak ide pertukaran wilayah seperti yang diisyaratkan Trump, dan bersikeras bahwa garis depan saat ini menjadi dasar negosiasi.

Eropa juga menggarisbawahi bahwa perdamaian harus bersifat adil dan abadi, dengan jaminan keamanan kuat bagi Ukraina. Dukungan diplomatik, militer, dan finansial pun akan terus diberikan demi stabilitas kawasan.

Kekhawatiran Eropa Dikesampingkan

Selain Ukraina, negara-negara Eropa khawatir ikut tersingkir dari proses negosiasi. Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan menulis di X (Twitter) bahwa Eropa harus menjadi bagian dari solusi karena keamanan mereka sendiri juga dipertaruhkan.

Zelenskyy, melalui unggahan di X, berterima kasih atas dukungan Eropa. Ia menegaskan bahwa akhir perang harus adil dan menguntungkan semua pihak yang berjuang mempertahankan prinsip keamanan internasional.

Suara dari AS dan NATO

Senator AS Lindsey Graham menekankan bahwa kesepakatan damai tidak boleh memberi peluang bagi Rusia atau negara agresor lain untuk menggambar ulang peta dunia dengan kekerasan. Ia percaya Trump akan bernegosiasi dari posisi kuat, dengan mempertimbangkan kepentingan Ukraina dan Eropa.

Namun, Kremlin tetap bersikeras pada syaratnya: Ukraina harus menyerahkan wilayah tertentu, membatalkan rencana bergabung dengan NATO, menjadi negara netral, dan menerima pembatasan militer. Kyiv menolak keras, terutama karena beberapa wilayah yang diminta bahkan tidak sepenuhnya dikuasai Rusia.

Situasi di Medan Perang

Menurut analis politik Rusia asal Inggris, Mark Galeotti, strategi Moskwa yang mengepung kota-kota di Ukraina timur telah memberi keuntungan teritorial bagi Kremlin. Putin tampaknya tidak tergesa-gesa, bahkan menunggu langkah AS sebagai keuntungan tersendiri.

Zelenskyy kembali menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menyerahkan wilayah yang tidak dikuasai Rusia. “Keputusan apa pun yang dibuat tanpa kami adalah keputusan yang menentang perdamaian,” ujarnya.

Langkah Lanjut Eropa dan NATO

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menjadwalkan pertemuan darurat para menteri luar negeri untuk membahas strategi ke depan. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menegaskan bahwa Rusia harus mengakui kedaulatan penuh Ukraina dan membiarkan negara itu menentukan masa depannya sendiri.

Rutte menyebut pertemuan di Alaska akan menjadi ujian besar bagi Putin—apakah dia serius ingin mengakhiri perang atau hanya bermain taktik.

Korban dan Dampak Kemanusiaan

Sejak invasi penuh skala dilancarkan Rusia pada Februari 2022, jutaan warga Ukraina terpaksa mengungsi, sementara puluhan ribu nyawa melayang. Tiga putaran perundingan antara Moskwa dan Kyiv tahun ini pun belum menghasilkan kemajuan berarti.

Kini, harapan dunia tertuju pada pertemuan Alaska. Namun, banyak pihak ragu apakah diskusi ini benar-benar akan membawa perdamaian atau justru memicu babak baru ketegangan geopolitik.

What's Your Reaction?

Like Like 1
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0