Mojtaba Khamenei Peringatkan AS: Ganti Presiden Tak Akan Ubah Permusuhan terhadap Iran
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menegaskan kekalahan Donald Trump dalam pemilihan paruh waktu AS tidak akan mengubah sikap Washington terhadap Teheran. Ia menilai harapan akan perubahan kebijakan AS adalah kekeliruan, sekaligus memperingatkan bahwa serangan baru terhadap Iran akan memicu respons lebih luas. Pernyataan ini muncul saat Iran memperingati penyitaan Kedutaan AS tahun 1979.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa kekalahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pemilihan paruh waktu tidak akan mengubah sikap Washington terhadap Teheran. Pernyataan itu disampaikan melalui pernyataan tertulis di situs resminya, beberapa jam setelah Partai Demokrat meraih kemenangan di kedua kamar Kongres dan memberikan pukulan politik bagi Trump.
Khamenei menilai siapa pun yang berharap kebijakan AS terhadap Iran berubah melalui pergeseran partisan atau dengan memberikan konsesi kepada Washington adalah pihak yang sangat keliru. Menurutnya, permusuhan sistem hegemonik terhadap bangsa Iran tidak akan luntur hanya karena pergantian kekuatan politik di Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya, Khamenei juga menyinggung kendali Iran atas Selat Hormuz. Ia menyebut langkah tersebut telah meruntuhkan mitos mengenai ketidakterkalahan militer AS. Ia pun memperingatkan Washington agar tidak kembali melancarkan serangan terhadap Iran, dengan menegaskan bahwa setiap pelanggaran baru akan memicu respons yang jauh lebih besar dari Teheran.
Pernyataan tersebut bertepatan dengan peringatan penyitaan Kedutaan Besar AS di Teheran pada 1979, yang setiap tahun diperingati Iran sebagai Hari Nasional Perjuangan Melawan Kesombongan Global. Khamenei sendiri belum tampil di hadapan publik sejak ayah sekaligus pendahulunya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan AS-Israel terhadap kantornya pada Februari lalu.
Di sisi lain, Trump mengakui bahwa perang AS-Israel melawan Iran kemungkinan turut memengaruhi buruknya hasil pemilu Partai Republik. Namun, ia menilai kenaikan harga bensin menjadi faktor yang lebih berpengaruh terhadap pilihan masyarakat AS. Menurut Trump, orang-orang mungkin mendukung kebijakannya terkait Iran, tetapi belum tentu bersedia menanggung dampak ekonomi jangka pendek berupa kenaikan harga bahan bakar.
Trump juga membuka kemungkinan melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran. Dalam wawancara dengan Fox & Friends pada Selasa (3/11), ia mengatakan sejumlah pihak mendorong opsi tersebut, sementara yang lain menolaknya.
Sejumlah pejabat tinggi Iran turut berkomentar mengenai hasil pemilihan paruh waktu AS. Ketua Parlemen Iran sekaligus Kepala Negosiator dengan Washington, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai hasil pemilu menunjukkan masyarakat AS menolak perang. Ia menegaskan Iran mendukung pesan tersebut dan memperingatkan bahwa pengkhianatan terhadap kehendak publik AS akan berujung pada mimpi buruk.
Sementara itu, Mohammad Mokhber, penasihat sekaligus asisten pemimpin tertinggi Iran, menyebut Trump telah ditampar oleh rakyatnya sendiri. Ia menilai pemenang sebenarnya dalam situasi ini adalah Iran, yang menurutnya membebankan biaya perang kepada Amerika Serikat.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)